Friday, August 12, 2022

Longok 2 Farm Kelas Dunia di Tumasik

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Perjalanan ke Lim Chu Kang ditempuh dengan menggunakan Mono Rail Train (MRT) dari stasiun Somerset di kawasan Orchard Road. Total 17 stasiun dilewati sebelum berhenti di stasiun tujuan, Choa Chu Kang. Perjalanan selama 45 menit tidak terasa melelahkan karena suasana MRT nyaman dan bersih.

Dari Choa Chu Kang, Trubus melanjutkan perjalanan dengan taksi. Setelah menyebutkan tujuan, tangan Koh Tim Moo—supir taksi—segera membuka peta yang tersimpan di pintu kemudi. Dengan cekatan lembar demi lembar peta dibuka. “Saya tidak begitu hapal karena jarang ada orang berkunjung ke sana. Letaknya jauh di dalam hutan,” katanya.

Perjalanan ke Lim Chu Kang cukup jauh. Beruntung jalan-jalan di Singapura bebas macet. Taksi berwarna hitam yang dikemudikan Koh melaju rata-rata 80 km per jam. Perjalanan itu melintasi jalan tol yang menghubungkan Old Choa Chu Kang Road, Bricklands, dan Sungei Tengah. Keluar Old Choa Chu Kang Road tampak hamparan kebun anggrek, makam Cina, dan tempat daur ulang sampah. Sekitar pukul 09.50 Trubus tiba di Lim Chu Kang Lane 6D LCK 30, lokasi Hup Soon Aquarium Co.

Air hujan

Tidak tampak tanda-tanda farm ikan hias di lokasi itu. Bahkan sekadar papan yang menuliskan nama farm pun tidak terlihat. Hanya ada tulisan LCK 30 pada tiang besi. Tiga meter dari halaman depan, terlihat bangunan menyerupai rumah. Menurut penjaga, lokasi farm ada di bagian belakangnya. Setelah berjalan ke bagian belakang rumah, suara kecipak air mulai terdengar. Hal pertama yang terlihat adalah 2 pria dan seorang wanita yang sibuk menyortir platy. Memang, farm yang sudah berdiri selama 30 tahun itu spesialis jenis platy dan swordtail.

Di farm seluas 6 hektar itu diusahakan beragam platy dan swordtail, di antaranya mickey mouse platy dan red double sword. Walaupun suasana farm terkesan kumuh, tapi Hup Soon Aquarium dikenal sebagai pusat penghasil platy dan swordtail berkualitas di Singapura. Menurut William—putra Lee Eng Hua, managing director—hasil tangkaran farm-nya banyak diburu kolektor dan penangkar mancanegara.

Untuk breeding digunakan kolam semen berukuran 6 m x 5 m. Kolam seluas itu bisa menampung 6.000 ikan. Dari kolam semen, ikan disortir berdasarkan ukurannya, S, M, L, ML, dan XL. Untuk pembesaran, Lee Eng Hua melakukannya dalam bak-bak berukuran 1,5 m x 1,5 m. Antarbak dipisahkan oleh jaring hijau yang dikaitkan pada patok kayu. Satu bak bisa menampung hingga 1.000 ikan. Pertumbuhan di kolam tanah jauh lebih lambat daripada kolam semen. “Tapi di kolam tanah warnanya lebih muncul,” ujar William.

Setiap lajur bak diberi jalan terbuat dari kayu berdiameter 15 cm. Bagian atas bak juga ditutupi jaring. Tujuannya menjaga agar tidak ada burung yang memangsa ikan-ikan dalam kolam. Tidak seperti di tanahair, di sana ikan dipelihara dalam kolam berair hijau dan berlumut. “Air memang menjadi barang mewah bagi industri ikan di Singapura,” kata alumnus National University of Singapore itu. Sebab itu, air dalam kolam hanya diganti setahun sekali. Itu pun mengandalkan air hujan. Untuk karantina dan packing, Lee membeli air yang ditampung dalam tandon-tandon berkapasitas 1.000 l. Dalam sebulan ia menghabiskan 1.400 l.

