Monday, August 8, 2022

Laba Terjanji dari Lobster Konsumsi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sebanyak 20 restoran dan hotel di Pulau Dewata itu kini rutin dipasok. “Kebutuhan restoran dan hotel berbintang sangat besar. Rata-rata meminta 40—50 kg/minggu,” ujarnya. Dengan menjual Rp160-ribu—Rp170-ribu/kg ukuran 13—15 cm, ia meraup omzet minimal Rp12-juta—Rp15- juta/bulan dari 1 restoran.

Wajar bila ia mampu meraup keuntungan besar dari lobster. Kejelian membidik pasar dan menjaga kontinuitas pasokan menjadi kunci keberhasilan Dean. Apalagi Pulau Dewata menjadi surga bagi turis mancanegara untuk berlibur. “Ratusan turis luar negeri dan ekspatriat mengunjungi Bali setiap tahun. Itu pasar yang besar,” katanya. Otomatis kebutuhan lobster di restoran dan hotel-hotel bintang lima juga besar.

Untuk menjamu tetamu, restoran membutuhkan rata-rata 5—10 kg/3—4 hari. Lobster-lobster itu disajikan dengan beragam menu sesuai ukuran. Restoran besar biasanya menjamu pelanggan dengan lobster ukuran jumbo, 1—2 ekor per piring. “Itu lobster besar. Bobotnya mencapai 100—250 gr per ekor. Sedangkan restoran menengah biasanya sepiring isi 5—8 ekor,” kata kelahiran Australia 36 tahun silam.

Pasar lobster konsumsi memang besar di Bali. Jumlah restoran yang meminta dipasok oleh Dean mencapai 40—50 bila ia mampu menyediakan lobster dengan harga Rp120-ribu—Rp150-ribu/kg. Menurut Dean kebutuhan lobster kian mencorong bila restoran dan hotel langganan menyelenggarakan acara penting seperti resepsi pernikahan, rapat, atau acara-acara penting para ekspatriat. “Kalau restoran besar umumnya meminta 50 kg sekali acara,” ucap suami Chilien Reandon.

Permintaan tinggi

Kisah sukses memasok lobster ke restoran dan hotel ternama juga dialami FX Santoso, peternak lobster di Surabaya. Sejak 3 bulan silam, mantan kontraktor bangunan itu mampu memasok 10—15 kg/minggu ukuran 14—16 cm. Ia menjual lobster 1 kg isi 10 ekor seharga Rp250-ribu—Rp300-ribu/kg ke sebuah hotel berbintang 5 di ibukota Jawa Timur. Hasilnya, Santoso berhasil meraup omzet minimal Rp10-juta setiap bulan.

Besarnya laba yang diperoleh dari memasok lobster ke restoran atau hotel bukan isapan jempol. Musababnya, kebutuhan restoran dan hotel belum terpenuhi semuanya. Menurut peternak kawakan itu, sebenarnya kebutuhan lobster untuk restoran lebih dari 10 kg/minggu. “Satu acara saja hotel butuh sedikitnya 100 kg. Sedangkan dalam 1 bulan bisa banyak acara. Itu belum termasuk bila hotel launching menu baru lobster,” tutur kelahiran Surabaya 50 tahun silam itu.

Permintaan lobster konsumsi juga menggaung kencang di luar negeri. Erna Marini, eksportir lobster kini kebanjiran order. Lantaran mengikuti pameran dan temu bisnis produk perikanan di Jepang. Pentolan Usaha Kecil Menengah (UKM) Bekasi itu kini rutin memasok 25 kg/bulan ke salah satu restoran di negeri Matahari Terbit. “Mereka minta berapa saja. Tergantung kita mampu atau tidak,” kata Erna. Dengan menawarkan harga Rp260-ribu/kg, ia menangguk omzet Rp6,5-juta per bulan.

Pasar internasional

Lobster air tawar memang menjadi primadona. Tak hanya restoran dan hotel dalam negeri yang memburunya, negara-negara Eropa seperti London, Inggris, Amsterdam, dan Belanda pun meminta. Mereka menginginkan Cherax quadricarinatus alias redclaw 90—100 g/ekor dalam jumlah tak terbatas. “Sampai saat ini permintaan 1 restoran besar yang memiliki banyak cabang di Eropa mencapai 100—1.000 kg per hari. Itu belum bisa dipasok Australia. Ini peluang,” tutur Dean. Menurut ekspatriat Australia yang telah bermukim selama 11 tahun di Indonesia itu harga minimal mengekspor ke luar negeri US $16/kg.

