Monday, August 8, 2022

MAAF, CINTA KAMI MEMANG TERBAGI

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Seketika tangis Ririen pecah. Air matanya tak dapat dibendung. ”Saya syok luar biasa. Sedih sekali,” ujar manajer sebuah bank nasional di Yogyakarta itu.

Saking sedihnya, Ririen enggan melihat prosesi penguburan Koko. a tetap bekerja hari itu. Sepekan kemudian lara hati berangsur-angsur hilang, meski kenangan manis bersama Koko tak pernah lekang. Koko adalah persia kesayangan Ririen Suryo. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada itu ingat perjuangan terakhir Koko. Kucing yang dibeli Rp3-juta itu mengidap penyakit saluran kencing.

Perempuan 37 tahun itu membawa kucing berbulu abu-abu kehitaman ke klinik satwa. ”Pokoknya saya minta upaya maksimal. Tolong selamatkan nyawa kucing ini,” katanya kepada dokter hewan yang menangani operasi. Sepuluh hari pascaoperasi, Koko mesti opname di klinik itu. Sayang, kesembuhan yang diharapkan tak terwujud. Saran dokteragar Koko dioperasi di Jakarta disetujui Ririen.

Syukurlah operasi berlangsung lancar. Setelah opname 10 hari di Jakarta,

Koko kembali ke Yogyakarta. Di Kota Gudeg itu, ia kembali dirawat selama sepekan. Ririen

membesuknya usai pulang kerja. Ketika dipanggil, ”Koko merespon, saya bahagia sekali,” kata Ririen. Sayang, sepekan di rumah nyawa Koko tak tertolong lagi. Perjuangan Koko itulah yang mengesankan bagi Master Hukum Bisnis alumnus Universitas Gadjah Mada. Bunga-bunga pun ditaburkan di atas pusaranya.

Ada di tesis

Pantas saja Ririen Suryo merasa kehilangan atas kepergian Koko. Hubungan Ririen dengan kucing-kucingnya memang akrab. ”Hubungan emosional kami sudah seperti anak. Dia bisa mengisi hari-hari kami sehingga tak pernah merasa sepi, meski belum punya momongan,” kata Ririen. Lihatlah bagaimana ia dan Roy Suryo memperlakukan Katty. Mereka bertiga senantiasa tidur sekamar.

Ketika adzan subuh berkumandang, Katty mendekati telinga Ririen dan bersuara lembut. ”Kalau saya belum bereaksi, ia bersuara lebih keras,” ujarnya. Belum bangun juga? Katty akan menggigit lembut hingga Ririen terbangun. Bila hendak berurine atau sekadar cari angin, Katty biasanya memainkan kunci pintu. Maksudnya agar pintu segera dibuka. ”Ia cerdas, IQ (Intelegent Quotient, red)-nya seperti anjing,” tutur perempuan kelahiran 10 Desember 1968 itu.

Jika Roy hendak berseminar, Katty tampak manja. Ia biasanya tidur di atas laptop yang akan dibawa dosen Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada itu. Oleh karena itu jika ada di luar kota, Roy selalu bertanya, ”Apa aktivitas Katty hari ini?” Begitu akrabnya hubungan itu sampaisampai Ririen mengucapkan terimakasih kepada Katty di tesisnya. Dalam penyusunan tesis itu, Katty kerap menemani alumnus Noktariat Universitas Atmajaya Yogyakarta itu mengetik.

Ririen Suryo dan Katty, kucing ras pertamanyaryo

Kucing berbulu lembut itu mendapatkan tempat istimewa di hati pasangan yang menikah pada 1994 itu. Saat mereka menghadiri seminar di Swiss, foto-foto Katty dibawa serta sebagai pelipur kangen. Pada malam hari mereka kerap memandangi gaya Katty. Namun, kepergian Ririen-Roy keEropa selama 10 hari menyisakan kesedihan bagi Katty. Bobot tubuhnya anjlok 2 kg hingga tampak kurus.

Ibunda Ririen menuturkan, napsu makan Katty turun selama pasangan itu pergi. Pada pukul 17.00—jam pulang kerja—Katty selalu menunggu di balik pintu.

Wajahnya murung. Ketika mereka kembali dari Swiss, barulah napsu makan Katty kembali seperti semula. Katty merupakan kucing ras pertama milik pasangan itu yang dibeli pada 2000. Saat itu Roy menjadi pembicara seminar 2 hari di Bandung.

