Wednesday, August 10, 2022

Lembah Mukun Mohon Ampun

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Dari Ruteng – ibukota Kabupaten Manggarai Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT) – perjalanan berlanjut dengan mobil. Jarak Ruteng – Lembah Mukun sebetulnya tak terlampau jauh, 60 km. Namun, sepertiga jalan rusak parah. Jalan berbatu. Angin musim kemarau menerbangkan debu. Setelah menempuh perjalanan 2,5 jam, kaki menjejak di Lembah Mukun. Langit Mukun biru bersih, udara dingin masih terasa walau hari pukul 12.40.

Harap mafhum, Mukun berada di lembah yang dikelilingi berbagai gunung seperti Gunung Gezong, Manus, Tango, Ranambata, dan Ndalo. Di antara gunung itu terdapat hutan Poconembu, sumber air bagi warga Desa Golomeni, Kecamatan Kotakomba, Kabupaten Manggarai Timur. Desa yang berarti gunung yang dingin (golo = gunung, meni= dingin) itu berlokasi di Lembah Mukun.

Begitu turun dari mobil, tetua adat dan warga menyambut Trubus. Di bawah siraman sinar mentari, suara bariton David Ngge menggelegar membelah siang. ‘Yo…. Benta agunenge sanggen embo’, sanggen furasaki. Kudut sama-sama mbange jaiq ratosaok denaka anak mai Jakarta.’ Maknanya, ‘Kami dengan gembira menerima tamu dari Jakarta.’ Agustinus Warang yang membawa ayam jantan berbulu putih dan Yohanes Juni membawa botol labu mengapit Ngge.

Labu Lagenaria vulgarisyang dijadikan botol itu mereka sebut tawu (baca: tavu). Secara turun-temurun warga Golomeni memanfaatkannya sebagai wadah air. Botol labu itu dibuat dengan memangkas ujung buah dengan pisau tajam. Setelah melubangi ujung labu, mereka lalu meletakkan abu dapur yang panas di atas belahan itu. Setelah sepekan, isi atau daging buah labu hancur sehingga mudah dikeluarkan.

Sebelum digunakan, warga menuangkan air panas untuk membersihkan bagian dalam anggota famili Cucurbitaceae itu. Supaya mengkilap, permukaan kulit dikerok dengan pisau. Keberadaannya tak dapat digantikan dengan botol beling saat menyambut tamu agung. David Ngge menyerahkan ayam jago dan labu berisi nira aren fermentasi itu kepada Bambang Ismawan, pemimpin umum Majalah Trubus.

Menurut Kandidus Nabi, salah satu tetua adat setempat, ayam jago sebagai simbol persembahan kepada leluhur agar kami selamat dan terhindar dari kecelakaan. Sedangkan tuak asal aren Arenga pinata pertanda kami diterima dengan tangan terbuka. Romboh alias peci dan kain songke – kain tenun khas Manggarai – dikalungkan kepada tamu. Selendang dan songke hasil tenunan masyarakat Todo, Manggarai Tengah, dan Lambaleda (Manggarai Timur).

Untuk membuat sebuah kain songke – seukuran sarung – seorang perajin memerlukan waktu 3 bulan. Warna dasar biru karena benang dicelupkan dalam air rebusan daun tarum Indigofera tinctoria. Tumbuhan anggota famili Fabaceae itu dulu sohor sebagai pewarna alami.

Di bawah langit membiru bersih, warga mengarak Trubus menyusuri lorong sepanjang kira-kira 600 meter. Pohon cengkih setinggi atap rumah yang tengah berbunga lebat tumbuh di kiri dan kanan lorong. Warga setempat berdiri di kiri dan kanan sepanjang gang itu menyambut kami. Persis di ujung gang, kami berhenti. David kembali memimpin upacara penyambutan.

Suaranya menggelegar lagi. ‘Yo… hai lalong Jakarta, sanggen sekareng deudeu tara tara.’ Ia lalu mencabut sebilah keris dari selongsong di pinggang kiri. Pensiunan guru itu mengacung-acungkan keris ke angkasa sembari mendaras mantra-mantra dalam bahasa Manggarai. Tangan direntangkan seperti hendak terbang. Pria 72 tahun itu sungguh masih lincah bergerak. Lalu ia menyodorkan ujung keris itu agar kami sentuh dengan kedua tangan.

