Sunday, August 14, 2022

Lahir Gandum Tropis

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Gandum ganesha berpotensi hasil hingga 6,4 ton per ha
Gandum ganesha berpotensi hasil hingga 6,4 ton per ha

Rendah gluten dan produksi tinggi.

Bagi Kresna Maheswara-nama samaran-mengonsumsi penganan berbahan terigu larangan keras. Pasalnya, dokter mendiagnosis putra semata wayang Ahmad Habib itu menyandang autisme. “Dokter menyatakan penyandang autisme wajib menghindari roti, kue kering, cake, wafer, mi, dan pasta. Sebab, makanan itu berbahan utama terigu,” ujar Ahmad Habib. Sebagai penggantinya, Habib memberikan makanan berbahan dasar lain seperti tepung beras, maizena, atau tapioka.

Musababnya, terigu berasal dari gandum yang mengandung protein nabati gluten. Kandungan gluten dalam terigu mencapai 90% dari total protein, sisanya 8% lemak dan 2% karbohidrat. Sistem metabolisme pada penyandang autisme tidak mampu mencerna gluten dengan sempurna. Prof Dr drh Clara Meliyanti Kusharto MSc, guru besar Departemen Gizi Masyarakat, Institut Pertanian Bogor, menuturkan gluten memicu hiperaktif pada penyandang autisme.

Prof Dr Soeranto Human MSc meradiasi benih-benih gandum untuk memperoleh varietas baru yang berpotensi hasil tinggi dan adaptif di dataran rendah
Prof Dr Soeranto Human MSc meradiasi benih-benih gandum untuk memperoleh varietas baru yang berpotensi hasil tinggi dan adaptif di dataran rendah

Tren

Menurut Clara anak berkebutuhan khusus sensitif terhadap kandungan beberapa jenis makanan atau logam berat. “Daya sensitif itu memperberat gejala autisme seperti gelisah dan sulit konsentrasi,” ujarnya. Gluten terbentuk ketika tepung terigu bercampur air. Meski demikian konsumsi pangan berbahan gandum justru menjadi tren misalnya mi instan dan roti. Produsen penganan sangat memerlukan gluten untuk menentukan kekenyalan mi atau membuat roti agar mengembang.

Tepung terigu merupakan olahan gandum yang paling populer. Menurut Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (APTINDO) konsumsi terigu nasional tumbuh setiap tahun. Pada 2009, misalnya, konsumsi tepung terigu nasional 3,9-juta ton dan meningkat menjadi 4,4-juta ton pada 2011. Konsumsi terigu nasional pada 2012 meningkat menjadi 4,72-juta ton dan 5-juta ton pada 2013. Namun, gandum tidak hanya diolah menjadi tepung terigu. Tanaman kerabat jagung itu dapat dimanfaatkan untuk sereal dan makanan ternak. Itu menyebabkan impor gandum dari berbagai negara seperti Australia, Kanada, dan Amerika Serikat pun membubung.

Data APTINDO menunjukkan impor gandum dari ketiga negara itu pada 2012 masing-masing mencapai 4,4-juta ton. Sementara impor terigu dari Turki, Srilanka, dan Ukraina masing-masing 181.000 ton, 172.000 ton, dan 21.000 ton. Harap mafhum, Indonesia bukan sentra gandum lantaran beriklim tropis. Tanaman anggota keluarga Poaceae itu lazim tumbuh di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut ( m dpl).

Menurut Prof Dr Soeranto Human MSc, peneliti di Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional, sejatinya Indonesia berpotensi mengembangkan gandum yang dapat tumbuh subur di beberapa daerah bersuhu sejuk. Ia menuturkan petani di Cianjur dan Bandung (Jawa Barat), Karanganyar dan Salatiga (Jawa Tengah), Soe (Nusa Tenggara Timur), kini banyak menanam gandum. “Gandum cocok ditanam di tanah tegalan sebab tidak butuh banyak air,” katanya.