Usai seminar hari pertama, pria 37 tahun itu menyempatkan jalan–jalan ke pet shop. Begitu melihat Katty, ia langsung jatuh hati. Sejam sebelum kereta api tiba di Yogyakarta, Roy meminta Ririen agar membuatkan susu. “Roy tak pernah minum susu, biasanya teh,” kata Ririen diliputi penasaran. Mungkin, karena kereta anjlok dan terlambat 4 jam, sehingga Roy keletihan sehingga minta dibuatkan susu, batin Ririen.

Betapa riangnya Ririen ketika suaminya tiba di rumah dan memperlihatkan belgian short hair bernama Katty. Susu yang ia bikin, diseruput oleh kucing berbulu halus itu. Pada perkembangan berikutnya, koleksi Ririen terus bertambah hingga menjadi 20- an ekor. Sebagian ia impor dari berbagai negara seperti Rusia dan Australia. Ras terbanyak koleksinya adalah persian.

Kanker rahim

Yang juga hobi memelihara kucing adalah Muthia Taurissa yang ngetop dengan nama Rissa Susmex. Pembawa acara Liga Italia di sebuah kanal televisi itu mempunyai 2 persia: Fasco dan Fablo, serta seekor angora bernama Cutmi. Tiga kucing itu turut mewarnai hari-hari perempuan kelahiran Jakarta 25 April 1979.

Pagi sebelum meninggalkan rumah untuk syuting, pemain sinetron itu menyempatkan diri bermain dengan klangenannya. Perempuan 26 tahun itu menggendong satu per satu kucingnya. Lalu diajaknya mereka bermain bola atau tali. Hingga petang atau kerap kali malam, ia baru merampungkan kegiatan di luar rumah. Saat Rissa pulang, 3 ekor kucingnya menyambut kedatangan perempuan semampai itu.

Mereka mengikuti langkah Rissa. Letih bekerja seharian, berangsur-angsur hilang melihat tingkah-pola mereka yang lucu. Selama di rumah, kebersamaan Rissa dengan kucingnya hampir tak pernah berakhir. Wajar bila pemeran utama dalam Cinta Bujursangkar itu memahami karakter kucing-kucingnya. ”Bila ekor dikibaskibaskan itu tandanya senang. Kalau haus, lidah dijulur-julurkan,” katanya.

Kebersamaan itu berlanjut hingga di tempat tidur. Ketiga kucing itu tidur bersama di peraduan Rissa. ”Sudah seperti adikku sendiri,” kata Rissa. Begitu dekatnya hubungan itu, sehingga Rissa menangis ketika Cutmi opname selama 3 hari. Diagnosis dokter hewan menyebutkan, kucing berbulu abu-abu itu mengidap kanker rahim. Itulah sebabnya ia mesti dioperasi.

Untuk merawat ketiga kucingnya, alumnus London School of Public  Relation itu menghabiskan dana jutaan rupiah per bulan. Biaya itu meliputi pembelian pakan, cek kesehatan, dan perawatan rutin di salon. Setiap bulan, kucing-kucing yang mendapat limpahan kasih sayang itu dibawa ke dokter hewan. Di sana kesehatan—kulit, telinga, mata, dan kaki—dicek. Vaksinasi dilakukan setiap 2 bulan.

Rissa mungkin tak membayangkan dapat menggemari kucing. Sebab, trauma masa kanak-kanak sulit dihapuskan. Ketika masih bocah, seseorang melempar seekor anak kucing ke wajahnya. Tanpa ampun, kucing itu mencakar wajahnya menyisakan luka dan trauma. Namun, seperempat abad kemudian, ia jatuh hati melihat sosok Cutmi di rumah kerabatnya. Ia pun memboyong Cutmi ke rumahnya.

Dua bulan berikutnya ia membeli 2 persia senilai Rp6-juta. Kepada 3 kucing kesayangan itulah cinta Muthia Taurissa terbagi. Hal serupa juga dialami oleh para hobiis kucing lainnya seperti Ririen Suryo. Cintanya kepada sang suami, juga terbagi buat puluhan kucing ras. Anggota famili Felidae itu hidup dalam limpahan kasih sayang: pakan lezat, kamar nyaman berpendingin, perawatan rutin di salon, dan belaian mesra. Bahkan ketika mati pun, taburan bunga mengantarkan nyawa ke alam baka. (Sardi Duryatmo/Peliput:

Rahmansyah Dermawan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img