Monday, November 28, 2022

Melaju Kendaraan Berkat Biji-bijian

Rekomendasi

Dr Tatang Hernas Soerawidjaja—pengendara mobil itu—lantas menambahkan 2 liter minyak jarak Jatropha curcas sebelum penutup tangki dikunci. Pria 54 tahun itu memang senantiasa membawa 4 jeriken minyak jarak masing-masing 2 jerikan berisi 2 liter dan 1 liter di dalam mobilnya.

Mobil yang dibeli pada 1999 itu melaju seperti sediakala. Setiap hari mobil itu dikendarai oleh Tatang Hernas Soerawidjaja dari rumahnya di bilangan Rancakendal, Bandung, ke kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) berjarak 5 km. Menurut catatan doktor Teknik Kimia alumnus University of Delft , Belanda, itu Trooper berbahan biodiesel minyak jarak telah menempuh perjalanan 46.000 km. Tatang juga kerap membawa mobilnya untuk perjalanan luar kota seperti ke Jakarta.

Yang juga memanfaatkan biodiesel adalah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Tercatat 42 bus antarjemput karyawan lembaga riset itu menggunakan biodiesel. Tangki bus-bus Damri di Bandung, Jakarta, dan Bogor sebentar lagi bakal dipenuhi bahan bakar serupa. Biodiesel adalah bahan bakar yang berasal dari makhluk hidup, sebagian besar minyak nabati, untuk campuran atau pengganti solar.

Pemanfaatan biodiesel sebagai bahan bakar tak dapat ditawar-tawar lagi. Maklum konsumsi solar Indonesia terus melambung. Celakanya solar itu tak lagi sepenuhnya ditambang di dalam negeri, tetapi harus diimpor. Data Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITB menunjukkan, konsumsi solar Indonesia pada 1995 mencapai 15,84 miliar liter.

Dari jumlah itu 6,91 miliar liter di antaranya dihabiskan oleh bidang transportasi. Dari tahun ke tahun konsumsi solar kian melambung. Pada 2000, misalnya, 21,39 miliar liter (9,69 miliar liter transportasi). Lima tahun kemudian, 27,05 miliar liter (13,12 miliar liter). Dr Ir Imam K Reksowardojo dari LPPM sekaligus dosen Teknik Mesin ITB memperkirakan, pada 2010 Indonesia memerlukan 34,71 miliar liter solar.

Padahal pada 1999 saja, seperempat dari total kebutuhan solar Indonesia diimpor; pada 2001, 34% kebutuhan solar diimpor. Di tengah melonjaknya kebutuhan bahan bakar itu, para ahli memperkirakan cadangan minyak bumi kita hanya cukup untuk 10 tahun ke depan. ”Perlu kebijakan radikal untuk memutus ketergantungan terhadap energi BBM agar hajat hidup orang banyak terhadap energi tidak diacak-acak oleh mekanisme pasar,” ujar Imam Reksowardojo.

Lebih top

Menurut Tatang, dari semua energi alternatif—angin, air, panas bumi, ombak—hanya biomassa yang mudah dibuat menjadi bahan bakar. ”Volumenya 600 kali lebih kecil dibanding gas sehingga kepadatan energi lebih besar, mudah dibawa, dan relatif sulit terbakar ketimbang gas,” ujar Tatang. Selain itu Indonesia kaya keanekaragaman hayati sehingga tanaman sumber biodiesel melimpah.

Setidaknya terdapat 60-an tanaman potensial seperti jarak Jatropha curcas, randu Ceiba petandra, kayumanis Cinnamomum burmanni, dan rosela Hibiscus sabdariff a (baca: Sumber Biodiesel di Pekarangan, halaman 143—144). Yang sudah diteliti dan diterapkan sebagai bahan bakar adalah jarak dan minyak kelapa sawit. ”Syarat minyak nabati untuk bahan bakar, karakteristiknya harus menyerupai solar,” kata Dr Tirto Prakosa Brojonegoro, peneliti biodiesel dari ITB.

