Thursday, August 18, 2022

Makhluk Mini Pengganda Produksi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Bukan hanya produksi tanaman yang membubung 3 kali lipat, mutu tomat pun meningkat. Dari total produksi itu 13 ton termasuk berkualitas A-bobot 500 gram, 16,25 ton mutu B(sekilo 3 buah), dan 9,75 ton kualitas C. Harga jual masing-masing kelas adalah Rp25.000, Rp20.000, dan Rp10.000 per kg. Selain itu warna merah buah Solanum lycopersicum itu lebih terang, rasa kian manis, dan tahan simpan hingga sepekan. Biasanya buah tomat hanya bertahan 2 hari pascapanen.

Singkat kata baik kuantitas maupun kualitas tomat momotaro di kebun Bobon meningkat signifikan. Padahal, pekebun sayuran alumnus Universitas Parahyangan itu menerapkan jarak tanam sama, 30 cm x 30 cm, dan varietas yang dibudidayakan sama pula, momotaro.

Peningkatan produksi dan mutu momotaro itu karena pupuk hayati yang diterapkan Bobon sejak Januari 2009. Ia menghabiskan total 10 liter pupuk

hayati per periode tanam. Pekebun itu mengencerkan 1 liter pupuk dalam 200 liter air dan memasukkan ke dalam media hidroponik tomat melalui saluran irigasi tetes. Frekuensi penyemprotan 4 kali dengan interval 14 hari sejak tanaman berumur 2 pekan. Biaya pupuk Rp500.000 relatif kecil ketimbang penambahan omzet akibat lonjakan produksi dan mutu buah.

Tren hayati

Gara-gara memanfaatkan pupuk hayati, ruangan 20 m2 di rumah Dayat Zaenuddin makin longgar. Semula ruangan itu ia manfaatkan untuk menyimpan pupuk Urea dan KCl. Tinggi tumpukan karung berisi pupuk mencapai 2 meter. Pekebun jagung manis di Desa Bojong, Kecamatan Nagrag, Kabupaten Bandung, itu menghabiskan 3.800 kg pupuk anorganik per ha per periode tanam. Setelah menggunakan pupuk hayati, konsumsi pupuk anorganik turun hingga 70%.

Meski penggunaan pupuk kimia berkurang, produksi jagung manis di kebun Dayat justru menjulang hingga 12 ton per ha. Bandingkan dengan produksi sebelumnya ketika ia menggunakan pupuk kimia, cuma 7,5 ton per ha. Itu bukan peningkatan produksi yang kebetulan belaka. Sebab, ia telah 3 kali memanen dengan hasil sama: 12 ton per ha. Karena jagung lebih manis, permintaan pengepul meningkat 2-3 kali lipat.

Jenis pupuk yang digunakan Dayat Zaenuddin dan Bobon Turbansyah sama: pupuk hayati yang bikin senyum petani. Menurut Dr Rasti Saraswati, ahli mikrobiologi tanah dari Balai Penelitian Tanah, istilah pupuk hayati digunakan sebagai nama kolektif untuk semua kelompok mikroba tanah-bakteri, cendawan, mikoriza-sebagai penyedia hara dalam tanah. Intinya pupuk hayati adalah biang hara berbahan organisme hidup yang berfungsi bagi tanaman.

Pupuk hayati berbeda dengan pupuk organik yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik dari tanaman atau hewan yang telah melalui proses rekayasa untuk memasok bahan organik. Setahun terakhir pupuk hayati mulai populer di kalangan para pekebun sayuran, tanaman pangan, buah, dan tanaman perkebunan. Indikasinya kian banyak pekebun yang menggunakan pupuk hayati.

Di Desa Getarejo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, ada Adi Widjaja, yang merasakan lonjakan produksi kedelai hingga 3,4 ton per ha. Itu setelah ia memberikan pupuk hayati rhizobium. Produksi kedelai tanpa pupuk hayati rata-rata 1,4 ton per ha. Ketika menggunakan mikoriza Glomus aggregatum, Subandi, pekebun bawang merah di Srigading, Kecamatan Sanden, Bantul, Yogyakarta, menuai 20-23 ton; sebelumnya hanya 15 ton per ha.

Masih banyak pekebun yang menggunakan pupuk hayati. Sekadar menyebut beberapa contoh Agus Suprapto membibitkan kentang, Nano Indrapraja (caisim, kol), dan Suta Sentana (padi). Kelapasawit, aneka tanaman hias, melon komoditas lain yang juga diberi pupuk hayati (baca boks: Produksi Terkerek).

