Wednesday, June 17, 2026

Lima Tahun Meniti Tangga Juara Dunia

Rekomendasi

Perjuangan pengharum nama Indonesia di kancah dunia itu jauh lebih singkat daripada dr Purbo Tedjokusumo. Lima tahun dihabiskannya untuk menggembleng 6 pride of sumatera. Hasilnya, 3 di antaranya sukses menapak tangga ke-2, menyisihkan para pesaing dari 70 negara di 5 benua.

Syahdan 10 tahun lalu, dr Purbo sedang asyik-asyiknya bergelut dengan aglaonema, tanaman yang baru dikenalnya belum lama itu. Suatu ketika ia mendengar kabar, kelak di Haarlemmermeer, Amsterdam, Belanda, digelar Floriade, ajang pameran tanaman hias terbesar di dunia yang diselenggarakan 10 tahun sekali. Salah satu acara di Floriade itu ialah lomba tanaman hias dengan 6 kategori, salah satunya tanaman hias indoor.

Saat itu juga otaknya langsung berputar mencari tanaman hias yang pantas diadu di ajang bergengsi itu. Selama 5 tahun ia sibuk melacak dan mengamati aneka tanaman hias yang ada. Toh, belum ada satu pun yang menyentuh hatinya.

Nun 60 km dari Jakarta, tempat Purbo sibuk merenung, di Bogor Gregori Hambali, breeder senior di Indonesia, sedang mencoba menyilangkan Aglaonema rotundum X A. commutatum ‘Tricolor’.

Setelah 5 tahun mengamati ribuan hasil silangan itu, akhirnya pada 1986 Gregori Hambali memproklamirkan pride of sumatera. Sebuah karya spektakuler yang membuat para penangkar di Th ailand dan Taiwan mengacungkan jempol. Tanaman baru itulah yang dipilih oleh Purbo untuk bertarung di kancah internasional.

300 daun

Waktu pertama kali dipersiapkan, 1997, enam aglao itu rata-rata masih berdaun 10 lembar. Setelah 5 tahun dikarantina dan digembleng, terpilihlah 3 aglaonema rimbun dengan 10 anakan yang rata-rata berdaun 100 lembar. Mereka merenggut mahkota juara 2 kategori tanaman hias indoor dengan nilai 9,58. Hanya terpaut 0,02 poin dengan juara pertama dari Belanda, Cochliostema jacobina.

“Saya tidak pernah membayangkan kemenangan ini,” kata Purbo. Ia bimbang karena, “Pasti mereka mempersiapkan tanamannya dengan matang,” tambah ayah satu putra itu. Kekhawatiran itu ternyata tidak terbukti. Sepuluh juri menunjuk 3 aglao Purbo sebagai gold price (poin 90 ke atas, red). Ada 50 dari 400 tanaman hias asal 5 benua yang menyandang nilai itu. Kelima puluh tanaman itu dipelototi lagi oleh para juri, sampai akhirnya predikat juara 2 diraih oleh aglao Purbo.

Sukses Purbo yang melambungkan nama Indonesia itu berkat perawatan super intensif sehingga aral alpa menghadang. Sejak awal dibeli, para kontestan itu diletakkan di sudut rumah. Lahan seluas 100 m2 itu ditutup rapat dengan screen berwarna hitam untuk mencegah masuknya hama. Setiap 3 hari sekali aglao-aglao itu diputar agar semua daun rata terkena sinar matahari sehingga tumbuhnya tegak.

Penyiraman dan pemupukan diberikan 1 minggu sekali. Pupuk yang diberikan ialah NPK seimbang dicampur atonik yang diberikan 1 minggu sekali. “Waktu penyiraman media harus benar-benar basah, juga daunnya,” papar pemilik Kreatif Flora itu. Jika cuaca panas dan kering, aglao diberi pengkabutan. Lantai ruangan disiram untuk mempertinggi kelembapan.

Tiga bulan sekali satu persatu daun dilap dengan kain basah. Setelah itu dioles dengan susu sapi murni. “Warna daun akan tampak lebih cerah dan mengkilap.” tutur alumnus Universitas Airlangga, Jawa Timur itu.

Enam bulan menjelang lomba, media lama berupa tanah diganti dengan arang sekam dan cocopeat dengan perbandingan 50:50. Sesuai standar internasional, konstestan harus memakai media nontanah, seperti cocopeat, arang sekam, pasir atau kerikil dan potongan kulit kayu berkambium. Purbo memilih campuran arang sekam dan cocopeat.

Rutinitas mengelap daun semakin sering. Seminggu sebelum terbang ke Belanda, aglao-aglao itu disiram sampai basah. Waktu 7 hari memadai untuk mencegah tingginya kelembapan selama perjalanan.

Kiat sederhana, tetapi terus-menerus itulah yang membuat aglao-aglaonya kian rimbun. Selama 5 tahun dikarantina, tak ada daun yang rusak atau ternoda. Ini penitng lantaran lomba internasional mensyaratkan, tak boleh ada satu daun pun yang dipotong. Mereka harus tumbuh alami. Purbo pun tidak pernah memisahkan anakannya supaya aglaonya tetap utuh, rimbun, dan menghasilkan minimal 60 lembar daun.

Kontes nasional

Jika pride of sumatera mengandaskan kompetitor di Belanda, maka tiara menjungkalkan aglao keluaran Th ailand di lomba aglaonema dalam negeri. Tiara, juga hasil utak-atik Greg Hambali, keluar sebagai juara nasional dalam lomba di Lapangan Banteng tahun lalu.

Daun yang rimbun dan mengkilap menjadi andalannya. Bentuk daun tiara milik Greg itu kokoh, tapi gemulai. Warnanya yang cemerlang menjadi nilai tambah luar biasa. Apalagi daun-daun itu benar-benar berkilau, berkat rajinnya Indri Hambali, istri Greg, mengelap daun itu satu per satu dengan kain basah. Silangan Greg itu masih langka. Menurut Ansori kelangkaan turut mempengaruhi penilaian. P e n amp i l a n n y a tambah prima berkat pemilihan ukuran pot yang serasi. Pantas jika tahta juara disematkan padanya.

Pride of sumatera dan tiara, 2 aglao karya anak bangsa, mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Sama seperti Andika Putra dan Adi Sucipto yang mengangkat derajat Bumi Nusantara lewat fi sika. (Dewi N Permas)

 


Artikel Terbaru

Kementan Mulai Salurkan Benih Tebu Unggul untuk Pengembangan Kebun Rakyat

Kementerian Pertanian mulai menyalurkan benih tebu unggul asal Kebun Benih Datar (KBD) secara berjenjang melalui mitra penangkar. Program itu...

More Articles Like This