Friday, August 12, 2022

LAHIR SATU TANAM SATU

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

‘Kelapa dipilih lantaran bisa diambil hasilnya tanpa harus menebang pohonnya,’ kata Suhendri, wakil kuncen. Kuncen adalah kepala adat di Kampung Naga. Kelak, bila anak dewasa dapat mengambil buah, daun, dan kayunya.

Kehidupan orang Naga-sebutan masyarakat yang tinggal di Kampung Naga-memang sangat erat dengan tanaman. Haru Suandharu dari Sekolah Tinggi Ilmu Hayati Institut Teknlogi Bandung (SITH ITB) mencatat ada 257 tanaman yang dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari orang Naga. Tanaman itu sebagai sumber pangan, obat-obatan, bahan bangunan, kayu bakar, kerajinan, perlengkapan, ritual, pakan ternak, sampai racun ikan.

Haru mencatat ada 82 tanaman bahan pangan di sana, mulai dari sumber karbohidrat, sayur, sampai buah-buahan. Padi satu-satunya makanan pokok orang Naga. Singkong, labu, ubi, dan talas mereka olah sebagai makanan tambahan. Makanan yang mungkin tak banyak dijumpai di daerah lain adalah turubuk Saccharum edule.

Masyarakat Naga menggoreng atau memepes turubuk. Tunas muda tanaman anggota famili Poaceae itu rasanya mirip telur ikan. Salah satu hidangan populer tentu saja pisang. Pantas orang Naga mampu menyebutkan 39 nama kultivar pisang Musa sp. Dua puluh lima di antaranya mereka sebut dalam nama lokal, seperti hurang, jambe, bubuyan, galek, muli, dan lampeneng. Sisanya disebut dengan nama umum seperti pisang mas, ambon, lumut, nangka, dan raja.

Menurut Sony Suhandono PhD dari SITH, ITB itu cermin tingginya keragaman pisang di sana. ‘Diduga daerah ini pernah menjadi salah satu pusat plasmanutfah pisang di Jawa Barat,’ tutur Sony yang meriset etnobotani di Kampung Naga. Dugaan itu tak berlebihan. Setelah berjalan 20 menit, Trubus menemukan 9 jenis cau-pisang dalam bahasa Sunda-di satu lokasi.

Cau hurang, lumut, lembang, muli, dan galek banyak ditemukan di sekitar rumah-rumah orang Senaga-sebutan bagi keturunan orang Naga yang tinggal di luar Kampung Naga. Tandan pisang lembang arahnya mendatar, bukan merunduk ke bawah seperti umumnya tandan pisang. Sedangkan pisang galek hanya muncul 1 atau 2 sisir dalam setandan. Bentuk buahnya memanjang dan arahnya tak beraturan. Begitu juga dengan keragaman singkong. Di sana ada 12 jenis singkong antara lain peuteuy, karikil, apuy, hejo, angkrong, dan karet.

Ladang dan hutan garapan tak hanya memberi pisang, singkong, atau tanaman sebagai makanan. Semua material bangunan berasal dari hutan garapan. Orang Naga banyak menanami hutannya dengan kayu-kayuan seperti albasia Paraserianthes falcataria, ganitri Elaeocarpus ganitrus, dan manglid Manglletla glauca. Albasia digunakan untuk tiang-tiang rumah; manglid, lantai dan dinding bertekstur halus dan awet. Biasanya dinding ruang tamu terbuat dari papan kayu, sedangkan dinding ruangan lain dari anyaman bambu.

Orang Naga mengenal 6 macam tanaman bambu yaitu awi tali, awi surat, awi tamiang, awi haur hejo, awi haur koneng, dan awi haur payung. Awi tali Gigantochloa apus biasa dianyam untuk dinding atau bilik. Sedangkan awi surat Gigantochloa atter dibelah-belah memanjang selebar 1 cm lalu dirangkai searah dan digunakan untuk palupuh atau lantai dapur.

Orang Naga memanfaatkan bambu sebagai boboko atau tempat nasi, wadah buah, tatakan, angklung, bahkan almari. Sisa bambu yang tak terpakai dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Untuk menjamin ketersediaannya, penduduk tak mengandalkan bambu liar. ‘Kami sengaja menanam bambu di ladang agar tak kehabisan,’ tutur Suhendri.

Haru mencatat 113 tanaman yang dipakai sebagai obat. Kebanyakan untuk mengobati penyakit ringan seperti sakit kepala, perut, pinggang, gigi, dan mata. Jika sakit pinggang, mereka melayukan sehelai daun bakung Crinum asiaticum dengan api lalu mengikatkan ke pinggang. Untuk mengurangi iritasi, mereka meneteskan air batang seuseureuhan Piper aduntum pada mata.

Ada pula tanaman untuk penyakit darah tinggi yaitu balingbing Averrhoa carambola, untuk mag; antanan ageung Centela asiatica, untuk reumatik; babadotan Ageratum conyzoides, dan untuk beri-beri; godobos Sonchus asper. Dari semua tanaman obat itu, ada 13 tanaman yang belum tercatat dalam Medical Herbs Index in Indonesia. Contohnya tepus, singawalang, seuseureuhan, paku lubang, dan jukut harewos.

‘Kebiasaan masyarakat secara tradisional menggunakan tanaman obat merupakan titik awal menggali potensi khasiat bahan alam untuk keperluan farmasi,’ kata Prof Dr Andreanus A Soedarmadji DEA, peneliti dari Sekolah Farmasi, ITB. Alam pun bermurah hati pada orang Naga yang menjaganya. (Nesia Artdiyasa)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img