Friday, August 19, 2022

Madu Manjur Dongkrak Imun

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Konsumsi madu alami untuk kualitas mutu yang lebih terjamin.

Konsumsi madu meningkatkan sistem imun tubuh.

Trubus — “Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.” Lebih dari 1.400 tahun silam surat An Naml ayat 68 dalam Al Qur’an membahas khasiat madu. Salah satu manfaat madu adalah meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Di tengah wabah Corona virus disease 2019 (Covid-19) imunitas tubuh meningkat sangat berguna untuk mencegah serangannya.

Menurut dokter di Jakarta, dr. Hafuan Lutfie, madu murni meningkatkan imunitas dan daya tahan tubuh, sehingga membantu proses penyembuhan. “Madu bersifat seperti antibiotik, tetapi merupakan antibiotik alami yang aman karena tidak menimbulkan efek samping,” kata dokter alumnus Universitas Sriwjaya itu. Menurut Hafuan madu secara umum mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh karena nutrisi madu paling lengkap.

Antibakteri

Hafuan menuturkan, madu berkadar gula tinggi, 80—90%. Yang istimewa kadar gula terbanyak hingga 70% berupa gula sederhana, yakni fruktosa. Jenis gula lain dalam madu adalah glukosa dan sukrosa. Surkosa merupakan sumber utama fruktosa. Hasil riset menyatakan konsumsi fruktosa yang berasal dari bahan alami tidak membahayakan kesehatan karena fruktosa tidak akan dialirkan ke dalam darah. Oleh karena itu, kadar gula darah stabil meski orang itu mengonsumsi madu.

Madu dihasilkan dari lebah dengan genus Apis.

Menurut periset di Fakultas Kedokteran Lampung, Gheavani Legowo, madu memiliki efek antioksidan. Itu karena kandungan beragam senyawa aktif dalam madu seperti vitamin C, flavonoid, polifenol, mangan, dan betakaroten mampu melindungi sel-sel tubuh. Periset dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Elsi Wineri dan rekan menunjukkan, madu juga memiliki daya hambat terhadap bakteri Streptococcus beta hemolitikus grup A.

Bakteri itu penyebab penyakit faringitis atau peradangan pada tenggorok atau hulu kerongkongan. Penyakit itu biasa dikenal dengan radang tenggorokan. Selain itu Elsi dan rekan membandingkan kemampuan daya hambat antara madu alami dan madu kemasan. Hasil riset menunjukkan kedua madu itu memiliki perbedaan yang signifikan. Madu alami lebih kuat dibandingkan dengan madu kemasan dalam menghambat pertumbuhan bakteri.

Daya hambat madu alami rata-rata mencapai 12,67 mm, sedangkan madu kemasan 10,67 mm. Itu artinya konsumsi madu alami lebih disarankan. Selain lebih terbukti faedahnya sebagai antibakteri, kemurnian senyawa yang tergandung juga lebih terjaga. Riset Meutia Filzan Kamilah dari Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret juga menunjukkan hal serupa.

Ia meriset kualitatif madu sebagai obat komplementer atau pelengkap untuk pengobatan faringitis. Pengujian dilakukan pada 25 responden dengan rentang usia 18—48 tahun. Hasil riset Meutia menunjukkan tidak memiliki syarat dosis tertentu pada umur. Berdasarkan pengalaman responden, madu juga tidak memberikan efek samping yang buruk bagi kesehatannya.

Minuman

Sifat antibakteri dari madu banyak diperankan oleh hidrogen peroksida yang dihasilkan oleh enzim glukosa oksidase pada madu. Maka dari itu madu mampu membantu mempercepat pemulihan faringitis. Konsumsi madu sejatinya tidak harus secara tunggal. Pemanfaatannya dapat ditambahkan pada beragam olahan makanan atau minuman. Salah satunya adalah kombuca.

Kombuca merupakan olahan fermentasi menggunakan bantuan bakteri Acetobacter xylinum yang bersimbiosis dengan khamir. Pada umumnya kombuca terbuat dari larutan teh, tetapi Arlinda Pebiningrum dan Joni Kusnadi meriset kombuca yang berbeda, yakni kombuca jahe. Periset dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya itu menambahkan madu pada kombuca jahe merah.

Substitusi madu sebagai pemanis salah satu upaya jaga daya tahan tubuh.

Hasil riset Arlinda dan Kusnadi menunjukkan penambahan madu pada kombuca jahe yang paling baik adalah 20%. Tidak hanya itu, berkat kandungan vitamin C, asam organik, enzim, asam fenolik, flavonoid, dan betakaroten dalam madu, aktivitas antioksidan kombuca jahe makin tinggi.

Selain proses, kondisi fisik madu adalah salah satu penentu madu yang baik. Kondisi fisik biasanya dipengaruhi oleh metode penyimpanan. Metode penyimpanan yang tepat akan menjaga mutu madu. Kadar air juga terpengaruh oleh suhu penyimpanan. Devyana Dyah Wulandari melakukan riset membandingkan penyimpanan madu pada suhu ruang ±25°C dan penyimpanan madu pada suhu dingin ±5°C.

Periset dari Fakultas Kesehatan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya itu menyatakan, penyimpanan madu pada suhu dingin lebih disarankan. Karena hasil risetnya menunjukkan kadar air yang terkandung pada madu suhu dingin lebih rendah dibandingkan dengan madu pada suhu ruang. Kadar air adalah banyaknya air yang terkandung pada suatu bahan. Kadar air maksimal yang terkandung dalam madu adalah 22%. Bila melebihi batas, madu akan mudah rusak akibat fermentasi. (Hanna Tri Puspa Borneo H.)

Previous articleCitrus Versus Virus
Next articleJasa Baik si Buruk Rupa
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img