Kesimpulan riset ITB, biodisel memiliki banyak keunggulan ketimbang minyak bumi. ”Biodiesel berkadar belerang hampir nihil, 0—24 ppm; tetapi umumnya lebih kecil dari 15 ppm. Kadar belerang solar Indonesia sekarang 1.500—4.100 ppm. Belerang merupakan pemicu emisi SPM (Solid Particulate Matter) dan asap hitam (opasitas tinggi),” ujar Imam. SPM bersifat karsinogenik alias memicu tumbuhnya sel kanker. Biodiesel masih mempunyai sederet keunggulan lain.

Molekulnya mengandung oksigen sehingga kebutuhan udara untuk pembakaran sempurna lebih sedikit, emisi karbon monoksida lebih kecil.. Cuma itu? Nilai kalorinya 31—34

MJ/liter. Akibatnya butuh 3% bahan bakar lebih banyak ketimbang solar. Nilai kalori rendah lantaran banyak senyawa oksigen yang mempercepat p e m b a k a r a n . Viskositas alias kekentalan juga di atas rentang persyaratan solar, bercampur sempurna dengan solar pada segala perbandingan.

Semakin tinggi persentase biodiesel dalam pencampuran dengan solar, kian bagus dampaknya. Contoh pada B20—artinya campuran 20% biodiesel, 80% solar—karbon monoksida berkurang

12% (lihat tabel). Jika diproduksi dengan metanolisis atau etanolisis menghasilkan produk samping, yakni gliserin. Yang pasti biodiesel merupakan sumber yang terus dapat diperbarui dan ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang lebih baik.

Jarak

Menurut Dr Agung Hendriadi, periset Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, bilangan cetane biodiesel lebih besar dari 60 sehingga pembakaran lebih efi sien. Bahan bakar itu juga bersifat melumasi piston yang menggerakkan mesin kendaraan. Dengan sederet keistimewaan, biodiesel menjadi tumpuan harapan. Memang biodiesel menyimpan sedikit kelemahan. ”Nilai panasnya lebih rendah 5—10% daripada solar yang mencapai 40 megajoule/kg,” ujar Ir Soni Solistia Wirawan MSc, periset BPPT.

Dari 60-an tanaman sumber biodiesel, kelapa sawit tak terlalalu diandalkan lantaran selama ini ia juga dibutuhkan industri pangan dan membeku pada suhu 16oC. Tirto Brojonegoro menyarankan minyak jarak pagar alias jarak kosta Jatropha curcas sebagai a l t e r n a t i f p a l i n g potensial . Soalnya, kadar minyak purging nut itu relatif tinggi, 30% per kg biji kering dan tak berkompetisi dengan pangan. Minyak jarak baru membeku pada suhu 3oC.

”Nyamplung memang kadarnya tinggi, 40—73%, tapi ketersediaan biji terbatas. Satu lagi yang menjanjikan, randu,” ujar doktor Teknik Kimia alumnus Keio University Tokyo. Minyak jarak yang diperoleh dengan pengepresan lalu diesterifi kasi. Caranya dengan mencampurkan 40% metanol dan 1% katalis dari total volume minyak jarak. Pada suhu 60o C pencampuran itu akan membentuk 2 lapisan, gliserin di bagian bawah; atas, minyak.