Pantas bila produksi pupuk hayati terkatrol akibat tingginya permintaan. Rainer Tobing memproduksi 11.000 liter pupuk per bulan. Dibanding tahun lalu, produksi itu meningkat 60%. Handri Hanibal juga merasakan melambungnya permintaan. Pada 2005 ketika mengawali bisnis pupuk hayati, ia mampu memasarkan 400.000 liter per tahun. Setahun terakhir Hendri memasarkan 10-juta liter per tahun. Produsen lain seperti Sujimin, PTGatara, PTNusa Pala Gemilang, dan PTBintang Timur Pasifik juga mengalami peningkatan produksi signifikan.

Multiguna

Meningkatnya produksi seperti di kebun Bobon hingga 200% memang sangat spektakuler. ‘Peningkatan produksi 25% saja atau produksi tetap, tetapi mampu mengurangi penggunaan pupuk buatan sangat menggembirakan,’ kata Prof Dr Tualar Simarmata, guru besar Ilmu Tanah Universitas Padjadjaran. Pengurangan pupuk anorganik berarti menekan biaya produksi, memperbesar margin, sekaligus mencegah kerusakan lahan.

Bagaimana duduk perkara pupuk hayati mengatrol produksi beragam komoditas? Dr Rasti Saraswati mengatakan mikroorganisme menyediakan sumber hara bagi tanaman, merangsang sistem perakaran agar berkembang sempurna, dan memperpanjang umur akar. Pupuk hayati yang beredar pada umumnya mengandung bakteri penambat nitrogen, pelarut fosfat, atau pelarut kalium. Beberapa merek mengandung gabungan lebih dari satu mikroba.

Peran mikroba-mikroba itu menjadi koki penyedia ‘makanan’ bagi tanaman. Mikroba seperti Azospirillum sp dan Azotobacter sp, misalnya, piawai menambat nitrogen sehingga tanaman dapat memanfaatkannya. Dra Selly Salma MSi, mikrobiolog dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetika Pertanian (BB Biogen), mengatakan 74% kandungan udara adalah nitrogen. Sayangnya, tanaman tidak dapat langsung memanfaatkan nitrogen itu. Mikroba berperan mengolah nitrogen sehingga siap ‘konsumsi’.

Selly mengatakan lahan-lahan pertanian di Indonesia mengandung fosfor cukup tinggi. Itu akibat petani jor-joran memupuk. Namun, hanya sebagian kecil yang dapat dimanfaatkan tanaman, selebihnya terikat pada mineral liat tanah. Mikroba pelarut fosfat seperti Penicillium sp dan Bacillus megatherium itulah yang mampu melepaskan ikatan fosfor dari mineral liat. Dengan demikian tanaman langsung dapat memanfaatkannya.

‘Mikroba pelarut fosfat, pada umumnya juga mampu melarutkan kalium,’ ujar magister Mikrobiologi alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Malahan Azotobacter sp mampu menambat nitrogen, melarutkan fosfat, sekaligus menghasilkan hormon untuk pertumbuhan tanaman. Dengan kemampuan itu tanah menjadi kaya hara sehingga produksi tanaman pun terdongkrak meski pupuk anorganik dikurangi.

Peran mikroba bukan hanya menyediakan unsur hara bagi tanaman. Makhluk liliput itu juga melindungi tanaman dari gempuran hama dan penyakit. Ahmad Syaikhu, pekebun di Desa Betet, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, membuktikannya. Ia memanfaatkan Vertisillium sp untuk melindungi beragam komoditas seperti tomat, terung, dan melon dari ganyangan kutu putih. Ketika tanaman di lahan pekebun lain luluh-lantak, komoditas di lahan Syaikhu segar-bugar.

Masih banyak mikroba sebagai biopestisida seperti Bauveria bassiana dan Metharizium anisopliae. Dr Etty Pratiwi dari BBBiogen mengilustrasikan mikroba itu ibarat antioksidan bagi tubuh manusia yang memperkuat sistem kekebalan tubuh. Konsumsi pangan mengandung antioksidan bakal meningkatkan sistem imunitas sehingga tak mudah terserang penyakit. Demikian juga pada tanaman yang diberi pupuk hayati.

Tanpa izin

Walau demikian bukan berarti penggunaan pupuk hayati sempurna dan tanpa cela. Pertama, banyak merek yang beredar di pasaran, tapi ada yang belum berizin. Pusat Perizinan dan Investasi Departemen Pertanian mencatat hingga 20 Oktober 2009 baru 36 merek pupuk hayati yang mengantongi izin edar di pasaran. Jika petani salah memilih merek, mungkin saja produksi dan mutu tak akan menjulang.