Peluang Indonesia mengekspor memang besar. Itu lantaran potensi alam menernakkan lobster seperti lahan kondisi air, dan agroklimat sangat cocok. Selain itu, harga lobster Indonesia lebih murah dibanding Australia. “Kalau impor dari Australia harganya sangat tinggi, mencapai Rp250-ribu per kg,” ujarnya. Harga itu bersaing dengan harga yang ditawarkan Dean Rp160-ribu—Rp170-ribu/kg; Rp95-ribu—Rp120-ribu/kg untuk lobster beku.

Peluang membidik pasar lobster konsumsi internasional memang terbuka lebar. Tak hanya negara-negara di Eropa, permintaan negara penikmat lobster asal Asia pun membludak. David Paryanto, eksportir lobster di Jakarta diminta mengirim 50 kg/minggu ke Hongkong, Malaysia, dan Singapura. “Permintaan ekspor lobster bisa lebih dari 50 kg/minggu. Kalau ada barang kita bisa pasok ke sana,” katanya. Menurut David permintaan paling besar datang dari hotel-hotel mewah. Ratarata mereka meminta lobster ukuran 1 kg isi 10—12 ekor.

Tak hanya lobster konsumsi, pasar internasional juga menginginkan lobster anakan, ukuran 5—6 cm. Buktinya seorang eksportir di Jakarta Timur mengekspor 10.000—15.000 anakan ke Jepang dan Brunei Darussalam sejak beberapa tahun silam. Menurutnya orang Jepang sangat menyukai lobster kecil lantaran cocok untuk menu sushi.

Butuh bibit

Nikmatnya memasok lobster konsumsi ke restoran dan hotel tak hanya milik pengepul tetapi juga peternak pembenihan dan pembesaran. Permintaan bibit ukuran 5—6 cm di beberapa peternak melonjak drastis. Maklum, untuk memenuhi kontinuitas pasokan, bibit sangat diperlukan. Ir Cuncun Setiawan, pemilik Bintaro Fish Centre, Jakarta Selatan misalnya kewalahan memenuhi permintaan langganan. Seorang peternak saja di Surabaya meminta 2.000 ekor/ minggu anakan. Bahkan 5.000 lobster kecil di salah satu farm miliknya di Bintaro habis dalam waktu 3 hari. Bila ditotal, permintaan yang masuk ke Cuncun bisa 10.000 anakan lebih per bulan. “Permintaan anakan melonjak tinggi sejak lobster konsumsi banyak diminta. Bisa 3—4 kali lipat,” ujarnya. Dengan menjual anakan Rp3.000—Rp3.500/ekor, ia mampu mengantongi sedikitnya Rp30-juta/ bulan.

Tak hanya Cuncun yang kebanjiran order anakan. Suluh Eko Prabowo, peternak lobster di Yogyakarta juga kerepotan memasok permintaan lobster kecil ke peternak Yogyakarta, Klaten, Purwokerto, Purworejo, dan Tawangmangu. Rata-rata ia mengirim 1.000 ekor bibit/bulan dengan harga Rp3.000/ekor. Itu belum termasuk permintaan indukan 5—6 set/bulan.

“Permintaan indukan dan bibit meningkat 20% dibanding 5—6 bulan lalu,” ujar Suluh. Menurut sarjana Teknik Industri, Universitas Katolik Atmajaya, Yogyakarta, itu lonjakan permintaan didorong oleh pasar lobster konsumsi yang bagus di Kota Gudeg. Dengan membandrol indukan Rp450-ribu— Rp500-ribu/set, total pendapatan dari anakan dan indukan minimal Rp5-juta—Rp6-juta/bulan. Omzet penjualan pun terdongkrak naik hingga 30%.

Nun di Manado, ibukota Sulawesi Utara, Prof Dr Eko Prasetyo Sp BS juga kelimpungan memenuhi permintaan 800—1.000 ekor/bulan anakan ukuran 5—6 cm. Menurut dokter bedah syaraf anak satusatunya di Manado itu permintaan paling banyak lobster ukuran 2—3 cm, 1.000—1.200 ekor/bulan. “Kebanyakan peternak dari Manado, Makassar, dan Ternate. Mereka tertarik membesarkan sendiri,” ujar alumnus Barrow Neuro Logical Institute, Arizona, Amerika Serikat. Dengan menjual bibit lobster Rp3.500—Rp5.000/ekor, kelahiran Surabaya 20 November 1958 itu meraup omzet R p 2 – j u t a—Rp3- juta/bulan.

