Tanaman yang banyak terdapat di rawa-rawa Pulau Cendrawasih itu ada di Kebun Raya Bogor berkat jasa Forbes. Habitat aslinya hutan primer pada ketinggian 0—500 m dpl. Lantaran kanopi bulat ia digunakan sebagai pelindung tanaman di halaman rumah, taman-taman kota, dan perkantoran. Kini anggota keluarga Fabaceae itu banyak ditemukan di Pulau Jawa dan Sumatera.
Maniltoa grandifl ora tampak cantik kala memunculkan daun-daun muda. Daun merah muda bersemburat kuning tembaga, kontras di antara daun-daun hijau muda. Setangkai daun—terdiri 12—16 helai—menjuntai hingga 30—40 cm tersusun rapi membentuk saputangan. Itu sebabnya disebut pohon saputangan.
Dipotkan
Pohon berdaun majemuk itu sebetulnya mudah dipotkan, sehingga keindahannya bisa dinikmati kapan saja. Toh dengan pertajukan yang kompak dan dapat dibuat pendek ia layak menghias beranda rumah. Penulis telah mencoba mengepotkannya beberapa kali. Hasilnya cukup baik, daun muda keluar terus-menerus dan tak perlu repot merawatnya.
Namun, dari 5 jenis tanaman saputangan hanya Brownea capitella dan Maniltoa grandifl ora yang memungkinkan dipotkan. Lainnya Amherstia nobilis, Saracca, dan Cynometra perlu perlakuan khusus. Pasalnya, 3 jenis yang disebut terakhir sulit menghasilkan biji. Padahal, dari biji itulah proses pengepotan dimulai. Sementara dari cangkok atau okulasi belum dilakukan.
Tanamlah biji berbobot 4—13 g itu di pot berukuran sedang berisi media pasir. Posisi biji berdiri—bagian datar di bawah dan melengkung di atas—lantaran bakal tunas tempat keluar akar terletak di bagian mendatar. Bila terbalik mengakibatkan tunas dan akar tidak tumbuh. Sebaiknya biji jangan dibenamkan terlalu dalam, cukup 1—2 cm, karena bersifat epigeal—keping biji terangkat ke atas media.
Selama masa perkecambahan, penyiraman rutin dilakukan 2—3 kali sehari. Sebulan kemudian biji akan berkecambah. Keping biji terbelah 2 mengeluarkan 3—4 helai daun berwarna merah muda menjuntai membentuk pola elips. Setelah 2—3 hari daun berubah menjadi hijau dan membentuk huruf T.
Pindahkan kecambah setinggi 10—20 cm itu ke dalam pot yang lebih besar berisi campuran media tanah, kompos, dan sekam bakar, dengan perbandingan 2:1:1. Selang 2—3 bulan, 4 helai daun baru muncul di antara daun sejati. Daun baru itulah yang disebut daun saputangan. Untuk menghasilkan daun saputangan baru, dibutuhkan waktu 3—4 bulan lagi.
Perawatan
Penempatan pot harus diperhatikan. Saat persemaian hindari sinar matahari langsung karena menyebabkan akar kering. Teras rumah dengan intensitas cahaya 50% tempat yang baik untuk meletakkan pot. Rawatlah tanaman dengan menyiram dan memupuk secara rutin agar tetap tampil prima. Pada kondisi normal penyiraman 2 hari sekali; musim hujan 3 hari sekali.
Pergantian pot sebaiknya dilakukan bila tanaman telah tumbuh besar, berumur 4—5 bulan. Sambil mengganti pot biasanya pemupukan susulan dilakukan. Sebagai pupuk kandang boleh digunakan kotoran kambing. Dosisnya untuk pot berukuran diameter 40 cm, 3—4 sendok makan.
Meski tanaman hias daun itu tahan terhadap serangan penyakit dan hama, seyogyanya pengendalian hama dijadwalkan. Dengan begitu helaian daun yang keluar dari ranting-ranting tanaman tetap prima. Bayangkan, saat santai di teras rumah sambil memandang kemolekan daun saputangan di pot. Hidup ini semakin lebih bermakna. (Ir Muhammad Mansur, peneliti madya Pusat Penelitian Biologi LIPI)