Dalam sebuah merek, biasanya terdapat beberapa variasi yang acap kali justru membingungkan petani. Lihat saja Engkos dan Oman, keduanya petani kedelai di Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Penyuluh lapangan dan produsen mengatakan, sebelum penanaman rendam benih kedelai dalam larutan pupuk-sebut saja Fertibio A. Sedangkan Fertibio Bdigunakan untuk menyemprot lahan untuk mendekomposisi bahan organik.

Yang terjadi adalah sebaliknya: Engkos dan Oman merendam benih dalam larutan Fertibio B; Fertibio Auntuk menyemprot tanah. Dampaknya tingkat perkecambahan amat rendah. Pemberian pupuk hayati juga harus diimbangi dengan ketersediaan bahan organik agar mikroba bertahan hidup.

Hambatan lain adalah lingkungan tumbuh di lahan sangat bervariasi. Sebab, ‘Pada prinsipnya penggunaan pupuk hayati adalah ‘beternak’ mikroba sehingga langkah pertama adalah memastikan mikroba mampu bertahan hidup dan berkembang biak di lingkungan yang baru,’ ujar Tualar Simarmata. Oleh karena itu penggunaan mikroba spesifik lokasi jauh lebih baik.

Pekebun pun harus bijaksana memanfaatkan biopestisida. Jika hama dan penyakit menyerang tanaman, pekebun harus berhati-hati mengendalikannya. Ir Wahono Hadi Susanto MS, ahli pupuk hayati dari Universitas Brawijaya, mengatakan penyemprotan pestisida untuk mengendalikan hama dan penyakit sebaiknya menghindari terjadinya kontak langsung dengan pupuk hayati. Persoalan muncul ketika pekebun menyemprotkan pestisida-kimia maupun biopestisida berbahan mikroba sekalipun-di pangkal batang.

Di bagian itulah biasanya pupuk hayati diberikan. ‘Pestisida meskipun berbahan mikroba, bersifat antagonis yang menonaktifkan mikroba yang menjadi pupuk hayati. Dampaknya mikroba dalam pupuk hayati tak optimal bekerja,’ kata Wahono.

Sedangkan penggunaan pupuk anorganik sesuai dosis anjuran tak berpengaruh buruk terhadap mikroba. Penyemprotan pestisida di daun, bukan masalah.

Kesuburan turun 30%

Bila petani menerapkan 3 tepat-memilih, dosis, dan penggunaan-peningkatan produksi sebuah keniscayaan. Oleh karena itu banyak pekebun berbondong-bondong menggunakan pupuk hayati. Di sisi lain penggunaan pupuk anorganik menghadapi banyak masalah. Dr Karden Mulya, periset BBBiogen, mengatakan pupuk anorganik acap kali langka justru menjelang musim tanam.

Akibat kelangkaan itu harga pupuk pun meningkat. Bagi pekebun, itu berarti biaya produksi membengkak. Begitulah masalah yang kerap dihadapi banyak petani termasuk Yohanes Songgo, petani di Desa Ekoleta, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Celakanya margin tak selamanya seiring sejalan dengan peningkatan biaya produksi. Pada saat itulah petani mencari alternatif yakni pupuk hayati yang jauh lebih murah.

Belum lagi banyak pupuk palsu beredar. Riset Dr Diah Setyorini, peneliti Balai Penelitian Tanah, membuktikan 80% pupuk yang beredar di Jawa dan Sumatera palsu alias tak sesuai dengan keterangan di label kemasan. Selain itu kondisi sebagian besar tanah di Indonesia rusak parah akibat penggunaan pupuk kimia. Kandungan bahan organik di dalam tanah amat rendah, hanya 2%.

‘Nilai kesuburan tanah menurun 30%,’ kata Dr INyoman Pugeg Aryantha, ahli mikrobiologi dari Sekolah Teknologi dan Ilmu Hayati Institut Teknologi Bandung. Jika pada 1970, petani padi hanya perlu 70 kg pupuk, sekarang 400 kg per ha. Penyebab merosotnya kesuburan tanah lantaran petani memberikan pupuk kimia secara jor-joran. Dampaknya porositas dan daya ikat air rendah.

Itu mengakibatkan kelembapan tak sesuai untuk kehidupan mikroba di daerah perakaran. Padahal, area perakaran merupakan belantara kehidupan beraneka makhluk liliput seperti bakteri, cendawan, dan protozoa yang menguntungkan. Mereka memerlukan kelembapan 60-65%. Karena tanah rusak akibat minim bahan organik, maka mikroba pun tak mampu bertahan sehingga kesuburan menurun.

