Sambil menepis titik-titik air yang jatuh di wajah, satu per satu mereka menghampiri sebuah gubuk kecil tanpa nama. Di sana mereka asyik menimang-nimang buah seukuran bola pingpong berwarna jingga cerah, lalu mencicipi dagingnya. “Mmm…manis, tolong tambah 2 plastik lagi,” ujar seorang ibu sambil mengangsur sehelai uang kertas dua puluh ribu rupiah. Begitulah transaksi jual-beli jeruk siem kala kebun terbesar di kaki Gunung Kerinci panen.
Rasa penat memberati tubuh kala kendaraan yang membawa Trubus akhirnya memasuki kebun jeruk di Desa Telun Berasap, Kayu Aro, Jambi. Maklum perjalanan dari Padang, Sumatera Barat, menghabiskan waktu selama 6 jam melewati jalan berkelok-kelok. Sore itu di pertengahan Agustus, suasana di gubuk tampak ramai meski cuaca tidak begitu bersahabat. Angin dingin sering tiba-tiba datang. Apalagi saat kabut turut bergabung. Yang tampak sejauh mata memandang hanya warna putih.
Meski sederhana dan tanpa nama, bangunan berdinding kayu dan beratap seng itu menjadi tempat wajib untuk disinggahi setiap kendaraan yang melintasi jalur Padang—Sungaipenuh. Gubuk itu sekaligus kepanjangan pintu gerbang dari kebun jeruk seluas 7 ha milik Basir. Saat kaki melangkah ke dalam menyusuri jalan setapak bertepi pagar kawat, terlihat hamparan jeruk yang berjejer rapi. Pohon-pohon setinggi 2,5 m bertajuk mengerucut sebagian dipenuhi buah berwarna kekuningan. Sekeliling kebun dipagari dinding beton setinggi 3,5 m supaya buah tak gampang dicuri.
Umur tua
Menurut Basir, populasi jeruk di kebun mencapai 2.800 batang. Semua terbagi dalam 7 blok seluas masing-masing 1 ha. Setiap blok ditanami sekitar 400 pohon dengan umur tanaman beragam. Pohon tertua mencapai umur 22 tahun yang berproduksi rata-rata 50—75 kg. Pohon-pohon jeruk lain berumur 12 tahun, 8 tahun, dan 2 tahun. “Yang terbanyak berasal dari generasi pertama. Rata-rata mereka sudah berumur 22 tahun,” papar Basir. Tidak ada blok khusus yang ditanami pohon lebih muda. Tanaman generasi baru umumnya diselipkan sebagai pengganti tanaman lama yang dibongkar karena tidak produktif lagi.
Meski sudah melewati masa puncak produksi pada umur 10—15 tahun, tapi generasi pertama yang ditanam pada 1983 itu masih rajin mengeluarkan buah. Hanya saja ukurannya kecil sebesar bola pingpong. Namun, dari segi rasa tidak kalah sedap dibandingkan tanaman generasi lebih muda.
“Rasanya manis tak berubah sedikit pun,” papar peraih penghargaan petani jeruk terbaik Kabupaten Daerah Tingkat II Kerinci pada 1996 itu. Trubus mengupas jeruk berkulit sedikit tebal berwarna kuning cerah dari pohon berumur 22 tahun. Terasa daging buah sangat manis.
Saat pertama kali ditanam 22 tahun lalu, tidak ada yang mengira jika anggota famili Rutaceae yang bibitnya diperoleh dari Jawa Tengah itu bakal tumbuh baik. Maklum kawasan di kaki Gunung Kerinci lazimnya ditanami sayuran dan teh. “Banyak orang dinas dari Riau, Jambi, hingga Bengkulu ke sini untuk membukt i k an ada kebun jeruk manis di Gunung Kerinci,” papar kelahiran Sungai penuh 84 tahun silam itu. Setelah melihat dan mencicipi langsung, mereka percaya cerita itu.
Panen setiap hari
Semua jeruk ditanam pada tanah berkemiringan 15º dan berjarak tanam 5 m x 5 m. Tinggi tanaman tua mencapai 2,5 m dengan percabangan padat. Ratarata dari 1 batang utama dipertahankan 3—5 cabang. Selanjutnya masing-masing dibiarkan bercabang 2 atau 3. Lantaran berada di ketinggian di atas 1.500 m dpl, kondisi tanah di kebun cenderung lembap. Penyiraman kadang tidak dilakukan sama sekali, kecuali saat musim kemarau. Itu pun hanya seminggu sekali.
Tidak ada perlakuan istimewa yang diberikan. Pemangkasan rutin setiap 2 hari untuk membuang ranting-ranting tua. Pemupukan dilakukan setahun sekali. berupa pupuk kandang, pupuk daun, dan pupuk perangsang buah. Semua diberikan sekaligus. Sebelum diaplikasi, tanah seluas ukuran tajuk tanaman terlebih dahulu dibersihkan. Selanjutnya 2 ember pupuk kandang dibenamkan. Pupuk lain ditebar kemudian.
Dengan perlakuan itu panen berlangsung sepanjang tahun. Panen dilakukan pukul 07.00—09.00 dan 14.00—15.00. Buah yang dipetik dipilih berdasarkan kecerahan warna. “Biasanya jeruk yang dipanen setelah menguning untuk ke-2 kali. Pertama hijau lalu semburat kekuningan. Agak hijau lagi baru kuning mulus,” papar Basir.
Semua hasil panen dikumpulkan dengan gerobak dorong sebelum disortir di gudang. Hasil sortiran secara manual dibagi ke dalam 3 kelas. Kelas A untuk sekilo isi 10 buah; B sekilo isi 15 buah; dan C sekilo isi 18 buah.
Setiap hari setidaknya 100 kg jeruk dipanen. Umumnya 80% jeruk yang dipanen hari itu laku dijual. Sisanya dijual esok hari. Harga buah bervariasi. Untuk kelas A mencapai Rp6.000/kg; B, Rp5.000/kg; dan C, Rp3.500/kg. Basir tak merasa perlu melepas ke pasar becek atau pun melempar ke kota lain. “Dijual langsung di tempat saja sudah laku. Setiap minggu kami dapat keuntungan Rp4-juta bersih,” papar Basir. (Dian Adijaya S)
Â
