Wednesday, April 17, 2024

Masyarakat Dayak Lestarikan Pohon Tengkawang : Hasilkan Lemak Hingga Menjadi Obat

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Buah tengkawang acap kali menjadi santapan satwa liar lain. Masyarakat Kapuas, Kalimantan Barat, memunguti buah tengkawang yang bersayap dan jatuh itu. Meredam buah di sungai selama 30—40 hari. Tujuan perendaman agar agar dinding buah itu lunak sehingga mudah mengupasnya.

Di bagian dalam buah anggota famili Dipterocarpaceae itu terdapat inti yang menjadi bahan mentega atau lemak. Ada pula yang melunakkan buah dengan cara memendam dalam tanah hingga berharihari.

Itulah cara masyarakat memperoleh minyak tengkawang pada 1912. Selain untuk keperluan sehari-hari minyak tengkawang juga cespleng mengatasi sariawan.

Hingga hari ini tradisi mengolah buah tengkawang terawat di Desa Nangayen, Kecamatan Hulugerung, Kabupaten, Kapuashulu, Kalimantan Barat. Berbagai jenis pohon tengakawang tumbuh di hutan adat seluas 5 hektare (ha) di desa itu.

Warga setempat, Ayub mengisahkan, masyarakat menanam pohon itu saat ia berusia 3 tahun. “Warga boleh mengambil buahnya kala panen raya. Mereka juga boleh memanfaatkan kayunya untuk membuat rumah,” tutur Ayub.

Pohon anggota famili merantimerantian itu tumbuh di tepi sungai dan kokoh menahan abrasi saat musim banjir. Setiap pohon bisa berbuah hingga 200 kg per musim.

Mereka menjualnya kepada pengepul di Nangayen. Pengepul lantas menjual ke Pontianak. Itu sebabnya Ayub dan warga Nangayen bertekad melestarikan tengkawang.

“Tengkawang diwariskan dari zaman nenek moyang. Kesadaran merawat, menjaga, serta melestarikannya menjadi ikatan batin warga Nangayen,” ucap Ayub.

Setiap warga Nangayen memiliki 200 batang pohon tengkawang. Mereka menanam tengkawang di hutan. Bibitnya berasal dari buah yang hanyut di sungai. “Buah tengkawang tidak tenggelam ketika hanyut terbawa air sungai. Warga mengumpulkan lalu menanam kembali di lahan masing-masing,” ujar Ayub menjelaskan.

Dengan perawatan minim, pohon Shorea sp mulai berbuah pada umur 10 tahun. Mereka juga mengolah buah berkadar lemak hingga 70—80% itu menjadi mentega nabati, minyak makan, atau kue.

Pengolahan lain adalah untuk bahan obat. Warga Desa Tanjungintan, Kecamatan Mentebah, Kabupaten Kapuashulu, Suhardin mengisahkan, engkabang menjadi obat alternatif jika ada anggota keluarga yang sedang sakit. Cara pemakaiannya biasa dioleskan, misalnya bibir pecah-pecah, panas dalam. Bisa juga diminum.

Buah tengkawang juga bisa menjadi pewarna pakaian yang indah. Berbagai pemanfaatan buah yang ternyata bernilai komersial itu mengubah pola pikir warga yang semula memandang pohon sekadar sumber kayu untuk dijual. Kini banyak warga menanam tengkawang di pekarangan.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Peternak di Kabupaten Magelang Sukses Silangkan Ayam Poland

Trubus.id—Penggemar ayam poland di Indonesia berasal dari berbagai daerah. Alasannya karena sosok ayam poland sangat unik. Muhammad Doni Saputra...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img