Friday, December 9, 2022

Lahan Tambang Jadi Hutan

Rekomendasi
Jabon tumbuh subur di lahan bekas tambang
Jabon tumbuh subur di lahan bekas tambang

Strategi mengelola lahan bekas tambang menjadi hutan dengan menanam pohon pioner dan spesies lokal.

Lahan 3.500 ha di Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan, itu semula tandus dan gersang bak gurun. Di lahan itu bertahun-tahun PT Vale Indonesia menambang bijih nikel. Berdiri di lokasi bekas tambang itu sangat panas. Namun, kini kondisi itu berbalik drastis setelah beragam pohon seperti nangka Artocarpus heterophyllus, mangga Mangifera indica, dan durian Durio zibethinus tumbuh menjulang.

“Penanaman pohon buah-buahan bukan untuk membuat kebun buah, tapi lebih untuk mengembalikan kehidupan satwa liar,” kata Aris Prio Ambodo SHut, manajer rehabilitasi tambang PT Vale. Mereka tumbuh subur berdampingan dengan pohon sengon Paraserianthes falcataria, akasia Acacia mangium, dan johar Cassia siamea sebagai tanaman pioner. Fungsinya mengembalikan kesuburan tanah dan menyediakan naungan bagi pohon yang ditanam belakangan.

Tanaman pioner

Penanaman pohon-pohon itu bertujuan merehabilitasi lahan dan mengembalikan hutan. Maklum, perusahaan hanya beroperasi sampai bahan tambang habis. Setelah itu, lahan dikembalikan kepada negara atau masyarakat. Untuk menghijaukan kembali lahan bekas tambang, PT Vale mempersiapkan 29 ton kompos per ha. Sebab, tanah tandus dan gersang itu miskin bahan organik.

Kompos memiliki beragam fungsi untuk mengembalikan kesuburan tanah. Aktivitas mikrob di dalamnya menjadikan unsur-unsur hara terikat secara kelat sehingga tanaman mudah menyerapnya. Menurut Ir Yos Sutiyoso, pakar nutrisi di Tebet, Jakarta Selatan, ikatan kelat pada bahan organik berbeda dengan ikatan ionik dalam pupuk kimia. “Ikatan kelat lemah sehingga mudah terurai oleh rambut akar,” kata Yos.

Pasokan hara terjamin sehingga tanaman tumbuh normal. Sebulan setelah pemberian kompos, pekerja reklamasi menanam bibit tanaman pioner setinggi 50-75 cm berjarak 5 m x 5 m alias 400 tanaman per ha. Selanjutnya mereka melakukan pemupukan lanjutan dengan membenamkan 2 kg pupuk campuran yang terdiri dari Urea, KCl, dan kondisioner tanah setiap 6 bulan atau pada permulaan dan pengujung musim hujan. Itu mereka lakukan hingga tanaman berumur 2-3 tahun atau tingginya lebih dari 5 m. Tanaman yang mati segera diganti dengan yang baru. Setelah tanaman pioner tumbuh setinggi 5 m atau berumur 3 tahun, Vale menanam jenis lain seperti kakao, karet, atau kayu lambat tumbuh seperti meranti, keruing, atau ulin.

“Tujuan restorasi bukan sekadar mengembalikan, tapi justru membuat kondisi hutan menjadi lebih baik ketimbang sebelum penambangan,” kata Dr Irdika Mansur MForSc, periset di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Sebelum penambangan lahan itu hanya berisi tanaman nonproduktif. Namun, pascarestorasi lahan tambang menjadi hutan yang lebih kaya sehingga mampu menyokong hidupan liar lebih baik ketimbang sebelumnya.

Jenis lokal

Banyak perusahaan yang merestorasi lahan bekas tambang dengan sengon dan akasia. Musababnya, pertumbuhan keduanya begitu cepat, ketersediaan benih atau bibit melimpah, selain itu cara budidaya pun relatif mudah. Keduanya tanaman introduksi: sengon dari daerah Kepulauan Pasifik, sementara akasia berasal dari Australia dan Selandia Baru. Pilihan lain dari jenis introduksi ada gmelina Gmelina arborea dan trembesi Samanea saman. “Yang penting jenis cepat tumbuh,” kata Irdika.

