Wednesday, August 17, 2022

Melejit Setelah Kontes

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Burung-burung pendatang baru di kontes kicauan seperti pleci, gelatik, dan cucak jenggot merebut hati para penghobi. Mereka bersanding dengan burung kelas atas yang lebih dahulu sohor seperti murai batu.

 

Kontes merdu-merduan tidak hanya melambungkan prestasi, tetapi juga harga burung. Sebelum rajin kontes, Stoner adalah pleci biasa. Namanya tidak dikenal. Yunus, penghobi burung kicauan di Bekasi, Provinsi Jawa Barat, membeli Stoner dari seorang kawan di Kudus, Jawa Tengah, Rp2-juta pada 2011. Ia lantas mengikutkan sang oriental white-eye ke berbagai kontes.

“Suaranya mengeriwik cepat,” kata Yunus yang memberi nama Stoner karena teringat pembalap motor dunia. Pleci alias burung kacamata berumur 4,5 tahun itu menangguk prestasi. Lebih dari      20 kali pleci itu menjadi kampiun kontes hanya dalam 5 bulan. Setelah prestasi Stoner meroket, seorang kolektor menawar Stoner Rp10-juta atau 5 kali lipat dari harga pembelian.

Kontes

Kolektor juga mengincar pleci lain bernama Obama, yang sarat prestasi. Pleci milik Suwarno di Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, itu saban minggu menjadi juara di setiap kontes yang diikutinya. Suwarno bukannya enggan menurunkan burung kontes kelas atas seperti murai batu, anis merah, atau anis kembang. Namun, peluang juara lebih berpihak kepada burung-burung pendatang baru di jagat kontes adu merdu seperti pleci.

“Persaingannya belum terlalu keras dan hadiah lombanya juga lumayan besar,” ujar Suwarno. Padahal, frekuensi kontes burung berkicau terus menanjak. Bila sebelumnya kontes berlangsung      2 kali pada Sabtu dan Ahad, kini bisa berlangsung 3-4 kali sepekan. Di luar akhir pekan kontes bisa berlangsung pada Selasa dan Jumat. Itu berlaku umum di kota-kota dengan penghobic burung berkicau seperti Jakarta, Surakarta, dan Surabaya.

Peserta kontes di kelas baru seperti pleci juga membeludak. Pada kontes Ecopark, Ancol, Jakarta Utara, pada 14 Oktober 2012, misalnya, 51 ekor bersaing di kategori pleci. Sementara di cucak jenggot 16. Padahal, saat itu ada dua kelas, pasar seni dan samudera, yang membuka kategori pleci, gelatik, dan cucak jenggot. “Ibarat kereta api, semakin banyak gerbong yang dibawa,” kata Herry Iman Pierngadi, penghobi burung berkicau di Jakarta.

Gerbong yang dimaksud pelatih bulutangkis nasional itu adalah kehadiran jenis-jenis baru seperti pleci, burung gereja, cucak janggut, dan kenari dalam kontes kicauan. Jenis-jenis baru itu memang baru dua tahun terakhir memeriahkan kontes. Semula murai batu, anis merah, dan kacer mendominasi setiap kontes burung kicauan hingga 2005. Begitu wabah flu burung merebak pada 2003-2005, kontes burung kicauan mandek.

Namun, saat wabah flu burung surut, beberapa jenis burung baru seperti lovebird mulai dikonteskan. Para penghobi semula tak menyangka bahwa lovebird, bakal ikut kontes. Harap mafhum anggota famili Psittacidae itu kondang sebagai burung hias lantaran corak bulu berwarna-warni. Ibaratnya lovebird adalah model, bukan penyanyi bersuara merdu.

Penghobi tak kehilangan akal. Penghobi menjadikan sang model sebagai penyanyi lip sync (baca boks: Pinjam Suara halaman 69). “Lovebird bisa bersuara bagus karena dapat diisi suara burung branjangan, anis merah, dan cucak jenggot,” ujar Sadiq Sadira dari Indonesia Lovebird Association Purwakarta, Jawa Barat. Jadilah lovebird itu bersosok bagus, bersuara merdu-meski pinjam suara burung lain.

Barometer sukses

Dampak kehadiran lovebird di kontes, perdagangan burung cinta ikut terkerek. Yudie Yanuarso di Serpong, Tangerang Selatan, Banten, misalnya langsung giat menernakkan lovebird karena permintaan mengalir deras dari berbagai kota. Pada 2007, misalnya, ia mengirimkan 10 ekor per bulan untuk memenuhi permintaan mereka. Permintaan meningkat setahun kemudian, menjadi rata-rata 20-30 ekor per bulan.

Meski demikian tak selamanya burung pendatang baru sukses di kontes dan masyarakat menerimanya. Kolibri contoh pendatang baru yang gagal melejit, bahkan menghilang dari arena kontes. Burung sepanjang 6,5 cm yang mampu terbang mundur itu dinilai tidak layak kontes. Sebab, sifat petarung kolibri lebih dominan daripada suara.

Memiliki burung jawara di kontes menjadi barometer sukses bagi penghobi burung. Namun, di pihak lain adu bagus-bagusan suara itu dapat menjadi lumbung rupiah bagi penyelenggaranya. Dengan mengutip biaya pendaftaran Rp150.000-Rp300.000 per peserta, omzet minimal Rp75-juta bila jumlah peserta 500 ekor dalam sekali kontes. Saat ini jumlah peserta rata-rata 300-400 per kontes.

