Dibandingkan genjah lain, jenis salak mampu menghasilkan sekitar 60 buah per pohon ketika menginjak umur 1,5 tahun. Saat memasuki umur 2 tahun, produktivitas meningkat hingga 90 buah per pohon. Tengok genjah kuning nias, genjah kuning bali, genjah hijau kelapa, genjah hijau nias yang rata-rata berkutat sekitar 30—40 buah per pohon. Itu pun baru dicapai pada umur 3—4 tahun.
Menurut Ir. Handi Supriadi dari Loka Penelitian Tanaman Sela Perkebunan di Parungkuda, Sukabumi, genjah salak termasuk jenis unggul dalam produktivitas. “Karena itu ia kini menjadi jenis unggulan yang setelah dirilis akan dikembangkan besar-besaran,” ujar alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Dengan menanam genjah salak diharapkan pekebun bakal menuai pendapatan lebih besar.
Elemen taman
Genjah salak didapat dari seleksi pemurnian tanaman induk kelapa salak dari Kalimantan Selatan. Jenis yang disinyalir hampir punah itu ditemukan tumbuh liar. “Tanaman aslinya setinggi 7—10 m, tapi lebih rendah daripada kelapa dalam,” papar Handi. Sebutan salak karena sepintas ia mirip tanaman salak. Tidak terlalu tinggi dengan jejeran buah mirip dompolan buah salak.
Karena pertumbuhan lebih lambat, sampai menginjak umur 4 tahun batang genjah salak baru mencapai semeter. Lebih pendek 2—3 m dibandingkan genjah lain. Pangkal tangkai daun genjah salak tampak cukup pendek, rata-rata sepanjang 100 cm. Tengok varietas kuning nias, 135,4 cm dan kelapa dalam, 195,1 cm. Karakter itu cukup mumpuni untuk mendukung tandan yang sarat buah.
Daun genjah salak pun pendek, panjang daun antara 4,5—6 m. Ukuran daun itu memberi keleluasaan menanam lebih banyak. Dengan jarak tanam 6 m x 6 m, per ha dapat memuat 260 tanaman. “Dengan ukuran daun relatif pendek, salak cocok juga ditanam sebagai elemen taman, ” papar Handi.
Kadar minyak 60%
Genjah salak memiliki air lebih manis daripada jenis lain. Sebab itu ia sangat potensial dikembangkan sebagai bahan minuman. Keunggulan lain adalah kadar minyak yang tinggi, mencapai 60%. Kadar itu hampir sama jumlahnya dengan kelapa dalam unggul yang selama ini dipakai sebagai sumber minyak kelapa. Kelapa dalam Palu, Bali, Riau, dan Tenga, rata-rata memiliki kandungan minyak antara 62—70%.
Asam lemak bebas yang menyebabkan bau tengik bila kadarnya di atas 1 % pun tidak akan didapati pada genjah salak. Maklum asam lemak bebasnya hanya mencapai 0,03%. Dengan jumlah itu genjah salak potensial dijadikan sumber minyak nabati. Uniknya jenis yang mudah tumbuh di mana saja dan tahan terhadap serangan penyakit itu dimanfaatkan kecepatan berbunganya, 1,5 tahun, untuk dijadikan induk mencetak kelapa hibrida unggul baru. (Dian Adijaya S)
