Tuesday, November 29, 2022

Kuwadi Terjerat si Belang

Rekomendasi

Ditemani gelapnya malam, pria 40 tahun itu duduk-duduk di hadapan deretan warna-warni Codiaeum variegatum. Meski malam, keindahan pola warna anggota famili Euphorbiaceae itu terlihat jelas. Ada 3 lampu menerangi pekarangan seluas 100 m2 itu. Jika kurang puas, Kuwadi menghampiri satu per satu puring koleksinya. Begitu ada yang layu atau terserang kutu, itu agenda kegiatan untuk keesokan pagi.

Tiap pagi, teras rumahlah yang dihampirinya pertama kali. Aktivitasnya mulai dari membuang daun-daun kering, menyemprot insektisida, hingga menggemburkan media puring. Tiga hari sekali pria kelahiran Klaten itu menyiram tanaman kesayangan. ‘Meski ada pembantu, saya menyiram sendiri puring-puring saya,’ katanya.

Eksklusif

Kuwadi sejatinya kolektor pemula. Penggemar motor besar itu mengumpulkan tanaman penyerap timbal itu sejak Februari 2008. Meski begitu jangan sepelekan koleksinya. Ada sekitar 80 jenis puring di tangannya. Itu jenis-jenis yang banyak dicari orang seperti concord brazil, banglore, new legend, sampai vinola atau angel wings. Tinggi tanaman rata-rata lebih dari 40 cm dengan daun rimbun dan tampilan prima.

Waktu Trubus datang pada awal September 2008, monalisa setinggi 50 cm dengan 25 daun kuning ngejreng dan tepi hijau tua anggun menyambut di depan teras. Ia bersanding dengan gagahnya new legend dan banglore berdaun merah.

Demi mendapatkan croton-croton istimewa itu Kuwadi rela blusuk-blusuk ke nurseri di seputaran Jakarta, Bogor, sampai ke Yogyakarta. Di kota Gudeg itu pula penggemar burung itu pertama kali jatuh cinta. ‘Habis warnanya spektakuler,’ tutur ayah 2 anak itu.

Demi puring idaman pula Kuwadi menebalkan muka meminta puring dari lapangan golf tempat ia biasa main. Pernah suatu ketika direktur perusahaan kayu itu menyewa angkot demi sepot puring lokal setinggi 2 m. Musababnya, mobil miliknya terlalu mungil untuk croton yang didapat dari Sawangan, Depok-berjarak 40 km dari Warungnangka, Ciawi, kediamannya. Di tengah malam yang sunyi tak gampang mencari angkot.

‘Kegilaan’ lain, ia rela menukar 5 m3 kayu besi senilai Rp60.000.000 dengan 3 angel wings, 5 lady rose, 3 kipas dewa, dan 18 red dragon ukuran 10 cm. Hampir tiap bulan ia mengagendakan perburuan ke Yogyakarta dan sekitarnya. Kediaman penyilang puring, Gandung Paryono, yang mojok di Sleman pun berhasil didatangi. Dari Gandung koleksinya bertambah: roro jonggrang, dorinda, magenta, dan roro wilis. Dari kota Gudeg juga seribu bintang, pinisi, dan banglore diboyong ke Bogor.

Pindah hobi

Di kediaman, puring-puring itu menggusur 20 tabulampot jambu air, jambu jamaika, belimbing, jeruk, dan mangga erwin. Tabulampot yang selalu berbuah itu satu per satu hilang karena puring pujaan terus bertambah.

Suami Sugiyem itu tak rela croton kesayangannya ‘jatuh’ ke tangan orang lain. Ia tak segan mengangkat pot-pot puring berisi media tanah kompos seresah bambu yang berat. ‘Biasanya urusan angkat-angkat barang di rumah diserahkan orang lain. Namun untuk puring ia rela mengangkat sendiri,’ kata Sugiyem. Jika tanaman terserang kutu, pria yang gemar olahraga bulutangkis itu mengambilnya satu per satu. Jika parah, baru digunakan insektisida. Begitulah jika ayah Rida Nur Anisa itu sudah jatuh cinta pada hobi baru. Apapun demi croton pujaan. (Nesia Artdiyasa)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img