Friday, December 2, 2022

Mawar Melati Semua Menguntungkan

Rekomendasi

Rumah wangi itu terletak di Widomartani, Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta. Di belakang rumah Susana Hartanti-dipanggil Raras-menyuling bunga mawar, melati, sedap malam, dan lavender. Keempat bunga itu beraroma harum. Raras tak menyuling ke-4 bunga itu sekaligus. Kadang-kadang ia menyuling bunga mawar, pada kesempatan lain hanya menyuling bunga melati. Bunga yang ia suling tergantung permintaan konsumen.

Bila konsumen meminta minyak asiri lavender, pencinta kucing itu menyuling bunga anggota famili Lamiaceae. Konsumen yang rutin membeli minyak asiri produksi Raras adalah salon dan spa di Surabaya, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Setiap bulan mereka selalu memesan minyak asiri aneka bunga itu. Begitu permintaan diterima, alumnus Universitas Gadjah Mada itu menyuling bunga sesuai pesanan.

Dua jenis

Raras memproduksi rata-rata 0,3 l minyak asiri dari satu jenis bunga setiap bulan. Kecil? Tunggu dulu, volume itu memang kecil, tetapi harga menjulang. Sebagai gambaran harga jual minyak mawar mencapai Rp140-juta per kg. Jika ia menjual 0,3 l-setara dengan 0,255 kg bila berat jenis minyak mawar 0,85-minyak mawar, berarti omzet Raras Rp35,7-juta.

Volume 0,3 l minyak mawar itu ia peroleh dari 637,5 kg bahan baku berupa bunga mawar segar. Ia mendapatkan bahan baku dari para pekebun di Ambarawa, Tawangmangu, dan Wonosobo-semua sentra tanaman hias di Jawa Tengah. Harga sekilo bunga mawar segar Rp50.000. Sebelum disuling kelopak bunga mawar segar dirontokkan terlebih dahulu dan dimasukkan ke dalam ketel besi terisi air.

Raras lantas memanaskan ketel selama 2-3 jam sehingga suhu merambat naik hingga 60oC. Minyak mawar akan larut di dalam air. Larutan itu kemudian didestilasi untuk memisahkan minyak mawar dan air. Hasilnya berupa minyak mawar ditampung di labu kaca. Menurut Raras total biaya produksi untuk menghasilkan 0,3 l minyak mawar mencapai Rp33.875.000. Biaya terbesar tentu saja untuk pengadaan bahan baku, Rp31.875.000. Harap mafhum, rendemen minyak mawar relatif rendah, 0,04%. Selebihnya Rp2.000.000 merupakan biaya tenaga kerja dan bahan bakar. Dengan harga Rp.140-juta per kg, laba bersih penjualan 0,3 l minyak mawar Rp1.825.000.

Proses penyulingan serupa ia terapkan pada jenis bunga lain. Khusus melati, menggunakan proses ekstraksi dengan pelarut. Untuk memperoleh 0,3 l minyak melati, Raras mengekstraksi 285 kg bahan baku. Menurut Raras rendemen Jasminum sambac lebih tinggi ketimbang bunga mawar, yakni 0,1%. Itu berarti 1 kg minyak melati diperoleh dari 1 ton bunga.

Harga 1 kg bunga melati Rp30.000 sehingga total biaya pengadaan bahan baku mencapai Rp8.550.000. Sedangkan biaya tenaga kerja dan bahan bakar relatif sama dengan penyulingan bunga mawar, Rp2.000.000. Dengan demikian total biaya produksi untuk menyuling 0,3 l minyak melati Rp10.550.000. Harga jual minyak melati Rp90-juta per kg. Bila Raras menjual 0,3 l-setara dengan 0,285 kg bila berat jenis 0,95-minyak melati, maka omzetnya Rp25.650.000 atau laba bersihnya Rp15.100.000.

Ziarah

Selain menyuling minyak asiri dari bunga mawar dan melati, Raras juga menyuling bunga sedap malam dan lavender. Harga jual minyak sedap malam Rp3.500.000 per liter. Sedangkan biaya produksi untuk menghasilkan 0,3 l minyak sedap malam Rp735.000. Sementara minyak bunga lavender seharga Rp5-juta per liter; biaya produksi untuk menghasilkan 0,3 l minyak lavender Rp1.000.000. Laba bersih Raras jika menjual 0,3 l minyak lavender Rp500.000.

Labanya bakal membumbung jika saja ia mampu memenuhi permintaan pasar. Musababnya ada yang minta pasokan rutin 1 kg minyak mawar per bulan. ‘Saya belum sanggup mendatangkan bahan baku sebanyak itu (2,5 ton bunga, red),’ katanya. Ketersediaan bahan baku menjadi hambatan bagi Raras untuk memasok minyak bunga mawar. Lainnya, harga bunga cenderung naik pada Juli-September. Itu musim ziarah dan perkawinan sehingga permintaan bunga untuk keperluan bunga tabur dan hiasan dekorasi cenderung meningkat. Harga bunga mawar meningkat menjadi Rp100.000 dan melati Rp60.000 per kg.

Jika beragam hambatan itu teratasi, peluang menuai laba besar bagi Raras sangat terbuka. Pengusaha spa dan salon banyak yang menjemput langsung minyak-minyak itu ke rumah wangi. Ada juga yang minta kiriman secara rutin. Mereka-para konsumen-mengenal Raras berkat iklan di dunia maya. Raras memang rutin mengiklankan produknya di berbagai situs internet. Dari iklan itu bermunculan permintaan minyak asiri.

‘Cukup duduk di depan komputer, memajang gambar produk, melengkapi dengan alamat dan nomor kontak, pesanan akan datang,’ katanya. Menjadi penyuling aneka bunga ditekuni Raras secara tak sengaja. Pada 2005, harga jual minyak nilam anjlok cuma Rp120.000; sebelumnya Rp700.000 per kg. Ia pun mencari komoditas lain untuk disuling. Pilihannya jatuh pada aneka bunga, seperti bunga mawar, sedap malam, dan melati. ‘Awalnya hanya coba-coba karena hasil penelusuran saya di internet, minyak asiri bunga berpotensi untuk dikembangkan,’ katanya.

Maka pada 2005, mulailah ia menyuling aneka bunga. Walau volume sulingan kecil, tetapi harga jual minyak sangat tinggi dan relatif stabil sehingga laba bersihnya tinggi. Bagi Raras bukan hanya mawar melati semuanya indah, tetapi juga menguntungkan dan membuat rumah wangi sepanjang hari. (Ari Chaidir)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terluka dan Tidak Bisa Terbang, Petugas Mengevakuasi Burung Rangkong

Trubus.id — Petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara, mengevakuasi burung rangkong yang ditemukan terluka di kawasan konservasi Suaka Margasatwa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img