Friday, August 12, 2022

Laba Tinggi Sejoli

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Laba Ede Kadarusman dari duet jagung dan akarwangi, makin tinggi.

Empat hektar lahan milik Suganda menghasilkan 45 ton akarwangi. Pria 60 tahun itu menanam Andropogon zizanioides secara monokultur alias tanpa tanaman lain. Harga akarwangi basah di tingkat  pekebun saat ini Rp3.000 per kg. Total jenderal omzet Suganda mencapai Rp135-juta per 4 ha lahan alias Rp33-juta per ha. Dengan masa pengusahaan 12 bulan sejak tanam hingga panen, maka setiap bulan omzet Suganda setara Rp2,75-juta.

 

Menurut Suganda biaya produksi akarwangi per ha hanya Rp16,6-juta meliputi pembelian bibit, dua kali pemupukan, dan tenaga kerja. Tanaman penghasil minyak asiri kelas atas itu juga nyaris bebas penyakit sehingga bebas dari biaya pestisida. “Perawatan sangat mudah tapi hasilnya memuaskan,” kata Suganda. Itu sebabnya ia enggan berpaling dari kerabat rumput itu. Petani akarwangi di Kampung Legokpulus, Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, itu membudidaya akarwangi sejak belasan tahun silam.

Pupuk

Ede Kadarusman justru menumpangsarikan akarwangi dengan jagung manis di lahan 10 ha. Agar akarwangi dan jagung tumbuh baik serta tidak saling mengganggu, Ede melonggarkan jarak tanam menjadi 70 cm x 40 cm. Lazimnya hanya 60 cm x 40 cm. Dengan demikian di lahan sehektar ia bisa “menyisipkan” 14.000 batang jagung di sela akarwangi. Petani menanam jagung secara monokultur dengan populasi 40.000-50.000 tanaman per ha.

Populasi akarwangi memang berkurang dari 30.000 menjadi hanya 28.000 tanaman per ha. Akibatnya volume panen pun turun menjadi 40 ton akarwangi basah dari lahan 4 ha alias 10 ton per ha. Lazimnya petani panen akarwangi 12 ton per ha. Walau demikian, 8 bulan sebelum komoditas peninggalan kolonial Belanda itu panen, Ede terlebih dahulu menuai 5,6 ton jagung manis per ha atau 22,4 ton dari total lahan 4 ha. Total pendapatan petani 56 tahun itu menjadi lebih banyak dibanding petani lain.

Sebelum menanam, Ede membenamkan 8 ton pupuk kandang per ha sebagai pupuk dasar. Ia memilih kotoran ayam lantaran lebih mudah diperoleh. Jika tidak ada kotoran ayam, bisa menggunakan kotoran kambing atau sapi. Pemupukan dasar itu tidak dilakukan Suganda. Tiga hari kemudian barulah Ede menanam akarwangi, komoditas yang telah ditanam di Kampung Legokpulus sejak 1918 itu.

Dua bulan pascatanam-saat rumpun akarwangi kira-kira berdiameter 10 cm-Ede melakukan ngored alias pembersihan gulma. Saat itulah Ede sekaligus menanam jagung. “Daripada hanya ngored, lebih baik sambil menanam jagung. Toh capainya sama,” tutur Ede. Jagung itu hanya ia pupuk sekali, yaitu pada bulan kedua pascatanam. Pemupukan berupa 0,5 ton NPK majemuk per ha. Jumlah itu hanya separuh dosis pola monokultur. Pasalnya, Ede sudah melakukan pemupukan dasar.

Pada bulan ke-4 pascatanam jagung (akarwangi berumur 6 bulan), ia panen jagung sembari membersihkan serasah dan gulma di sekitar akarwangi. Berikutnya, ia kembali melakukan pemupukan susulan untuk akarwangi dengan dosis sama. “Biasanya petani hanya memebersihkan gulma sambil memupuk. Kalau saya sambil panen jagung,” tutur lelaki yang menjadi generasi ke-4 dalam keluarganya yang menanam akarwangi.

Pola

Pemilihan komoditas tumpangsari biasanya mempertimbangkan perbedaan morfologi dan fisiologi tanaman. Tujuannya, “Agar tidak terjadi kompetisi nutrisi yang justru bakal mengurangi produksi,” kata Cucu Suherman Viktor Zar, MSi, dosen program studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Bandung. Contohnya berasal dari famili yang berbeda, seperti jagung dengan kacang tanah, cabai dengan selada, atau tomat dengan bunga kol.

Akarwangi dan jagung memang sefamili, yakni Poaceae alias rumput-rumputan. Namun, morfologi keduanya berbeda sehingga aman ditumpangsarikan. Perakaran jagung dangkal, hanya di permukaan tanah. Sementara perakaran akarwangi dalam sehingga tidak bersaing dalam mencari nutrisi. Selain itu, umur jagung hanya 4 bulan lebih pendek di banding akarwangi yang dipanen pada umur 12 bulan.

Kebutuhan unsur hara akarwangi berumur kurang dari 6 bulan, juga relatif sedikit. “Saat itu tanaman belum membentuk lemak atau minyak,” kata Cucu. Pada umur 6 bulan pascatanam, akarwangi mulai mengalami metabolisme sekunder yang mengubah karbohidrat menjadi lemak dan minyak. Menurut Cucu, proses itu terjadi di dalam oil body atau jaringan tumbuhan tempat penyimpanan minyak esensial di permukaan akar.

Bagi Ede, komoditas utama tetap akarwangi. Maklum, ia juga menyuling kerabat gandum itu menjadi minyak berharga tinggi. Ia memilih jagung sebagai tanaman tumpangsari lantaran, “Hama relatif sedikit, panen konstan, dan harga relatif stabil,” kata Ede. Di sana, harga jagung berkisar Rp1.000-Rp1.500 per kg. Ia pernah mencoba komoditas lain seperti kentang, cabai, dan tomat. Sayang, ketiganya perlu perawatan khusus dan intensif. Kentang dan cabai rentan serangan hama ia harus menyemprot 2 hari sekali. Sementara fluktuasi harga tomat sangat tajam sehingga terlalu riskan.

Tarigan dan Effendi, periset dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Bogor, pernah membandingkan 4 pola tanam tumpangsari, yakni  pola A (akarwangi + kubis – kacang merah), pola B (akarwangi + kubis – kentang), pola C (akarwangi + tomat – kacang merah), dan pola D (pola petani/monokultur). Hasilnya, pola A memberikan hasil panen akarwangi dan tanaman sela yang paling baik dibandingkan dengan pola lainnya.

Adapun pendapatan bersih tertinggi diperoleh pada usahatani dengan pola akarwangi, tomat, dan kacang merah. Menurut Cucu, yang paling penting dalam siklus hidup tanaman adalah ketersediaan unsur hara yang cukup. Dengen pemberian unsur hara yang optimal serta cara budidaya  yang baik kedua komoditas akan tumbuh baik secara bersama-sama. (Muhamad Khais Prayoga)

Keterangan Foto :

  1. Penanaman akarwangi dalam polibag
  2. Akarwangi melakukan metabolisme sekunder untuk mengubah karbohidrat menjadi lemak
  3. Ede Kadarusman mendapat omset Rp38,4-juta per ha
  4. Akarwangi memiliki perakaran yang dalam
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img