Kontinuitas

Tak ada yang menyangkal bila nikmatnya memasok lobster konsumsi setara dengan pengorbanan memenuhi “janji” kontinuitas dari restoran dan hotel. “Kontinuitas itu yang paling sulit. Kalau kirim 1—2 kali mungkin masih bisa, tetapi kalau rutin itu yang repot,” ucap Suluh. Makanya walaupun di farm tersedia 50 kg lobster konsumsi, ia belum berani menandatangani perjanjian. Tak pelak, permintaan 2—3 restoran besar di Yogyakarta terpaksa dibatalkan. “Asalkan bisa kontinu, 1—2 kg/hari pun mereka terima,” tambahnya. Harapan untung dari memasok lobster pun hilang tak berbekas.

Tak hanya Suluh yang kesandung “peraturan” kontinuitas dari restoran dan hotel. Bernard Raharjo, peternak lobster di bilangan Meruya Utara, Jakarta Barat, pun terpaksa memutuskan kontrak dengan sebuah restoran di Kelapagading. Ia hanya mampu mengirim 15—20 kg sekali pasok. Selanjutnya ia tidak mampu lagi. “Waktu itu barangnya nggak ada,” ujarnya. Menurut Bejo—begitu ia disapa—lantaran tidak bisa menjaga kontinuitas, harga penawaran pun turun, dari Rp200-ribu—Rp250-ribu/kg menjadi Rp150-ribu/kg.

Kontinuitas memang bak kerikil tajam yang siap menghadang. Ir Johan Eff endy, peternak lobster di Yogyakarta misalnya tidak mampu memenuhi permintaan 2—3 kg/minggu lantaran terganjal kontinuitas. “Mereka minta lobster isi 12—15 ekor/ kg segar dengan harga Rp200-ribu/kg. Untuk bahan sushi,” katanya. Sayang, harapan meraup omzet Rp2- juta/bulan pun luput.

Buka lahan

Pentingnya menjaga kontinuitas dan kepercayaan pasar dirasakan Dean dan Santoso. Oleh karena itu, Santoso berencana membuka lahan lobster lebih luas lagi. Menurut kelahiran Surabaya 54 tahun silam itu 10 kolam miliknya berukuran 1,5 m x 2,5 m di Rungkut, Surabaya, belum bisa menutupi kekurangan permintaan. Makanya di lahan 4 ha di Mojosari, Jawa Timur, akan dibangun 32 kolam pembenihan dan pembesaran.

Cuncun pun demikian. Ia membuka lahan pembesaran 1 ha di Pamulang dan Bogor. Semua untuk memenuhi kebutuhan benih maupun lobster konsumsi para peternak plasma yang berjumlah ratusan. “Beternak lobster memang membutuhkan lahan luas,” ucapnya. Menurut pria gemar membaca itu luasan minimal untuk pembesaran 100—300 m2/ kolam dengan jumlah populasi 5—10 ekor/m2.

Selain memperbesar luasan kolam, merangkul peternak lobster lain untuk menjadi plasma juga penting. Erna misalnya menjalin kerjasama dengan para peternak lobster di Irianjaya, Cilegon, dan Bekasi. “Untuk menyanggupi 1 kg isi 9—12 ekor, peternak plasma sangat penting,” katanya. Menurut kelahiran Pontianak 36 tahun silam itu pasokan 25—70 kg/bulan dari Irianjaya dan 15 kg/bulan dari Cilegon diharapkan mampu menjaga kontinuitas pasokan ke Jepang.

Tak hanya Erna, Santoso pun melakukan hal yang serupa. Untuk tetap langgeng memasok lobster ke restoran langganan, ia bekerjasama dengan peternak plasma di Gresik, Lamongan, Madiun, Pasuruan, dan Tulungagung. Bahkan tak sedikit peternak ikan gurami, mujair, dan ikan konsumsi lainnya dirangkul untuk terjun menekuni lobster. “Setidaknya empang mereka dapat digunakan untuk kolam pembesaran lobster,” ucap Santoso.

Itu diamini Cuncun. Peternak ikan konsumsi seperti emas, mujair, dan gurami berpotensi membesarkan lobster. Musababnya, mereka telah memiliki empang yang kaya dengan zat-zat organik, efi sien, dan murah. “Mereka bisa polikultur dengan lobster,” ucapnya. Bila peternak ikan konsumsi ikut menekuni lobster, bukan hal mustahil kelangkaan dan kontinuitas dapat diatasi. Artinya, laba beternak lobster konsumsi dapat menjadi kenyataan. (Rahmansyah Dermawan/Peliput: Dian Adijaya Susanto, Destika Cahyana, dan Lastioro Anmi Tambunan)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img