Dari jenis lokal yang juga cepat tumbuh adalah ekaliptus Eucalyptus pellita, gempol Nauclea orientalis, binuang laki Duabanga moluccana, binuang bini Octomeles sumatrana. Itulah sebabnya Kementerian Kehutanan melalui Peraturan Menteri Kehutanan nomor 63/2009 mewajibkan setidaknya 40% tanaman dalam hutan hasil reklamasi tambang mesti berupa tanaman lokal atau berasal dari daerah di sekitar lahan tambang.

Selain cepat tumbuh, pohon untuk restorasi lahan bekas tambang harus menghasilkan serasah yang mudah terurai. Setelah pohon pioner tumbuh, lahan di antara pohon bisa ditanami tanaman pengkayaan ulin Eusideroxylon zwageri atau merbau Intsia bijuga. Pertumbuhan pohon-pohon itu lambat-pertambahan diameter kurang dari 1 cm per tahun-menjadikan jenis-jenis itu memerlukan naungan selama 5 tahun pertama. Menurut Irdika, kebanyakan perusahaan menambang secara terbuka. Artinya membersihkan vegetasi lalu menggali untuk mengambil mineral di bawah permukaan tanah.

“Tanah hasil galian ditumpuk di lahan tersendiri lalu dikembalikan saat penambangan selesai,” kata doktor alumnus University of Kent, Inggris itu. Sebagian aktivitas pertambangan menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya, seperti merkuri, timbel, krom, atau peroksida logam. Bahan-bahan itu biasanya justru digunakan oleh penambang skala kecil. Merkuri alias raksa, misalnya, hanya digunakan oleh penambang emas tradisional. Sementara perusahaan besar lebih memilih sianida untuk memisahkan emas dari batuan pengikatnya.

Racun terurai

Menurut Ir Endang Dwi Siswani MT, pakar kimia industri Jurusan Kimia Universitas Negeri Yogyakarta, sianida memang beracun bagi makhluk hidup, tapi bahan itu tidak stabil sehingga cepat terurai dan habis di udara terbuka. Artinya, pertambangan yang baik akan memilih bahan yang menimbulkan dampak seminim mungkin terhadap lingkungan. Jika tanah telanjur beracun, pohon pioner mampu beradaptasi. Jabon, misalnya, mampu membungkus partikel beracun dalam biomassa. Lama-kelamaan tanah justru bersih dari bahan beracun.

“Tak kalah penting, jangan remehkan kemampuan mikrob merombak tanah terkontaminasi,” ungkap Irdika. Itu dibuktikan oleh riset Ir Luluk Setyaningsih MSi, dosen Universitas Nusa Bangsa, Bogor, Jawa Barat. Luluk menguji tanah yang terkontaminasi limbah pertambangan emas tradisional di Pongkor, Kabupaten Bogor.

Pemberian kompos aktif mengurangi partikel pasir, menurunkan pH menjadi 6,5, meningkatkan KTK hingga 600%, dan menurunkan kelarutan timbel. Artinya, kompos dan mikrob di dalamnya mampu memperbaiki karakter tanah meski tidak menghilangkan bahan beracun. Menurut Prof Dr Iswandi Anas Chaniago, periset di Departemen Tanah dan Sumberdaya Lahan Institut Pertanian Bogor, lahan bekas tambang sejatinya tidak begitu rusak.

“Hanya saja, hierarki tanah menjadi kacau akibat proses pengerukan dan pengurukan kembali,” kata Iswandi. Maksudnya lapisan yang semula ada di permukaan tanah tercampur baur dengan tanah liat di bawah. Ekosistem mikrob pun absen. Bahan organik mengundang kembali serangga dan mikrob yang membuat rongga-rongga dalam tanah sehingga memperbaiki porositas. Efeknya, lahan bekas tambang bisa kembali ditumbuhi pohon dan tak lagi menyerupai gurun. (Argohartono Arie Raharjo)

Keterangan Foto :

  1. Jabon tumbuh subur di lahan bekas tambang
  2. Lahan bekas tambang batubara di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur
  3. Irdika Mansur dan sengon di lahan bekas tambang batubara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mentan Ingin Produk Hortikultura Segera Tembus Pasar Mancanegara

Trubus.id — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menginginkan produk hortikultura, seperti buah dan sayur bisa tembus pasar mancanegara. Mengingat,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img