Tuesday, November 29, 2022

Melon Lokal Harapan Baru Pekebun

Rekomendasi

“Bibit berkualitas harus diimpor dari Jepang, Thailand, dan Perancis. Pasokan sering tersendat dan tidak semua benih cocok ditanam di Indonesia,” katanya. Seandainya kini—setelah 5 tahun berlalu—Yan masih bergelut dengan melon, ia tak perlu lagi khawatir. Telah hadir 5 melon baru asal produsen dalam negeri. Ia lebih adaftif di tanam di berbagai daerah di bumi nusantara.

Pantas ketika itu Yan mengeluhkan pasokan benih impor yang tersendat. Musababnya, produksi produsen di luar negeri tergantung musim. Belum lagi perijinan yang kerap menghambat pengiriman. “Saat ini 95—99% benih melon berasal dari luar negeri. Bisa dibayangkan, betapa besar ketergantungan kita,” kata Sobir PhD, kepala Pusat Kajian Buah-Buahan Tropika (PKBT), Bogor.

Karena pasokan terbatas, pekebun mengambil jalan pintas. Mereka menyemaikan kembali benih asal biji alias turunan F2 dan F3. Akibatnya, kualitas melon yang dihasilkan menurun dibanding induknya. “Tumbuhnya lambat dan rawan penyakit,” kata Endang Gunawan, peneliti di PKBT. Pantas 2—3 tahun terakhir banyak pekebun melon mengeluhkan serangan virus gemini yang ditularkan vektor kutu kebul.

Di lain pihak, saat ini konsumen akhir mulai jenuh dengan melon jenis lama. Terutama melon berjaring, berkulit hijau, dan berdaging buah hijau yang populer dikebunkan pada akhir 90-an. Melon jenis itu telah dimanipulasi oleh pedagang dengan cara meyemprotkan ethrel pada saat umur tanaman di atas 50 hari dan pemanenan muda. Akibatnya, masyarakat menganggap melon jenis itu kurang enak.

Bergairah

Berbagai kendala benih impor itu membuat lembaga penelitian dalam negeri bergairah untuk menghasilkan melon baru. Delapan bulan lalu misalnya, Taman Wisata Mekarsari (TWM), Cileungsi, mempublikasikan 3 melon baru (baca: Semerbak Mawar dari Sepotong Melon, Trubus Februari 2005, hal 76—77). Kini giliran PKBT mengeluarkan 5 melon baru .

Menurut Sobir, penelitian untuk menghasilkan melon lokal dimulai sejak 2000. Ketika itu mereka mengumpulkan 30 indukan melon unggul dari Jepang, Jerman, Th ailand, dan Taiwan. Melon dari Jepang mempunyai keunggulan, jala di kulit menonjol tapi ukuran buah kecil. Melon asal Th ailand dan Taiwan diharapkan menurunkan bobotnya yang besar. Sedang dari Jerman menurunkan sifat daging buah berwarna merah.

Sementara dari benih lokal, diseleksi 17 kerabat melon yang terbukti sakti melawan gempuran hama dan penyakit. Salah s a tu ny a i a l a h blewah. “Anda l i h a t b l ewa h , tanpa d i r awat pun produksinya bagus. Ia tak butuh pestisida,” katanya. Kerabat melon yang ada di tanah air umumnya berdaging buah merah. Selama 2 tahun indukan itu disilang dengan jenisnya sendiri alias selfi ng. Pada 2003 dilakukan hibridisasi sehingga didapat 200 calon melon unggul.

Sampai 2005 calon melon unggul itu diseleksi lagi hingga diperoleh 30 melon unggul. Namun, baru 5 jenis melon yang betul-betul siap dikebunkan. Mereka telah diuji coba diberbagai tempat di Indonesia seperti Kuningan dan Bogor, Jawa Barat; Sukoharjo, Surakarta, dan Klaten, Jawa Tengah. Kelimanya siap dipasarkan oleh 2 distributor terkemuka, PT Multi Benih Unggul dan PT Prima Seed. Berikut sosok mereka:

Golden meta

Dialah melon generasi terbaru, kulit hijau berjala dengan daging buah merah jingga. “Warna jingga sulit diperoleh di pasaran,” kata Endang. Kala buah dibelah, aroma lembut pasti tercium. Jala berkualitas didapat dari melon Jepang. Warna merah diperoleh dari melon Jerman. Ia toleran terhadap serangan kepik.

Bright meta

Bright tergolong melon tahan simpan. “Kulitnya tebal, bisa disimpan hingga 20 hari sejak panen,” kata Endang. Bandingkan dengan varietas lain yang umumnya hanya tahan disimpan seminggu. Rasanya, ehm manis dan renyah. Rasa manisnya mencapai 14,50 brix. Itu diturunkan dari melon asal Amerika yang terkenal semanis madu.

Golden rock

Si batu emas itu blasteran Jepang, Th ailand, dan Indonesia. Sosok golden rock mirip golden meta. Bedanya, golden rock lebih bulat proporsional. Ia juga mempunyai darah blewah yang kental. Tengok saja, daging buahnya berwarna jingga. Karena itu golden rock toleran pada kepik dan layu fusarium.

Midori meta

Ia disebut midori karena kulit buah bersemburat hijau (midori dalam bahasa jepang berarti hijau, red). Karena itu ia tergolong melon eksotis. “Jarang sekali kulit melon warnanya bersemburat,” kata Endang. Rasanya hampir mirip bright meta karena agak renyah.

Snow sweet

Salju manis itu istimewa lantaran daging buah tebal, renyah, dan manis. Sosoknya mungil dengan bobot buah hanya 1—1,5 kg. Snow sweat tergolong genjah dan dipanen pada umur 50—54 hari setelah pindah tanam. Ia juga toleran terhadap layu fusarium. (Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img