Minyak itulah yang siap masuk ke tangki. Esterifi kasi diperlukan agar viskositas minyak jarak mirip solar sekaligus membuang free fatty acid dalam minyak jarak. Saat esterifi kasi free fatty acid berubah menjadi gliserin yang tak kalah pentingnya bagi industri farmasi, sabun, dan kosmetik Namun, jika tak dibuang ia mempercepat korosif mesin. ”Penggunaan minyak jarak 100% atau dicampur solar jauh lebih baik daripada pemakaian solar secara tunggal. Emisi asap hitam berkurang, bau tak menyengat, dan akselerasi mobil lebih baik,” kata Tirto kepada Laksita Wijayanti dari Trubus.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan telah mengembangkan budidaya jarak. Institusi yang dipimpin oleh Dr Bambang Prastowo itu menyeleksi 7 varietas jarak unggulan di Indonesia. Jarak-jarak itu bakal disilangkan untuk memperoleh varietas unggulan. Saat ini lembaga itu siap menyediakan 200.000 bibit per bulan. Populasi jarak mencapai 2.500 tanaman per ha.

Dengan mengembangkan dan mengolah jarak, ketergantungan terhadap solar dapat ditekan. Jika 1% saja konsumsi solar pada 2006 diganti biodiesel, dibutuhkan 300 juta liter biodiesel. Itu berarti harus tersedia 300.000 ton crude palm oil (CPO) atau pembukaan 90.000 ha kebun. Untuk pengelolaan kebun menyerap 30.000 tenaga kerja baru dan 2.000 orang di bagian produksi. Bila 1 pekerja menanggung 3 anggota keluarga, maka 1% substitusi menanggung hidup 120.000 orang.

Substitusi 1% berarti juga menghemat US$75-juta setara Rp750-miliar. Itulah nilai impor 300 juta liter solar dengan asumsi harga solar di pasar curah tetap US$0,25/liter. Penghematan bakal kian besar, jika persentase substitusi meningkat. Bukankah ketika menciptakan mesin diesel seabad silam, Rudolf Diesel juga memanfaatkan minyak kacang tanah Arachis hipogaea sebagai bahan bakar? Kini saatnya kendaraan Anda kembali ke khittah. Jadi, BBM Anda, biodiesel juga kan? (Sardi Duryatmo/Peliput: Laksita Wijayanti, Lastioro Anmi Tambunan, & Vina Fitriani)

Biodiesel Jelantah

Aroma minyak jelantah—minyak bekas menggoreng—memang lezat. Namun, ia bagai buah simalakama. Digunakan untuk menggoreng lagi membahayakan kesehatan. Ia mengandung antara lain polimer, aldehida, asam lemak, dan lakton yang bersifat karsinogenik. Jika dibuang ia mencemari lingkungan. Itulah keprihatinan Dr Oberlin Sidjabat, periset Lembaga Minyak dan Gas (Lemigas) di Jakarta.

Menurut perkiraan Oberlin, volume jelantah hasil penggorengan restoran cepat saji di Jakarta 16.000—18.000 liter per bulan. Belum lagi industri rumah tangga yang juga menghasilkan jelantah. Oberlin menuturkan, jelantah potensial sebagai biodiesel. ”Melihat menjamurnya restoran cepat saji, biodiesel jelantah amat menjanjikan,” kata doktor Teknik Kimia alumnus University of New South Wales. Itu dibuktikan dengan meminta karyawan Lemigas untuk membawa jelantah dari rumah masing-masing.

Jelantah kemudian disaring untuk memisahkan partikel padat dan kotoran yang terbentuk selama penggorengan. Minyak yang kini homogen itu dimasukkan ke dalam tabung yang dilengkapi pengaduk dan pemanas. Tabung dipanaskan hingga suhu 63oC sembari diaduk dengan putaran 1.000 rpm. Ketika suhu itu tercapai, larutan metanol yang mengandung katalis ditambahkan ke tabung secara bertahap.

Pengadukan kembali dilakukan selama 60 menit. Setelah dingin terjadi 2 lapisan, atas berupa ester; bawah, metanol. Setelah dicuci, lapisan atas menghasilkan metilester yang siap menggantikan solar. Biodiesel jelantah terbukti tanpa sulfur sehingga lebih aman bagi lingkungan. Selain itu ia juga tak menyebabkan korosif mesin. (Sardi Duryatmo)

 

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img