Monday, August 15, 2022

Lima Belas Tahun di Lampu Kuning

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Faisal menunda menjual kemedangan dari Papua dan menyimpannya di gudang. Itu bukti bahwa menjual kemedangan-kayu yang harum karena mengandung resin-tak selamanya mudah. Kemedangan itu berasal dari pohon Aquilaria filaria. Untuk mendatangkan produk nan harum itu ia mesti mengurus beberapa dokumen. Untuk ‘perjalanan’ dalam negeri, ia mesti memperoleh SATS-DN alias surat angkut tumbuhan dan satwa liar di dalam negeri.

Surat itu ditandatangani oleh kepala Badan Konservasi dan Sumberdaya Alam (BKSDA) provinsi setempat. Di surat itu tercantum bobot, jenis, dan mutu gaharu serta iuran hasil hutan dan berita acara pemeriksaan. BKSDA lalu menyegel kantong berisi gubal atau kemedangan. Segel itu baru dibuka ketika akan transaksi. Itu baru dokumen untuk mengangkut gaharu di dalam negeri.

Jika hendak mengekspor gaharu, dokumen lain juga harus dilengkapi. Menurut Faisal yang menjabat ketua Asosiasi Pengusaha Eksportir Gaharu Indonesia (Asgarin) dokumen lain itu adalah SATS-LN atau surat angkut tumbuhan dan satwa liar ke luar negeri, pemberitahuan ekspor, sertifi kat karantina, dan surat CITES Convention on International Trade in Endangered Species.

Rekaman video

Begitu banyak dokumen untuk memperdagangkan gaharu karena pohon penghasil gaharu masuk appendix II. Itu merupakan tahapan kehati-hatian dunia terhadap pemanfaatan sumber hayati liar. Jadi bukan semata-mata karena populasi, tetapi juga karena volume penjualan ke mancanegara sangat besar. Ibaratnya gaharu masih berada di lampu kuning, mesti hati-hati.

Semua bermula dari pertemuan anggota CITES di Florida, Amerika Serikat, pada 7-18 November 1994. Ketika itu India usul agar karas Aquilaria malaccensis dilindungi dan masuk appendix II. Alasannya di negeri Anak Benua itu populasi karas menyusut akibat perburuan. Delegasi Indonesia menolak usul India. Namun, tiba-tiba sebuah lembaga swadaya masyarakat menampilkan video yang menceritakan penebangan gaharu alam di Indonesia. Para pemburu mengangkut gaharu dengan helikopter.

‘Artinya penebangan itu tak dilakukan secara konvensional,’ ujar Dr Tonny Soehartono, direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati, Deparatemen Kehutanan. Melihat tayangan video itu delegasi Indonesia diam. Padahal, boleh jadi populasi gaharu Indonesia tak segawat India. Masalahnya kita tak mempunyai data pasti. ‘Kelemahan kita negara yang tak pernah siap dengan data,’ ujar seorang ahli gaharu. Dr Gono Semiadi APU, koordinator otoritas ilmiah CITES, yakin di Papua, misalnya, masih banyak Aquilaria filaria karena hutan lebat di sana ‘menyelamatkan’ gaharu.

Menurut Dr Tukirin Partomihardjo-anggota CITES-spesies masuk dalam appendix karena adanya kendala dalam perdagangan. Kendala itu adalah banyaknya penyelundupan. Contoh, kayu ramin Gonystylus bancanus yang sekerabat dengan pohon penghasil gaharu banyak diselundupkan ke Malaysia. Populasi ramin di Malaysia sangat kecil, tetapi peredaran kayu ramin di sana banyak. Akhirnya pada 2008 ramin masuk appendix II.

Tujuannya adalah melindungi spesies itu agar tak punah. ‘Itu untuk memastikan penebangan tidak merugikan kelangsungan hidup gaharu di alam,’ kata Dr Gono Semiadi, doktor alumnus Massey University, Selandia Baru. Menurut Yana Sumarna MSi, ahli gaharu dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, ada 27 pohon penghasil gaharu. Dari spesies-spesies itu semula hanya Aquilaria malaccensis yang masuk appendix II.

Namun, CITES memutuskan bahwa semua spesies penghasil gaharu masuk appendix II. ‘Sulit mengidentifi kasi gubal antarspesies. Gubal Aquilaria malaccensis dengan A. hirta, misalnya, sama. Akhirnya CITES menetapkan semua pohon penghasil gaharu masuk dalam appendix II,’ kata Tukirin, doktor Biologi Pertanian alumnus University of Kagoshima. Malahan Aetoxylon sympetalum dilindungi sehingga dilarang diperdagangkan.

Alasannya? Karena anggota famili Thymelaeaceae itu mampu memproduksi gubal tanpa bantuan mikroba. Pohon itu mempunyai cadangan resin sehingga meski tanpa inokulasi tetap menghasilkan kayu wangi. Itu persis spesies lokal Goniothalamus macrophyllus di Sumatera Selatan. ‘Kemarin saya ke Sumatera Selatan. Di sana warga membakar kayu Goniothalamus macrophyllus yang wangi. Pohon itu potensial sebagai penghasil gaharu,’ kata Tukirin.

Turun terus

Konsekuensi dari status itu perdagangan internasional gaharu dikontrol, bukan dilarang. Negara yang tak mampu mengontrol atau mengelola sistem perdagangan dapat meminta bantuan internasional untuk mengontrol dari 2 pintu: di negara eksportir dan negara importir. Dengan demikian tak ada lagi panen gaharu alam berlebihan. Bentuk pengontrolan itu adalah penetapan kuota ekspor.

Pada 2006, misalnya, CITES menentukan kuota ekspor gaharu Aquilaria filaria dari Indonesia 125-ton; A. malaccensis, 50 ton. Kuota itu-tak berlaku untuk gaharu budidaya-cenderung menurun dari tahun ke tahun. Bandingkan dengan kuota pada 1999: A. malaccensis mencapai 270 ton, sedangkan A. filaria, 250 ton. Menurut Tukirin dasar penetapan kuota itu antara lain tingkat regenerasi pohon, kemampuan berproduksi, umur panen, kecepatan tumbuh, periode berbuah, dan prediksi populasi.

Lima tahun terakhir budidaya gaharu marak di berbagai daerah. Penelusuran Trubus, banyak pekebun di Riau, Jambi, Bengkulu, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Barat, membudidayakan gaharu. Menurut Gono gaharu hasil budidaya bebas dipasarkan tanpa kuota. Namun, menjelang inokulasi pekebun harus mengajukan surat pemberitahuan ke BKSDA setempat. ‘Biayanya gratis,’ kata Gono.

BKSDA dan LIPI akan memberikan surat pernyataan bahwa kemedangan dan gubal itu hasil budidaya, bukan hasil perburuan di alam. Dengan makin banyaknya pekebun yang menanam gaharu, mungkin saja status appendix II dicabut. ‘Kalau memang masyarakat tak memburu gaharu di alam, populasi di alam sangat banyak, kenapa tidak? Bisa saja status appendix II itu dicabut,’ kata Tukirin. (Sardi Duryatmo/Peliput: Evy Syariefa, Faiz Yajri, dan Nesia Artdiyasa)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img