Monday, November 28, 2022

Lidah Naga Eksklusif Yang Diburu

Rekomendasi

Dua hari menjelang pameran, 250 pot lidah naga-kirkii brown, trifasciata pagoda, dan trifasciata lilian true-ludes tak tersisa. Berkat lidah jin eksklusif, Andy Solviano Fajar, mengantongi Rp10-juta meski pameran belum dibuka.

 

Begitulah suasana prapameran yang berlangsung di Lapangan Parkir Bung Karno, Blitar. Saat pameran berjalan, lidah naga milik Andy hanya tersisa 10-20 pot. Itu pun cepat berpindah tangan. Black ordonansi setinggi 30 cm berdaun 6 dibeli hobiis Rp1,25-juta. ‘Itu memang termasuk langka,’ kata pemilik nurseri Sekar Jagad itu. Dari perniagaan selama pameran itu Kabul-panggilan Andy-memperoleh Rp6-juta. Artinya, total omzet dari lidah jin Rp16-juta. Padahal, sansevieria bukan komoditas utama.

Bukan hanya Kabul yang meraup untung dari snake planta. Di Batu, Jawa Timur, ada A Gembong Kartiko yang kebanjiran permintaan sejak 3 bulan terakhir. ‘Pesanan pelanggan mencapai 300 pot per bulan,’ ujar seniman pengrajin pot tanah liat itu. Lonjakan itu mencapai 15-20 kali lipat dibanding akhir 2006. Penjualan tahun lalu hanya 10-20 pot per bulan. Yang diminta jenis eksklusif: twister sister, twister tsunami, gold flame, masonia green, dan brown kirkii.

Cerita Kabul dan Gembong itu kian menegaskan pelacakan Trubus sejak 6 bulan terakhir. Sansevieria eksklusif mulai menggeliat! Itu terlihat dari hadirnya lidah naga di ajang pameran yang digelar di berbagai daerah. Sebut saja pada Blitar 1st Flora Festival 2007. ‘Dari 66 stan, sebanyak 75% memajang lidah jin,’ kata Gatut Wahyu Wibisono, dari Asosiasi Penggemar Tanaman Hias Blitar (AMARTHA). Di Jakarta geliat serupa mulai terasa. Dari 103 peserta Trubus Agro Expo 2007 di Taman Rekreasi Wiladatika, Jakarta Timur, Maret lalu, tercatat 15 gerai menghadirkan sansevieria.

Eksklusif

Menurut Agus Mulyadi, pemain di Solo, lidah naga disebut eksklusif bila bersosok cantik, langka, dan pertumbuhan lambat. Tiga syarat itu menyebabkan sansevieria eksklusif dibandrol selangit, mulai Rp100- ribu hingga Rp1-juta per daun. Nilai itu kian melonjak bila lidah naga mengalami mutasi seperti variegata.

‘Yang mutasi tergolong jenis koleksi. Harganya bisa di atas Rp3-juta per pot,’ tutur Agus. Contohnya parva lancet variegata senilai Rp3,5-juta per pot koleksi nurseri Griya Disp, Solo.

Batasan lebih lunak diberikan Sarjianto, pemain di Yogyakarta. ‘Yang disebut eksklusif semua jenis sansevieria nonlaurentii. Harganya mulai Rp35-ribu per pot hingga jutaan rupiah,’ ujar pemilik nurseri Greenery itu. Laurentii pernah booming 2 tahun silam karena diburu importir dari Jepang dan Korea. Sayang, banyak pekebun kandas oleh serangan busuk daun bakteri Erwinia sp dan cendawan Fusarium sp (baca: Lidah Mertua Geliat di Pasar Lokal, Trubus Oktober 2005). Laurentii disebut eksklusif bila bersosok cantik, mengalami kelainan permanen seperti variegata, atau dikerdilkan.

Toh, semua pemain sepakat sansevieria nonlaurentii diburu pasar. ‘Ajang kontes sansevieria semakin sering. Ia kerap diselipkan di antara pameran dan kontes tanaman hias lain,’ kata Iwan Hendrayanta, ketua Perhimpunan Florikultura Indonesia. Penelusuran Trubus, pada kuartal pertama 2007 saja telah digelar 6 kali lomba sansevieria di Yogyakarta, Blitar, Batu, Ponorogo, dan Madiun. Peran importir mendatangkan jenis koleksi seperti kenya variegata dan brasilian turut mendongkrak pasar lokal.

