Thursday, July 25, 2024

Lahan Tandus Jadi Pertanian Terintegrasi, Tani Ternak Terpadu Tanpa Limbah dan Bau

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Lahan yang semula tandus dapat  berubah menjadi sawah, kolam lele, dan kandang ayam. Pelaku pertanian terintegrasi itu salah satunya  Ir. Heri Sunarto. Petani di Desa Jagan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, itu menamakan Tani Ternak Terpadu Tanpa Limbah dan Bau (T4LB).

Bagaimana mengubah lahan tandus menjadi terintegrasi? Salah satu yang tidak bisa dipungkiri dan amat penting adalah ketersediaan air. Heri membuat sumur bor berkedalaman 100 meter untuk memperoleh air.

Langkah selanjutnya membuat kolam ikan sebagai tempat penampungan air.  Air dari kolam yang mengandung sisa metabolisme ikan itulah yang digunakan untuk menggemburkan tanah yang semula tandus dan mengubahnya menjadi sawah. Proses itu sekitar 3 bulan untuk pembuatan kolam autoflow dan persiapan penanaman padi.

Ia mengalirkan air dari kolam ikan menuju sawah secara langsung. Kolam sistem autoflow mengalirkan air menggunakan gravitasi tanpa pompa. Harap mafhum nitrogen dari air sisa metobolisme ikan amat dominan.

Salah satu siasat agar nitrogen ideal untuk padi dengan membuat mina padi selebar 3 meter di sekitar sawah. Mina padi selebar 3 meter itu berfungsi sebagai penyaring biologis sebelum air kolam masuk ke sawah. Di atas mina padi ada pula sistem akuaponik sumbu untuk budidaya sayuran.

Teknologi itu terdiri atas wadah plastik bersumbu kain flanel, bermedia tanah dan sekam. Komoditas yang ditanam antara lain bawang merah dan kangkung. Sistem itu bertujuan menyaring nitrogen yang terlalu tinggi.

Kadar nitrogen air hasil penyaringan mina padi amat pas untuk memenuhi kebutuhan padi. Sisa metabolisme ternak dengan sistem pertanian terintegrasi bisa mendukung ketersediaan unsur hara makro nitrogen, fosfor, dan kalium untuk tanaman.

Contohnya air kolam lele amat dominan nitrogen. Kompos kotoran sapi dominan fosfor. Adapun limbah daun dan sisa pembakaran dominan kalium.

Namun, pemupukan belum sepenuhnya organik. Sebab, padi masih menghendaki pupuk tambahan agar hasil panen optimal. Pemupukan tambahan dominan kompos kotoran sapi minimal 2 ton per hektare.

Adapun pupuk kimia hanya 10—30% dari dosis normal. Pemupukan padi konvensional per hektare per musim rata-rata 300 kg Urea, 100 kg SP-36, dan 100 kg KCl. Artinya penggunanan dan biaya pupuk kimia bisa terpangkas 70—90% dengan sistem pertanian terintegrasi.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Kelapa Genjah Merah Bali, Eksotis dan Produktif

Trubus.id—Kelapa genjah merah bali merupakan kelapa baru yang eksotis dan produktif. Secara umum berbunga pada umur 2—2,5 tahun dan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img