Konsumsi tepung terigu nasional mencapai 5-juta ton pada 2013
Konsumsi tepung terigu nasional mencapai 5-juta ton pada 2013

Gandum tropis

Potensi itu memicu Soeranto untuk membidani lahirnya varietas baru gandum unggul melalui radiasi. Tujuannya memperoleh gandum baru berproduksi tinggi dan genjah. Doktor Pemuliaan Tanaman dari Agricultural University of Norway, Norwegia, itu meradiasi varietas induk WL2265 dari Pusat Penelitian Internasional untuk Perbaikan Jagung dan Gandum. “WL2265 adaptif di dataran tinggi di tanahair dan berpotensi produksi besar, tetapi umurnya panjang dan berbatang tinggi sehingga gampang roboh,” ujarnya. Ia lantas menembakkan sinar gamma berdosis 300 gray pada indukan itu untuk memperoleh benih baru yang secara genetik lebih unggul daripada sang induk.

Selanjutnya, Soeranto menanam benih itu di kebun percobaan di Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, hingga menghasilkan generasi M2 alias mutan 2. “Pada generasi itu saya menyeleksi tanaman yang membawa gen unggul lalu ditanam kembali hingga M6. Setelah melalui uji multilokasi di 10 tempat yang tersebar di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sulawesi, ia memperoleh gandum unggul baru yang mampu berproduksi hingga 6,4 ton per ha. Bandingkan dengan varietas lawas seperti nias dan dewata paling banter 5 ton per ha. Sementara produktivitas gandum di negeri 4 musim seperti Kanada mencapai 9 ton per ha. Artinya produktivitas ganesha cukup tinggi.

Di tanahair gandum lazim tumbuh di ketinggian 800 m dpl
Di tanahair gandum lazim tumbuh di ketinggian 800 m dpl

Kementerian Pertanian telah merilis varietas baru itu pada Desember 2013 dengan nama ganesha. Tinggi ganesha 72 cm dan panen pada umur 132 hari setelah tanam (HST). Bobot 1.000 butir mencapai 39,2 gram. Ganesha tahan penyakit karat dan moderat terhadap hawar daun serta adaptif di dataran tinggi hingga ketinggian 1.000 m di atas permukaan laut. “Ganesha memiliki kadar gluten rendah 35,5% sehingga pas untuk bahan dasar biskuit,” kata Soeranto. Penderita autisme pun dapat mengonsumsi gandum itu.

Selain membidani ganesha, Soeranto juga menggagas lahirnya gandum yang dapat ditanam di dataran rendah. “Gandum butuh suhu dingin tertentu selama masa pertumbuhannya untuk merangsang bulir   alias vernalisasi,” kata Soeranto. Itu terjadi karena adanya gen yang mengontrol. Ia meneliti cara untuk mengubah gen itu sehingga gandum tetap bisa berbulir meski tanpa suhu dingin. “Caranya dengan menembak materi genetik gandum itu dengan sinar gamma sehingga karakternya berubah,” ujarnya.

Soeranto meriset sejak 2010 saat ia memperoleh 5 jenis benih gandum dari Cina. Ia menembakkan sinar gamma berdosis 200-400 gray. Tujuannya untuk memperoleh varietas gandum yang tidak butuh suhu dingin untuk berbunga. Benih galur-galur mutan itu lantas ditanam di kebun percobaan di Jakarta. Galur harapan yang dipilih yakni mampu menghasilkan biji dan berumur panjang.

Tujuannya agar proses pengisian biji lama sehingga biji penuh dan besar. “Dengan begitu gandum baru yang dihasilkan selain adaptif di dataran rendah juga berpotensi hasil tinggi,” tutur Soeranto. Jika kelak Indonesia mengembangkan gandum di dataran rendah yang genjah, produktivitas tinggi, devisa pun tak perlu mengalir ke mancanegara. Selain itu penderita autisme seperti Kresna Maheswara pun dapat mengonsumsinya. (Andari Titisari)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img