Thursday, August 18, 2022

Laba Niaga Darah Naga

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Buah jernang segar dari Jambi. (Dok. Yayasan Gita Buana)

Harga jernang Rp150.000—Rp250.000 per kg. Semula mencari di hutan, kini makin banyak yang mengebunkan.

Trubus — Insting bisnis warga Kota Medan, Sumatera Utara, Syaifuddin (43) terasah tajam lantaran terbiasa berganti-ganti profesi. Pada 2014 ia mengenal jernang. Ia menilai perrniagaan ekstrak buah Daemonorops sp. itu menggiurkan. “Pasokan banyak tapi permintaan belum terpenuhi. Sumber bahan baku dan pasar belum benar-benar terhubung,” katanya. Celah yang bisa ia masuki sangat terbuka. Syaifuddin kian mantap mengusahakan jernang setelah mempelajari teknik pengolahan dan spesifikasi kualitas yang diminta pembeli.

Syaifuddin mengirim sekitar 30 ton serbuk jernang pada 2019. Ia bekerja sama dengan mitra. Pembeli membayar serbuk merah buah kerabat rotan itu Rp1,2 juta—Rp2 juta per kg. Kalikan saja dengan harga terendah, omzet Syaifuddin Rp36 miliar per tahun. Syaifuddin memperoleh pasokan dari pengepul di berbagai daerah di Sumatera. Secara alami jernang tumbuh di hutan-hutan pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Namun, kebanyakan pengolahan dan perdagangan buah kerabat rotan itu bermula dari Sumatera.

Plus minus

Pengolah jernang di Bireuen, Teuku Saleh. (Dok. pribadi)

Darah naga—istilah yang digunakan etnis Tionghoa untuk menyebut jernang—itu juga menjadi andalan Teuku Saleh di Kabupaten Bireuen, Aceh. Saleh mengenal jernang sejak lama lantaran almarhum ayahnya mengusahakan komoditas itu sejak 1998. Setelah ayahnya meninggal, Saleh mengambil alih usaha itu sejak 2007. Setiap bulan ia mengirim sekitar 1 ton kepada pengepul di Kota Medan, Sumatera Utara. Sebanyak 400 kg di antaranya hasil pengolahan jernang dengan bendera CV Aceh Dragon Blood miliknya.

Pengepul di Medan membayar Rp2 juta per kg sehingga omzet bulanan Saleh Rp800 juta. Saleh mendapat buah dari pekebun atau pencari jernang yang mencari di hutan. Sejak 2—3 tahun terakhir, setoran buah dari pekebun makin bertambah, sebaliknya jumlah buah dari hutan berkurang. Hal itu berefek positif terhadap rendemen dan kualitas hasil pengolahan. Pencari di hutan mengambil semua buah jernang yang mereka jumpai tanpa melihat umur maupun jenisnya. Padahal, rendemen tertinggi berasal dari jernang rambai alias gading Daemonorops draco.

“Kalau tidak dia ambil, nanti orang lain yang mengambil,” kata pekebun, pembibit, dan pengolah jernang di Bireuen, Jamaluddin. Padahal dari pengalamannya, umur optimal buah jernang agar kadar resin optimal adalah enam bulan. Jika 10 tahun lalu pembeli sekadar membanderol harga resin, maka 2—3 tahun belakangan pembeli membayar sesuai kadar zat aktif. Buah anggota famili Arecaceae itu memiliki zat aktif khas bernama drakorodin (dracorhodin).

Semua jernang memiliki zat drakorodin. Yang membedakan adalah rendemen resinnya. Menurut Syaifuddin rendemen resin jernang gading, rambai, atau umbut—yang tergolong jernang super—berkisar 6—7%. Pemrosesan 15 kg buah menghasilkan 1 kg resin. Sementara jernang biasa seperti jernang burung, kelukup, atau gajah (D. didymophylla) hanya 1%. Pemrosesan 100 kg hanya menghasilkan 1 kg resin.

Penjemuran serbuk jernang pascaolah di CV Aceh Dragon Blood.

“Setiap jenis jernang mempunyai plus dan minus,” kata Syaifuddin. Ketua Asosiasi Jernang Indonesia (AJI, Indonesia Dragonblood Association, IDA) itu menjelaskan, meski rendemen resin tinggi, produktivitas tanaman jernang super rendah. Produksi buah jernang super maksimal 6 kg per tanaman per tahun, sebaliknya jernang biasa lebih dari 30 kg buah per tanaman per tahun. Hitungan akhirnya menjadi setara. Setiap kg resin memerlukan buah dari 3—4 tanaman baik jernang biasa maupun super.

Tergantung kadar

Sebagai ketua AJI, Syaifuddin menyarankan masyarakat menanam jernang asli daerah masing-masing. Pertimbangannya daya adaptasi tanaman dan kecocokan dengan agroklimat setempat. “Tidak harus semuanya menanam jernang super,” kata pria kelahiran Kabupaten Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam itu. Di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Ali Nurdin (33) membuktikan kebenaran pernyataan Syaifuddin. Ia mengolah jernang burung yang tumbuh liar di Ciamis dan sekitarnya.

Harga serbuk jernang dibanderol berdasarkan kandungan zat drakorodin. (Dok. Teuku Saleh)

Pengolah jernang sejak 2015 itu menyatakan, sekuintal buah jernang burung hanya menghasilkan 0,6—0,9 kg resin. “Tergantung tempat tumbuh. Di bukit yang sama, tanaman yang tumbuh di sisi berbeda bisa berbeda produksi buahnya,” kata pemilik CV Purnama Jaya Resin dan Herbal itu. Ia mendatangkan buah segar jernang super dari Jambi dan serbuk jernang dari Bengkulu untuk memenuhi permintaan pembeli.

Ali menyatakan pembeli membayar sesuai kadar drakorodin. Pada 2020 harga per kilogram resin mengandung 1% drakorodin Rp650.000, kadar 2% harga dua kali lipat, dan seterusnya. Harga itu lebih murah daripada tahun lalu, Rp700.000. Pemicunya pandemi global yang mempersulit pengiriman akibat pembatasan maupun kuncitara (lockdown) di negara tujuan. Selain itu, Tiongkok—satu-satunya pembeli jernang—mengalami perlambatan ekonomi akibat perang dagang dengan Amerika Serikat.

“Amerika menjadi pasar utama produk-produk Tiongkok, termasuk herbal yang mengandung jernang,” kata Syaifuddin. Perang dagang mengakibatkan pengurangan permintaan produk Tiongkok oleh pasar Amerika Serikat. Efek domino bergulir sampai ke negara pemasok, yaitu Indonesia. Meski demikian, Ali tidak takut serbuk produksinya tidak laku. “Tiongkok sangat memerlukan jernang. Hampir 70% produk herbal mereka menggunakan jernang sebagai salah satu bahan penyusun,” kata ayah dua anak itu.

Menurut Ali di seluruh dunia hanya tiga negara produsen jernaeng, Indonesia dan Malaysia. Di Tiongkok juga ada pemasok jernang ke industri herbal mereka, tapi asal pasokannya pun dari Indonesia. Sementara itu di Malaysia tanaman tidak banyak akibat konversi lahan. Selepas pandemi dan perang dagang, ia yakin harga jernang kembali menjulang. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img