Friday, May 8, 2026

Lactowaf, Inovasi Wafer Pakan Tinggi Asam Palmitat Karya Mahasiswa IPB

Rekomendasi
- Advertisement -

Mahasiswa IPB University dari Program Studi Nutrisi dan Teknologi Pakan menghadirkan inovasi pakan bernama Lactowaf, wafer pakan tinggi asam palmitat. Produk ini dinilai mampu meningkatkan produksi sekaligus kualitas susu sapi perah.

Inovasi tersebut dikembangkan oleh tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K). Tim beranggotakan Muhammad Nurfadhilah, Muhammad Recky Renaldy, Salsa Birul Wahlidaini Merdekawati Apriliana, dan Lise Meitner Aribah Nasution, di bawah bimbingan Prof. Yuli Retnani, dengan ketua tim Muhammad Ligan Haikal.

Menurut Ligan, ide Lactowaf lahir dari fakta bahwa produksi susu nasional masih jauh dari kebutuhan masyarakat. “Indonesia masih mengimpor hingga 74 persen kebutuhan susu, padahal konsumsi terus meningkat,” ujarnya.

Ia menuturkan, salah satu penyebab rendahnya produksi susu adalah kualitas pakan yang belum optimal. Karena itu, tim menghadirkan suplementasi pakan berbentuk wafer dengan kandungan nutrien baik dan asam lemak terproteksi.

Ligan menjelaskan, suplementasi asam palmitat penting untuk meningkatkan kecernaan bahan kering dan efisiensi pakan. Hal tersebut berdampak positif terhadap performa sapi perah dan kualitas susu yang dihasilkan.

Dua Keunggulan Lactowaf

Lactowaf memiliki dua keunggulan utama dari sisi nutrisi dan bentuk. Secara nutrisi, produk ini mengandung lemak nabati terproteksi yang meningkatkan kadar asam lemak tidak jenuh seperti oleat dan linoleat dalam susu.

Dari sisi bentuk, wafer dinilai lebih praktis dan tahan lama. Pakan ini tidak mudah tercecer serta tetap mudah dikonsumsi sapi, bahkan saat hewan mengalami gangguan mulut seperti penyakit mulut dan kuku (PMK).

Dalam pengembangan usaha, tim telah menyusun strategi bertahap. Jangka pendek difokuskan pada penjualan di wilayah Bogor dan sekitarnya, termasuk membangun branding dan pengurusan izin edar.

Untuk jangka menengah, tim menargetkan perluasan distribusi ke Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan skala produksi lebih besar. Sementara jangka panjang diarahkan pada ekspansi ke seluruh Indonesia melalui dukungan investor atau perusahaan besar.

Respons awal dari peternak terhadap Lactowaf sangat positif. Mereka menilai produk ini praktis, meningkatkan nafsu makan, serta memperbaiki kualitas susu sapi.

Bentuk wafer juga dinilai mengurangi pemborosan pakan yang sering terjadi pada bentuk mash atau konsentrat. Efisiensi ini menjadi nilai tambah bagi peternak dalam mengelola biaya produksi.

Meski demikian, tim tetap menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya menjaga kualitas bahan baku dan konsistensi nutrisi wafer karena keterbatasan peralatan yang membuat produk mudah hancur.

Tantangan lain adalah membangun kepercayaan peternak terhadap produk baru. Edukasi, promosi, dan demonstrasi langsung menjadi kunci agar produk dapat diterima di pasar.

Ke depan, tim berharap Lactowaf tidak berhenti pada program PKM-K. Mereka ingin mengembangkannya menjadi usaha rintisan pakan berkelanjutan dengan dukungan penelitian dan jaringan pemasaran.

Ligan optimistis Lactowaf bisa bekerja sama dengan koperasi susu dan industri pakan nasional. “Kami ingin Lactowaf berperan nyata dalam mengurangi ketergantungan impor susu dan meningkatkan kesejahteraan peternak lokal,” pungkasnya.


Artikel Terbaru

Para Guru Berjibaku

Guru-guru dari berbagai pelosok Barito Utara menempuh perjalanan “tak biasa” ke Muarateweh untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Erni Iris menempuh...

More Articles Like This