Menurut Ir Ladiyani Retno Widowati MSc, periset Balai Penelitian Tanah, dalam jangka panjang penggunaan pupuk anorganik merusak keseimbangan tanah. Pupuk Urea, misalnya, bersifat asam dan mudah larut dalam air. Bila digunakan dalam jangka panjang mengakibatkan tanah masam sehingga produktivitas anjlok. Karena mudah larut dalam air, Urea berpotensi menimbulkan pencemaran air.

‘Dulu saya tak pernah sadar, bahwa ada pupuk lain yakni pupuk hayati yang lebih sehat. Saya baru sadar belakangan dan saya tak malu untuk mengatakan itu. Sampai sekarang pun banyak kawan di industri pupuk anorganik yang belum sadar,’ ujar mantan direktur utama PTPupuk Kaltim dan PTPupuk Pusri, Dr Zaenal Soedjais. Itulah beberapa pemicu pekebun beralih memanfaatkan pupuk hayati.

Menurut Soedjais penggunaan pupuk hayati memang tak sepenuhnya menggantikan pupuk kimia. ‘Kalau mampu mengurangi 60% saja sudah luar biasa. Jika kebutuhan Urea kita saat ini 5,5-juta ton per tahun, hanya tinggal 2-juta ton. Produksi pupuk kimia (Urea) sisanya bisa diekspor,’ ujar doktor Pertanian alumnus Universitas Gadjah Mada itu.

Kuasai dunia

Pupuk hayati sebetulnya merupakan kebutuhan para petani. Bagimana dampak penggunaan pupuk hayati dalam jangka panjang? Sebagian orang mengatakan berbahaya lantaran menjadi bumerang. Ketika kandungan fosfor dan kalium di dalam tanah hilang, dikhawatirkan mikroba mengambil mineral tanah. Dampaknya terjadi pemiskinan tanah. Kekhawatiran itu tak beralasan. Penggunaan pupuk hayati dalam jangka panjang tak berdampak buruk.

Menurut Dr Darmono Taniwiryono, kepala Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia,, penggunaannya malah berefek positif. ‘Justru lebih bagus asal ketersediaan bahan organik di dalam tanah yang merupakan sumber makanan mikroba mencukupi,’ kata doktor Patologi Tumbuhan alumnus University of Wisconsin, Madison, Amerika Serikat itu. Dengan sederet keistimewaan itu banyak kalangan-ahli, petani, produsen-mengatakan prospek pupuk hayati sangat bagus.

‘Masa depan umat manusia ada pada mikroba,’ kata Selly Salma. Ucapan sama dilontarkan oleh Dr Bernard Dixon, editor jurnal American Society of Microbiology dan Medical Science Research. ‘Mikroba, bukan makroba, yang akan menguasai dunia,’ kata Dixon. Bidang kesehatan, pangan, farmasi, pertanian bergantung pada makhluk liliput berukuran supermini, 4 mikron, itu. (Sardi Duryatmo/Peliput: Faiz Yajri, Imam Wiguna, Nesia Artdiyasa, & Tri Susanti)

 

Warna

Dr Djatnika punya cara sederhana menguji pupuk hayati tanpa tanggal kedaluarsa.

Periset di Balai Penelitian Hortikultura itu, mengoleskan cairan atau granular pupuk hayati ke permukaan umbi kentang terbelah. Dua hari berselang, muncul hifa alias benang halus berwarna hijau di umbi kentang. Hifa organ cendawan seperti Trichoderma sp lain yang berperan seperti akar untuk perlekatan sekaligus berkembang biak.***

Lendir

Uji dengan kentang juga dapat digunakan untuk pupuk mikroba dari kelompok bakteri. Bakteri biasanya meninggalkan jejak berupa lendir bening di atas permukaan umbi kentang. Lendir itu merupakan “eksudat” bakteri. Sedangkan pupuk hayati yang mengandung mikoriza akan menghasilkan hifa alias benang halus berwarna putih.***

CO2

Botol pupuk hayati menggembung indikasi mutu buruk. Itu karena karbondioksida (CO2) hasil respirasi mikroba. Sebab, mikroba di dalam pupuk hayati tetap hidup. Di sisi lain jumlah oksigen di dalam botol terbatas. Ketika karbondioksida mendominasi, mikroba terpaksa memakannya sebagai pengganti oksigen. Akibatnya sifat dan faedah mikroba bagi tanaman berubah. ***

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img