Penemuan spektakuler dalam perbanyakan ikut mengangkat popularitas sansevieria. ‘Lidah jin berdaun tebal dan keras bisa diperbanyak dengan setek daun tanpa mengalami mutasi. Jenis itu bakal menjadi primadona 2- 3 tahun ke depan,’ kata Sarjianto. Contohnya cylindrica, paten, parva, dan nelsonii. Dua tahun silam ada anggapan semua sansevieria mengalami mutasi bila diperbanyak dengan setek daun. Ternyata itu hanya berlaku untuk lidah mertua berdaun tipis dengan motif hijau kuning. Terutama golongan trifasciata dan turunannya seperti laurentii, bantel’s, futura, dan lilian true.

Naik pangkat

Kehadiran sansevieria eksklusif sebagai tanaman hias bergengsi mematahkan anggapan lidah jin sebagai tanaman pagar. ‘Bila harganya di atas Rp1- juta, hanya kalangan elit yang mengoleksi. Ia seperti tanaman hias yang naik pangkat,’ kata Agus. Di Jakarta, Soeroso Soemopawiro, mengoleksi giant congo variegata berdaun 2. Harga per lembar daunnya Rp3-juta.

Di Ponorogo ada KH Putut Soegito BA, mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, yang berburu sansevieria dari kebun ke kebun demi kontes. Kini di rumahnya tertata rapi kirkii brown, kirkii coopertone, dan twister. Nama-nama seperti Willy Poernawanto, Soerjono, dan Seta Gunawan di Yogyakarta, Joko Sukwanto di Ngawi, dan Soedjianto di Wonosobo pun terkenal sebagai kolektor lidah mertua. Di antara mereka bahkan mulai menggeser hobi ke arah bisnis.

Demam mengoleksi lidah jin eksklusif tak hanya di tanahair. Nun di negeri Siam ada Pramote Rojruangsang dan Piya Subhaya Achin. Keduanya tergila-gila lidah mertua sejak 2 tahun silam. ‘Ini tanaman modern di abad ini, bisa tumbuh sebagai tanaman outdoor dan indoor. Di ruangan sansevieria bisa bertahan hingga 1 bulan. Bahkan setahun di kamar mandi tak mati,’ tutur Tjiew-sapaan Pramote.

Bedanya Tjiew dan Piya Cuma mengoleksi jenis variegata. Di kediamannya, wartawan Trubus, Evy Syariefa, melihat pinguicula variegata senilai US$1.300 setara Rp11,7-juta. Tjiew juga mempunyai stuckii kristata dengan bobot per daun mencapai 1 kg. Ucapan Pramote-yang dikenal sebagai pemain aglaonema-itu bagaikan sinyal buat pemain sansevieria di tanahair. Maklum, semua sepakat kiblat tanaman hias Indonesia ialah Thailand. ‘Semua yang tren di Thailand biasanya diikuti Indonesia,’ kata Chandra Gunawan, pemilik nurseri Godong Ijo di Sawangan, Depok.

Pasar ekspor

Penelusuran Trubus, saat pasar lokal merangkak naik bukan berarti permintaan ekspor menurun. Di Malang, Jawa Timur, Hamid Mahmud Baraja, tetap rutin mengirim 3-4 kontainer laurentii-setara 3.000-6.000 pot-ke Korea setiap bulan. ‘Permintaan meningkat 50%, tapi harga turun 50%,’ katanya. Toh, itu tak menyurutkan mantan direktur sebuah perusahaan pasta gigi itu untuk melempar laurentii ke negeri Ginseng.

Di antara laurentii itu ia kerap menyelipkan sansevieria zaelani australian black spot alias samurai. Ia tergolong turunan trifasciata yang lebih bandel dibanding laurentii. Jenis lain seperti bantel’s dan moonshine pun tak luput dikirim. ‘Suatu saat jenis eksklusif pun dapat diekspor. Prinsipnya, mereka siap menerima semua sansevieria dari tanahair. Asalkan volume minimal 3 kontainer terpenuhi,’ tutur Hamid.

Di Korea dan Jepang lidah jin jadi tanaman hias indoor dan outdoor. ‘Di musim dingin tanaman mati. Untuk musim berikutnya mereka membutuhkan pengganti,’ kata Hamid. Pantas pasarnya tak mengenal kata jenuh. Kelak, rebutan sansevieria eksklusif tak hanya terjadi di stan Andi di Blitar. Bila volume memenuhi, ekspor pun siap merebut pangsa. (Destika Cahyana/ Peliput: Argohartono Arie Raharjo, Dyah Pertiwi Kusumawardani, Evy Syariefa, dan Rosy Nur Apriyanti)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img