Thursday, January 22, 2026

Melatonin Ungkap Peluang Baru Tingkatkan Reproduksi Ikan, BRIN Dorong Riset Lanjutan

Rekomendasi
- Advertisement -

Melatonin selama ini dikenal sebagai hormon pengatur tidur pada manusia. Namun, dalam riset akuakultur, hormon ini justru membuka peluang besar untuk peningkatan performa reproduksi ikan. Hal itu disampaikan Deni Radona, peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan (PRZT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam rangkaian Applied Zoology Summer School #14 di Gedung BNC Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong, Jumat (21/11).

Menurut Deni, melatonin memiliki fungsi vital bagi tubuh organisme, baik manusia maupun ikan. Hormon ini mengatur ritme biologis, perkembangan sel, imunitas, hingga pertumbuhan. “Pada ikan, melatonin mampu mengatur maturasi dan proses reproduksi, sebagaimana dijelaskan dalam penelitian Cabello tahun 2014,” ujarnya.

Deni memaparkan lima manfaat utama melatonin dalam mendukung reproduksi ikan. Pertama, merangsang pelepasan GnRH (gonadotrophin releasing hormone). Kedua, melatonin dapat menginduksi maturation-promoting factor dan meningkatkan kinerja hormon pemicu pematangan oosit. Ketiga, hormon ini mampu merangsang antioksidan endogen sehingga menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kinerja produksi. Keempat, melatonin menekan sumbu hipotalamus–hipofisis–gonad (HPG) untuk mengatur siklus reproduksi. Kelima, organ pineal merespons sinyal lingkungan seperti fotoperiod, suhu, curah hujan, dan salinitas yang berpengaruh pada pematangan gonad.

“Prospeknya pun menjanjikan,” kata Deni. Melatonin dinilai berpotensi digunakan sebagai aditif pakan, peningkat kualitas benih, hingga peningkat kesehatan ikan. Meski demikian, ia menegaskan perlunya riset lanjutan untuk mengetahui dosis tepat, spesies target, waktu aplikasi, serta kondisi lingkungan yang ideal.

Pada kesempatan yang sama, periset PRZT BRIN lainnya, Boby Muslimin, memaparkan penelitian berjudul “Assessing Gonadal Maturity and Haematology Endangered Species, Chitala lopis Using Various Hormonal.” Ia menyebut Indonesia memiliki sekitar 1.280 spesies ikan air tawar, termasuk sejumlah jenis endemik bernilai ekonomi tinggi seperti ikan belida.

Boby menjelaskan, belida merupakan ikan favorit masyarakat di Kalimantan dan Sumatra, serta memiliki kandungan nutrisi unggul seperti protein, omega-3, vitamin B12, kalsium, hingga enzim. Harga jualnya pun tinggi, mencapai sekitar Rp200.000 per kilogram. Namun, populasinya terus menurun. “Status populasi belida saat ini menurun drastis, bahkan di Indonesia dilindungi penuh,” ungkapnya.

Kelompok ikan Chitala terdiri dari empat spesies, yaitu Chitala lopis, Chitala borneensis, Chitala hypselonotus, dan Notopterus notopterus. Spesies Chitala lopis sempat dinyatakan punah oleh IUCN. Sementara, Notopterus notopterus masih berisiko rendah namun terus mengalami penurunan tangkapan, khususnya di Sumatra Selatan.

Penurunan populasi diperparah oleh kendala reproduksi. Boby menuturkan, belida memiliki tingkat penetasan rendah, sintasan larva minim, dan pertumbuhan lambat—hanya sekitar 1 kg per tahun. Kondisi ini menjadi tantangan besar dalam domestikasi dan budidaya.

Upaya penyelamatan kini menjadi prioritas nasional. Berdasarkan Kepmen KP No. 1/2021, tiga spesies belida—C. lopis, C. borneensis, dan C. hypselonotus—memiliki status di ambang kepunahan. Untuk itu, sejak 2023 BRIN bekerja sama dengan PT Kilang Pertamina RU III Plaju dan Universitas PGRI Palembang menjalankan program domestikasi dan optimasi reproduksi.

Melalui uji hormonal GnRH, penelitian Boby terhadap Chitala lopis menunjukkan hasil positif. Dosis 0,5 ml/kg meningkatkan produksi telur dan kadar vitellogenin serta estradiol. Tingkat penetasan mencapai 33% dan sintasan larva 41%.

Kepala PRZT BRIN, Delicia Yulita Rachman, menambahkan bahwa kegiatan seperti Summer School ini diharapkan memperkuat arah pengembangan riset zoologi terapan, khususnya konservasi ikan endemik. “Kegiatan ini diharapkan menghadirkan gagasan konstruktif untuk pengembangan ilmu pengetahuan konservasi dan menjadi pijakan bagi inovasi riset ke depan,” ujarnya.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img