Monday, August 15, 2022

Lobster Ungu dan Merah Bata dari Lembah Baliem

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Itulah Cherax monticola, lobster asli tanahair. Jenis itu banyak ditemukan di Sungai Lembah Baliem, Wamena, Papua. Banyak orang mencoba membudidayakannya, tetapi hasilnya mengecewakan. Monticola tidak tumbuh bongsor seperti yang diharapkan. Anggapan lobster itu tidak dapat dibudidayakan kecuali di habitat aslinya kian terbukti.

Namun tidak begitu dengan Iskandar, pemilik Istana Aquadi di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Enam bulan sudah ia membudidayakan si bongkok itu. Bibit monticola ia dapatkan dari rekannya di Papua. Kala itu ia hanya memperoleh ratusan ekor saja. Kini ribuan monticola bersarang di farmnya seluas 1.600 m2.

Bisa jadi monticola menjadi saingan Cherax quadricarinatus. Ukurannya lebih besar daripada red claw asal Australia itu. Dalam waktu 1.5 tahun ukuran maksimal bisa mencapai 40 cm. Capitnya kokoh dan tampak lebih gagah. “Monticola, bagus sebagai lobster hias,” ujar Iskandar. Apalagi didukung warna ungu seperti terung, semakin indah dipandang.

Untuk konsumsi, jenis itu tak kalah lezat dengan red claw yang lebih dahulu populer. Monticola dagingnya lebih berisi dan padat. Rasanya manis dan kenyal. Bagi yang sering mencicipi lobster pasti dapat merasakan bedanya.

Menurut Iskandar, budidaya monticola tak berbeda dengan red claw yang lebih dahulu populer di tanah air. “Untuk akuarium hias jumlah lobster jangan terlalu padat. Kalau konsumsi bisa disesuaikan,” ujar pria yang menekuni lobster sejak 1995 itu. Semakin leluasa lobster bergerak, ukuran kian besar.

Bukan hanya Iskandar yang mencoba memperbanyak monticola. Cuncun Setiawan juga coba memeliharanya. Di Bintaro Fish Center, Bintaro, Tangerang, Banten, puluhan monticola mendiami farmnya. Ketertarikannya itu bermula saat ia melihat lobster terung berukuran 1 kg/ekor di tempat asalnya, Wamena. Meski belum serius memperbanyak monticola, Cuncun yakin jenis itu dapat diterima masyarakat.

Hias

Papua rupanya memendam lobsterlobster berkualitas. Beragam lobster banyak ditemukan di sana, seperti monticola, black tiger, dan lorentzi. C. lorentzi tergolong unik. Tubuhnya seakan memantulkan sinar pijar tatkala terkena cahaya. Sinar kemerahmerahan keluar dari tubuhnya jika ia ditaruh di bawah sinar matahari. “Jenis ini sangat bagus untuk hias (akuarium, red),” ujar Iskandar. Apalagi jika ditaruh dalam akuarium dengan ukuran jumbo.

Warna tubuhnya merah bata. Capit birunya membuat sosok lorentzi semakin cantik. Ukurannya tidak jauh berbeda dengan red claw. Dalam waktu 1,5 tahun mencapai 30 cm. Rasanya? Layak disejajarkan dengan Cherax quadricarinatus.

Bukan lorentzi dan monticola saja yang dikoleksi Iskandar. Lobster asal Argentina pun diternaknya. Seperti Cherax milleriatau lebih dikenal lobster jingga. Tubuh famili Crustaceae itu semuanya berwarna jingga.

Ukurannya mini, tak lebih dari 15 cm. Itu bisa diperoleh dalam waktu 1,5 tahun. “Di negara asalnya, jenis itu untuk hiasan,” ujar ayah dari Adi Iskandar itu. Untuk konsumsi, milleri tidak disarankan, karena pertumbuhannya sangat lambat. (Dewi N Permas)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img