Friday, August 12, 2022

Marasi Pot Tampil Aksi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Padahal, merawat marasi sebenarnya tidak sulit. Anggota keluarga Hypoxidaceae itu tumbuh liar di alam sehingga cukup bandel. Di habitat asli ia bahkan sering dicabut orang karena dianggap gulma. Namun, begitu didomestikasi marasi memang perlu beradaptasi. Makanya, penting mengetahui kunci perawatan, agar tanaman tumbuh baik.

Yudhi Agustinus, hobiis di Lumajang, Jawa Timur, punya pengalaman mengepotkan marasi. Ia menggunakan media 100% kompos untuk ke-50 pot marasi sejak 1 bulan lalu. Tiga atau empat tanaman sekaligus ditanam dalam pot persegi sepanjang 70 cm. Penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore. Pupuk gandasil D ditabur 2 kali seminggu. Cahaya matahari yang garang ia bentengi dengan shading net 70%. Dengan cara itu, kelembak-sebutan di Kalimantan-tumbuh segar dan sehat.

Lembap dan gelap

Air dan cahaya jadi kunci penting merawat marasi pot. Cahaya yang dibutuhkan sangat minim, hanya sekitar 20%. Eddy Soesanto dari nurseri Tebuwulung meletakkan marasi di bawah naungan pohon besar bertajuk rimbun. Di alam, tanaman berdaun mirip anggrek tanah itu memang tumbuh di bawah naungan pohon besar.

Karena menyukai tempat teduh, marasi sangat cocok dijadikan tanaman indoor. Marasi tahan diletakkan di dalam ruangan berpendingin selama 2 minggu. Lokasi lain yang cocok, teras. Di situ ia terlindung dari cahaya langsung dan sirkulasi udara tetap baik.

Lantaran habitat asal daerah yang sangat lembap seperti di tepian sungai, marasi sangat suka air. Apabila ditanam dalam pot, perlu dilakukan penyiraman secara teratur. Penyiraman 2 minggu pertama dilakukan setiap pagi dan sore sampai media jenuh. Setelah itu cukup sehari sekali. Untuk mempercepat pertumbuhan, pupuk B1 atau Atonik dikocorkan ke media 2 kali seminggu selama dua minggu pertama. Pemberian tatakan berisi air di bawah pot sangat dianjurkan agar tanaman bisa menyerap air terus-menerus.

Media yang digunakan harus mampu menahan air. Eddy Soesanto menggunakan campuran pupuk kambing, sekam bakar, dan andam bambu dengan perbandingan 1:1:1/2. Sekam bakar digunakan karena berbobot ringan sehingga tabulampot mudah dipindah-pindahkan. Andam bambu, menjaga kelembapan media. Apalagi marasi memang sering ditemukan di sekitar rumpun bambu.

Siap masuk pot

Bila marasi diambil dari alam, sertakan sedikit tanah asal bola akar. Akar marasi berupa akar serabut, sehingga mudah rusak. Menyertakan tanah asal meminimalisir stres akar. Pilih tanaman berukuran kecil dengan tinggi maksimal 30 cm. Bila ada bunga lebih baik. Selain itu, pangkas daun tua. Untuk tanaman besar, daun tersisa diikat dengan tali agar tidak patah. Marasi siap masuk pot. Sebelumnya, pot diisi sekam bakar di bagian dasar dan media campuran di atasnya. Tanaman dibiarkan terikat selama seminggu. Setelah itu dibuka perlahan saat tanaman sehat.

Eddy belum pernah memberikan pupuk tambahan dalam perawatan marasi selain penyiraman dengan air. Menurut pengamatannya, marasi termasuk tanaman yang tidak butuh banyak perawatan. Ia juga belum mengetahui metode khusus untuk membungakan dan membuahkan. Selama ini ia hanya membiarkan bunga tumbuh secara alami. Pupuk B1 atau Atonik hanya diberikan saat tanaman baru dipindahkan ke dalam pot untuk memperkuat kondisi tanaman.

Agar nantinya buah lemba-nama dalam bahasa Melayu-yang muncul di pangkal batang bebas kotor, pada permukaan media ditaburkan pasir malang. Itu mengurangi cipratan air dari media ke buah saat penyiraman. Dari tanaman setinggi 30 cm, biasanya dibutuhkan waktu 3 bulan sampai marasi mengeluarkan bunga. Sebulan kemudian buah muncul. (Syalita Fawnia Rachman)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img