Meski demikian, “Panitia tetap harus objektif dan menghadirkan juri yang adil,” kata Slamet Eddie dari Kemayoran Enterprise, pengelola kontes. Maklum, pemahaman penghobi burung terasah lewat ajang latihan bersama. Slamet mengisahkan penyelenggara kontes yang babak belur dihakimi peserta lantaran menggunakan juri yang memihak. Itu membuat kualitas kontes semakin menarik karena penghobis mempersiapkan klangenannya sebaik mungkin. Sementara panitia mencari juri yang seobjektif mungkin.

Proses pengisian suara burung alias pemasteran menjadi sisi lain kontes. Di tanahair, para penghobi burung tidak hanya mengisikan suara burung sejenis. Mereka mengisi pleci dengan suara kicauan ciblek, prenjak, atau kutilang. Sementara suara cucakrawa maupun cucak hijau mengisi cucak jenggot, cucak hijau atau anis merah (murai batu). “Burung pipit dan burung gereja pun bisa diisi,” kata Sadiq. Burung gereja yang sudah diisi bahkan bisa menjadi burung pemaster (pengisi kicauan burung lain, red.) untuk pleci, gelatik, kacer, dan beberapa jenis burung lain.

Hasil tangkaran

Tidak semua penghobi burung keranjingan kontes. Beberapa orang justru menghindari kontes dan menyepi. Salah satunya Liauw Eng Pang, penghobi murai batu di Bogor, Jawa Barat. Pengusaha di bidang otomotif itu lebih menyukai burung bersuara seperti di habitat asli. Itu sebabnya Pang menentang keras pengisian suara yang menjadi tren di kontes. “Kalau memang aslinya pendek-pendek dan melengking juga tidak jadi soal,” kata pria 60 tahun itu.

Menurut Pang, kicauan adalah cara burung “berbicara”. Dengan mengenali kicauan asli, Pang bisa tahu apa yang diungkapkan klangenannya. Sebut saja saat burung sedang birahi, marah lantaran ada pejantan lain mendekati pasangannya, maupun panik lantaran ada binatang lain seperti kucing atau tikus mendekat. “Itu tidak akan tampak di burung isian,” kata ayah 3 anak.

Sejak dahulu burung memang menjadi simbol kemapanan. Menurut Dr Burhanuddin Mas’ud MS, pakar penangkaran dan konservasi eks situ, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, etnis Jawa mengenal kukila, yang berarti burung, sebagai standar kemapanan seseorang. Pengaruh budaya itu ikut menjadi penyebab tren burung yang terus berganti. “Apalagi dunia kicauan memang tidak bisa diprediksi,” kata Burhanuddin.

Menurut pria 54 tahun itu, saat ini tidak bisa ditebak burung apa lagi yang akan populer pada masa mendatang. Maklum, “Siapa sangka pleci akan disukai orang?” kata Prof Ani Mardiastuti MSc, kepala Bagian Ekologi dan Manajemen Satwaliar, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Dibandingkan perkutut atau murai batu, kicauan pleci tentu kalah jauh. Namun, ada satu hal yang lebih merisaukan perempuan 53 tahun itu. Banyak burung yang berlaga di kontes adalah tangkapan alam. Termasuk di antaranya pleci.

Pleci liar dapat memilih jenis makanan yang ia perlukan, tidak seperti pleci dalam kandang. Itu sebabnya Ani menyarankan untuk memilih klangenan dari hasil penangkaran, bukan tangkapan alam. Dengan demikian hobi terpenuhi, keseimbangan alam pun terjaga. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Rona Mas’ud)

Pinjam Suara

Proses pengisian suara burung sebetulnya  “mengajari” burung dengan kicauan jenisnya maupun jenis lain. Beberapa jenis burung memang mampu meniru suara burung lain. Menurut Prof Johan Iskandar, ahli burung di Jurusan Biologi, Universitas Padjadjaran, burung memang menggunakan isyarat suara dalam berkomunikasi, meski belum mencapai tingkatan bahasa. “Anak burung belajar meniru suara induknya agar bisa berkomunikasi,” kata Johan.

Itu terbukti oleh riset Todd Robert PhD, doktor neurobiologi di Universitas Duke, North Carolina, Amerika Serikat. Burung mempelajari kicauan di periode awal kehidupan dengan mendengar dan mengingat kicauan induk mereka dan burung dewasa lain. Prosesnya mirip manusia belajar bicara: mendengar dan meniru. Todd menyebutkan, anak burung mesti berlatih berkicau sampai 100.000 kali dalam 45 hari untuk meniru kicauan induknya. (Argohartono Arie Raharjo)

Keterangan foto :

  1. Pleci, primadona yang belum ditangkarkan
  2. Gelatik mulai tampil dalam kontes
  3. Mandi matahari, salah satu kegiatan merawat burung klangenan agar siap kontes
  4. Semula disukai lantaran penampilan, kini kicauan lovebird pun disukai
  5. Burung gereja bisa diisi sekaligus menjadi pengisi
  6. Anis kembang, salah satu burung kicauan papan atas
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img