Trubus.id— Permintaan madu trigona berkualitas premium terus meningkat. Bahkan sejumlah pelaku usaha mulai melayani pasar luar negeri karena tingginya minat terhadap madu lebah tanpa sengat itu.
Pengusaha madu asal Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, H. Sri Hidayat, memproduksi sekitar 50—100 kg madu Heterotrigona itama setiap bulan. Ia menjual madu langsung kepada konsumen dengan harga Rp350.000 per kg.
Menurut Hidayat, sebagian pembeli menggunakan madu tersebut untuk dijual kembali dengan merek sendiri. Bahkan pada 2022 ia pernah menerima permintaan ekspor hingga 100 kg per bulan dari Malaysia.
“Pernah pada 2022 ada permintaan 100 kg per bulan dari Malaysia,” ujar Hidayat.
Selain Malaysia, konsumennya juga berasal dari Somalia. Mereka biasanya membeli madu saat berkunjung ke Indonesia dengan nilai transaksi mencapai jutaan rupiah.
Meski harganya tergolong premium, permintaan madu trigona tetap tinggi. Hidayat bahkan mengaku kerap kesulitan memenuhi kebutuhan pasar karena pasokan madu masih terbatas.
Untuk mengatasi hal itu, ia bekerja sama dengan lima pengepul dari berbagai daerah. Salah satu mitranya bahkan memiliki jaringan hingga 100 peternak lebah trigona.
Awalnya Hidayat dikenal sebagai penjual madu Apis. Namun sejak 2020 ia mulai menyediakan madu trigona karena adanya permintaan pasar yang terus meningkat.
Kini Hidayat memiliki mesin khusus untuk menurunkan kadar air madu agar teksturnya lebih kental sesuai selera konsumen tertentu. Dengan proses itu, bobot madu biasanya menyusut dari 1 kg menjadi sekitar 800 gram.
“Madu yang sudah dikentalkan biasanya aromanya berkurang, tetapi tidak signifikan,” katanya.
Hidayat juga tengah menyiapkan kawasan budidaya trigona seluas 1,2 hektare di Jonggol, Kabupaten Bogor. Lahan itu akan diisi sekitar 200 stup lebah dan dikembangkan sebagai pusat edukasi serta wisata lebah.
Di lokasi tersebut pengunjung nantinya dapat memanen madu langsung, menikmati wisata alam, hingga membeli berbagai produk madu trigona.
