Friday, August 12, 2022

Lengkeng Pasrepan Manis dan Kering Sepanjang Tahun

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Padahal, itu bukan musim raya lengkeng. Pasrepan pun bukan sentra Dimocarpus longan. Penasaran, pemilik Widodo Farm itu langsung menghentikan laju kendaraan.

Kepada sang empunya pohon Widodo meminta izin untuk mencicipi buah. Kelenjar salivanya langsung bekerja begitu melihat daging buah bening dan kering yang menguarkan aroma harum khas lengkeng. ‘Manis?! Legitnya melebihi diamond river,’ tutur penangkar yang mengembangkan bibit diamond river, pingpong, itoh-varietas-varietas asal Thailand-itu.

Yang membuat Widodo lebih terkesan, dompolan buah dari mulai pentil, muda, dan matang muncul berbarengan memenuhi tajuk. Itu masih ditambah cluster bunga yang mekar di sana-sini. Artinya, buah bakal bisa dinikmati terus-menerus. Padahal, Juli bukan musim raya anggota famili Sapindaceae itu. Pasrepan juga tidak dikenal sebagai sentra lengkeng. Justru kabupaten tetangga-Malang, tepatnya di wilayah Tumpang-kondang sebagai pusat lengkeng lokal. Musim buah biasanya berlangsung pada awal tahun.

Trubus jadi teringat pemandangan serupa di sebuah kebun di Singkawang, Kalimantan Barat. Di sana yang memunculkan bunga, buah pentil, buah muda, dan buah matang terus-menerus jenis diamond river. Varietas asal Thailand itu memang terkenal rajin berbuah-nyaris sepanjang tahun.

Introduksi atau lokal?

Insting Widodo mengatakan yang ada di hadapan lengkeng unggul. Maklum Dimocarpus longan itu cuma sebatang kara di halaman rumah di tepi jalan di Desa Sibon, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan. Tak terlihat pohon lengkeng lain di sekitar. Varietas lokal lazimnya berumah 2. Jadi, supaya menghasilkan buah perlu pohon jantan dan pohon betina. Lain halnya dengan lengkeng-lengkeng introduksi-diamond river, pingpong, dan itoh-yang punya bunga jantan dan betina di 1 pohon sehingga bisa berbuah meski ditanam tunggal. Lengkeng lokal jarang ditemukan berbuah tunggal.

Apalagi waktu ditilik, penampilan tanaman memang mirip diamond river atau itoh. Tulang daun seperti diamond river, tapi lebih renggang dan terbuka. Bentuknya memanjang layaknya itoh, tapi struktur lebih kaku dan keras mirip daun varietas lokal. Jenis lokal umumnya berdaun kecil-kecil.

Andretha Helmina, wartawan Trubus, pun melakukan penelusuran langsung ke Sibon. Menurut kabar, lengkeng itu dibawa oleh salah seorang warga desa dari tanah rantau di Kalimantan ke desa di kaki Gunung Bromo itu pada 1998. Sejatinya Borneo bukan sumber lengkeng lokal. Para pekebun mendatangkan lengkeng introduksi-pingpong, diamond river, itoh-dari Sarawak, Malaysia. Memang ada tanaman yang buahnya mirip lengkeng, tapi daging tipis dan berair banyak. Ukuran buah pun kecil-kecil. Masyarakat setempat menyebutnya mata kucing alias ihau Dimocarpus malesianus.

Si perantau dari Sibon membawa 2 entres sepanjang ? m yang disambung pada batang bawah jenis lokal. Sayang, hanya 1 yang bertahan hidup. Pada pertengahan 2000, dari bibit tersisa mulai muncul bunga yang menjelma menjadi buah 4 bulan kemudian. Sejak itu buah muncul tanpa henti meski tanpa perlakuan. Pemupukan dan pemangkasan tajuk-2 perlakuan standar perangsangan buah dan bunga-tidak pernah dilakukan.

Biji besar

‘Kalau buah keluar terus-menerus tanpa pemangkasan dan pemupukan, itu luar biasa,’ tutur Narin Watana Anurak, konsultan buah kelahiran Thailand, mengacungi jempol. Menurut Ir Baswarsiati, MS, peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur, kondisi itu didukung oleh keadaan alam Pasrepan yang air tanahnya dangkal. Makanya, Pasrepan cocok sebagai sentra tanaman buah.

Pantas Widodo tertarik untuk mengembangkan kerabat leci itu. Dengan kata sepakat, longan itu berpindah tangan kepada Widodo pada 2005. Setahun berselang, lamyai-sebutan di Thailand-diperbanyak dengan cara sambung pucuk, cangkok, dan susuan. Untuk membedakan dengan jenis lain, peraih gelar master dari University Sain Malaysia itu menyebutnya lengkeng WF-26-merujuk nama nurseri penangkaran.

Bibit asal cangkokan bakal belajar berbunga 8-12 bulan setelah turun tanah. Sementara bibit okulasi dan susuan berbuah pada umur 2-3 tahun. Buah rata-rata berdiameter lebih besar dari koin 500 rupiah. Sedompol berbobot 1 kg berisi 100-120 buah. Sayang, waktu Trubus cicipi dagingnya tipis, biji kelengkeng itu pun relatif besar. Toh, WF-26 menjadi sebuah kekayaan lain dalam dunia lengkeng tanahair. (A. Arie Raharjo/Peliput: Andretha Helmina)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img