Tetua adat lalu mempersilakan kami masuk ke (miniatur) rumah adat yang disebut niang gendang. Bentuk rumah adat Manggarai memang meninggi mirip gendang. Persis di tengah rumah tegak berdiri tiang yang disebut siri bongkok. Di atasnya terdapat patung kepala manusia dengan 2 rangga kaba alias tanduk kerbau (rangga = tanduk, kaba = kerbau).

Aloysius Benedictus Mboi atau Ben Mboi, mantan gubernur NTT, menjelaskan, tanduk kerbau simbol kerja keras, solidaritas, dan kebersamaan. Periuk di atas kepala menghadap ke langit simbol hormat kepada pencipta.

Rosaria Njebubu dan Veronica Asa berkeliling menyodorkan daun sirih, biji pinang, dan kapur. Tamu harus mengunyah itu. Secangkir kopi pahit, tanpa gula sebutir pun, rebusan teko alias talas, dan umbi ndate, terhidang. Ben Mboi menjelaskan itulah kopi arabika flores coffe yang sohor hingga ke New York dan Amsterdam. Adapun ndate dan teko tengah disosialisasikan sebagai pangan lokal.

Dua penganan itu juga tersaji ketika Trubus bertandang ke kediaman Wakil Bupati Manggarai Timur Agas Andreas SH MHum. Agas pernah mengadakan kunjungan kerja ke sebuah wilayah. Saat tuan rumah seorang camat menghidangkan kompiang, roti khas Flores. Agas bertanya, ‘Adakah pohon kompiang di sini?’ Keruan saja sang camat tersipu malu.

Pada hari berikutnya masyarakat setempat mengadakan upacara doal kaba (doal = jatuh, kaba = kerbau). Mereka mengorbankan seekor kerbau dan babi untuk persembahan kepada leluhur yang marah. Bentuk kemarahan leluhur antara lain longsor di berbagai tempat dan kekeringan. Mereka memaknai gejala alam itu sebagai amarah para leluhur. Oleh karena itu mereka mengorbankan kerbau.

Acara itu bermula dari sebuah ruangan seukuran lapangan bola voli. Simon Tolentino memimpin upacara dengan berdoa dan menyerahkan keris dan tuak aren kepada David Ngge. Para tu’a teno dan tu’a golo – total 15 orang – berkumpul di ruangan itu. Tu’a teno tetua adat yang mengurus pembagian tanah kepada warga. Sedangkan tu’a golo pengurus rumah adat. Ronda – grup paduan suara berjumlah 8 orang yang menyanyikan kidung selama upacara – berkumpul di miniatur rumah adat.

Para raga sae berbaris dari depan ruangan doa hingga miniatur rumah adat. Raga diperankan para pria yang akan menari dengan gerakan kuat perlambang kejantanan. Mereka mengenakan baju putih dan kain songke. Adapun sae diperankan oleh perempuan yang menari dengan penuh kelembutan perlambang tulus dan cinta kasih. Mereka berbaris dan berdiri tegak. Di antara keduanya itulah para tua teno dan tu’a golo melintas menuju rumah adat. Raga sae lalu masuk ke miniatur rumah adat untuk menari sebanyak 5 putaran. Mereka kemudian turun menuju purus alias pohon beringin tua dengan lingkar batang 3 kali pelukan manusia dewasa. Daunnya rimbun memberikan oksigen bersih tak pernah henti. Pagi-pagi ketika angin berembus teramat dingin, kerbau jantan itu sudah terikat lehernya di celah-celah akar purus. Setelah pemberkatan oleh tetua adat, barulah kerbau itu disembelih.

Menurut Dr Robert MZ Lawang, dosen Departemen Sosiologi Universitas Indonesia, kerbau hewan terbesar di Manggarai. Oleh karena itu kerbau simbol kebesaran dan kekuatan. Masyarakat Manggarai memanfaatkan kerbau pada berbagai upacara adat seperti congko longkap atau pemberkatan rumah baru, kaba cebong golo untuk mensucikan kampung, dan kaba ulu paca sebagai maskawin.

Di bawah rindang pohon beringin tua, Raimundus Mujur melafalkan doa. ‘Yo… Itemori agu ngaran ata bate jari agu dedek. Mori, leso ne mesong poligi doal kaba…’ Ya Tuhan Maha Pengasih dan Pencipta. Dipersembahkan seekor kerbau, mohon ampun…. Begitulah cara mereka menebus dosa yang menyebabkan bukit longsor. (Sardi Duryatmo)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img