Thursday, September 29, 2022

Lampu Hijau si Kaki Putih

Rekomendasi
Vannamei dapat dibudidayakan dengan sistem budidaya superintensif di kolam terpal.

Para petambak meraup keuntungan rata-rata Rp12 juta per bulan dari 4 kolam terpal berdiameter 8 m dan tinggi 1,2 m.

Pada 2013 Dr. Ir. Hasanuddin Atjo, M.P., mengembangkan sistem budidaya udang vannamei superintensif di kolam 1.000 m² berkedalaman 2,5—3 m. Dengan teknik budidaya itu, Atjo memanen 15,3 ton udang vannamei. Hasil panen itu lebih tinggi daripada produktivitas para petambak udang di Meksiko dan Tiongkok yang masing-masing hanya 11 ton dan 9 ton. Sayangnya, para petambak skala kecil kesulitan mengadopsi teknologi budidaya itu karena membutuhkan biaya invetsasi tinggi.

Menurut Atjo, untuk membuat kolam beton 1.000 m² perlu biaya Rp600 juta dan modal kerja Rp400 juta. Untuk memudahkan para petambak mengadopsi teknologi itu, pada 2018 Atjo memperkenalkan teknologi budidaya udang vannamei superintensif skala rakyat. Disebut demikian karena Atjo memodifikasi kolam dengan luasan yang lebih kecil dan bahan kolam yang lebih efisien.

Modifikasi kolam

Atjo menggunakan kolam berbahan terpal yang ditopang kerangka besi beton berbentuk tabung. Diameter kolam 8 m dan tinggi 1,2 m. Untuk membuat kolam terpal itu para petambak cukup mengeluarkan biaya Rp10 juta. Dari kolam seluas itu, produktivitas udang kaki putih—sebutan vannamei—memang lebih rendah bila dibandiingkan dengan sistem budidaya superintensif di kolam 1.000 m².

Dari kolam berdiameter 8 m dan tinggi 1,2 m Atjo hanya memanen 350 kg udang vannamei setelah dibudidayakan selama 120 hari. Itu berarti produktivitas rata-rata hanya 7 kg per m2, sedangkan di kolam 1.000 m2 mencapai 15,3 kg per m². Meski demikian, para petambak masih mendapat untung berlipat. Dengan membudidayakan vannamei di 4 kolam terpal, para petambak bisa meraup laba rata-rata Rp12,4 juta per bulan (lihat tabel).

Laba besar itu menjadi “lampu hijau” bagi para calon peternak. Atjo menuturkan laba itu dapat diperoleh bila para petambak mampu menjaga sintasan atau tingkat kelulusan hidup (SR) minimal 92% dan rasio konversi pakan (FCR) maksimal 1,3. Artinya, untuk menghasilkan 1 kg udang, maka jumlah pakan yang diberikan maksimal 1,3 kg. Jika lebih dari itu maka biaya pakan menjadi membengkak dan mengurangi laba. (Imam Wiguna)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Menikmati Lezatnya Durian yang Paling Disukai Bung Karno

Trubus.id — Durian memang banyak penggemarnya. Buah yang dikenal sebagai raja buah itu pun konon menjadi salah satu buah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img