Lebih Dekat dengan Komunitas Sejati Petani Sorgum Indonesia

0
komunitas petani sorgum
Sosialisasi pengolahan sorgum kepada petani di Balubur Limbangan, Kabupaten Garut. (Trubus/Widi Tria Erliana)

Trubus.id — Sorgum tanaman serealia potensial. Seluruh bagian tanaman bernilai ekonomi. Biji sebagai sumber pangan memiliki kandungan gizi yang dapat mensubtitusi tepung terigu. Potensi produksi mencapai 6–7 ton per hektare.

Tepung sorgum dapat dikreasikan menjadi berbagai penganan seperti mi dan aneka kue kering. Kelebihan tepung sorgum adalah bebas gluten. Sementara itu, hasil panen bobot biomassa batang mencapai 40–50 ton per hektare berpopulasi 125.000 tanaman.

Dari batang itu dapat menghasilkan nira untuk bahan baku bioetanol, gula cair, dan kecap. Setelah pengempaan untuk mengambil nira, batang dapat menjadi pakan ternak. Daun tanaman tetap hijau hingga panen. Peternak juga bisa memanfaatkan daun sorgum sebagai pakan ternak.

Potensi sorgum yang sangat tinggi itu membuat Lili Sutarli Suradilaga, petani di Desa Salebu, Kecamatan Mangunreja, Kabupaten Tasikmalaya, menjadi tertantang untuk mengembangkan sorgum.

“Sorgum itu kaya manfaat sehingga jangan hanya dijadikan sebagai euforia. Sorgum mesti disosialisasikan dari hulu hingga hilirisasinya,” kata Lili.

Niat kembangkan sorgum, Lili buktikan dengan mendirikan komunitas Sejati Petani Sorgum Indonesia (Sepasi). Komunitas Sepasi disahkan pada 11 September 2019. Pada awal pendirian, kurang dari 50 orang yang menjadi anggota Sepasi.

Kini, anggota Sepasi lebih dari 500 orang. Umumnya, anggota Sepasi merupakan petani sorgum. Jumlahnya mendominasi hingga 90%. Mereka mengelola lahan untuk budidaya sorgum rata-rata 0,5–1 hektare.

Namun, ada juga pengepul dan pengolah atau produsen aneka kue berbahan sorgum. Para anggota Sepasi tersebar di empat provinsi, yakni Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, Lampung, dan Kalimantan Tengah.

H. Rd. Heri Ahmad Jawari, pengasuh Pesantren Al Fadilah salah satu mitra Sepasi. Warga di Kabupaten Garut, Jawa Barat, itu mengatakan, “Awalnya kami menanam buah-buahan tapi hasilnya baru diperoleh 4–5 tahun, sedangkan sorgum relatif singkat.”

Ia bersama masyarakat mengelola 20 hektare lahan untuk budidaya sorgum bioguma di Kecamatan Balubur Limbangan, Kabupaten Garut. Varietas bioguma memungkinkan petani memanen biji dan nira sekaligus.

Lili menuturkan, anggota Sepasi biasanya menanam sorgum berjarak tanam 20 cm × 40 cm. Jumlah lubang tanam 125.000 per hektare. Setiap lubang terdiri atas 2 biji. Itulah sebabnya total jenderal ada 250.000 tanaman per hektare.

Menurut Tatang Supian, S.Pd.I., Kepala Agribisnis Sepasi, anggota Sepasi rutin bertemu 1–2 kali setiap bulan meski melalui daring. Ketika itulah mereka membahas banyak hal dari konsultasi kendala budidaya, panen, dan pengolahan.

Menurut Lili, Sepasi rutin mengadakan pembinaan dan konsultasi daring atau luring. Ke depan Sepasi akan membuat program panen setiap bulan. Sepasi juga giat mensosialisasikan pengolahan hasil panen petani.

“Jika dijual gabah saja hanya sekitar Rp2.500 per kg. Bandingkan dengan olahan menjadi gula cair bisa Rp10.000–Rp15.000 per liter,” tutur Lili.

Sepasi mengolah sorgum menjadi berbagai bahan baku dan penganan seperti beras sorgum, tepung, borondong, kue gulung, mi, gula cair, olahan kerajinan, dan bubur. Total ada 65 produk kreasi Sepasi dan UMKM binaan dengan merek dagang K-Gum atau Kreasi Sorgum.