Selain di Singapura, Hup Soon Aquarium Co juga memiliki 4 farm di Malaysia, di Kulai dan Layang-Layang. Farm di Malaysia berukuran lebih luas, mencapai 30—40 hektar. Farm di sana khusus untuk breeding, karena air melimpah. Kepemilikan tanah juga jauh lebih mudah. Bandingkan dengan Singapura, statusnya hak gunausaha dari pemerintah selama 20 tahun.

Sebab itu, farm di Singapura hanya dikhususkan sebagai tempat packing dan karantina sebelum diekspor. Ikan dari Malaysia dikarantina selama 3 hari dalam ruangan khusus berisi puluhan akuarium, sebelum di-packing dan dikirim. Dalam sebulan farm itu bisa mengirim 120 boks platy dan swordtail ke Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan Afrika Selatan. Selain platy dan swordtail, sejak 3 tahun lalu, farm ini juga mencoba membudidayakan arwana.

Trading

Selama hampir 1 jam Trubus menikmati suguhan pemandangan di Hup Soon Aquarium. Kunjungan dilanjutkan ke Aqua Fauna Fish Industries, sekitar 15 menit berjalan kaki dari Hup Soon Aquarium. Sekilas farm yang terletak di Lim Chu Kang Lane 6F, itu tampak seperti gudang. Menurut Fong Ching Loon, pemilik farm, Aqua Fauna memang bukan peternak, melainkan trader. “Biayanya terlalu tinggi untuk menjadi peternak,” ujar Fong.

Menempati lahan seluas 1,9 hektar, farm itu tergolong modern karena dilengkapi kantor, ruang pengemasan, dan bangunan khusus berisi akuarium dan bak semen. Ratusan akuarium dan bak semen diisi dengan berbagai jenis ikan siap ekspor. Jenis yang mendominasi di antaranya platy, tetra, dan corydoras.

Ikan-ikan itu dikarantina selama 3—4 hari sebelum diterbangkan ke berbagai negara tujuan. Negara tujuan ekspor pun beragam, Amerika, Australia, Jepang, sampai negara-negara di Uni Eropa. Pengiriman dilakukan setiap hari untuk jenis ikan berbeda. “Jumlah pengiriman tidak bisa ditentukan, karena fluktuatif,” kata Fong.

Fong mengimpor ikan hias dari berbagai negara. Salah satu negara andalannya adalah Indonesia. Eksportir ikan hias terbesar Indonesia, Jap Khiat Bun rutin mengekspor beragam ikan hias ke sini. “Jenis yang banyak diekspor dari Indonesia adalah tetra dan botia. Volumenya mencapai 10—20 boks/ minggu,” kata presiden Asosiasi Eksportir Ikan Hias Singapura itu. Jenis ikan lain didatangkan dari peternak di Taiwan, Cina, Malaysia, dan Afrika.

Senada dengan Hup Soon Aquarium, bagi Aqua Fauna air menjadi barang mewah. Karena itu Fong menampung air hujan untuk digunakan. Sebelum masuk akuarium, air itu diozonisasi sehingga kadar oksigen-nya tinggi. Dengan perlakuan ozonisasi, penggantian air dan pembersihan lumut tidak perlu sering dilakukan, cukup beberapa bulan sekali.

Hampir 45 menit Trubus ditemani oleh Fong Ching Loon mengelilingi farm-nya. Pukul 12.30 rombongan farm visit Aquarama 2007 pun tiba. Trubus yang sudah puas berkeliling farm memilih untuk mengakhiri kunjungan. Dengan diantar salah satu stafnya, Trubus kembali ke lokasi Aquarama 2007 di Suntec City. (Lani Marliani)

  1. Dalam air hijau dan berlumut di Hup Soon Aquarium inilah dihasilkan platy dan swordtail berkualitas
  2. Platy, ikan andalan Hup Soon Aquarium
  3. Fong Ching Loon, biaya menjadi peternak di Singapura sangat mahal
  4. Penyortiran platy di Hup Soon Aquarium
  5. Swordtail diburu kolektor mancanegara

Foto-foto: Dian Adijaya Susanto

 

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img