Thursday, February 9, 2023

Memanfaatkan Sagu untuk Membebaskan Indonesia dari Impor Beras dan Gula

Rekomendasi

Trubus.id — Potensi pangan lokal sagu bisa dimanfaatkan untuk menghadapi isu krisis pangan global. Ibarat raksasa yang tertidur, sudah seharusnya sagu segera dibangunkan. Jika sagu bisa dimanfaatkan, potensi Indonesia tidak impor beras dan gula terbuka lebar.

Menurut Prof. Dr. Ir. M. H. Bintoro, M.Agr., ahli sagu dari Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, di kawasan sentra sagu di Riau atau Papua, 100 pohon siap panen per hektare per tahun. Setiap pohon menghasilkan 200–400 kg tepung pati sehingga produktivitas setiap hektare lahan 20–40 ton tepung.

Potensi sagu dari luasan 5,5 juta hektare itu mencapai 110–220 juta ton tepung sagu. Jika dipanen, tidak perlu ada impor beras. Apalagi, sagu tersedia gratis. Tinggal memanen tanpa payah membuka dan membersihkan lahan, menanam, memupuk, atau memberantas hama.

“Jika dipanen, sejuta hektare hutan sagu bisa memenuhi kebutuhan seluruh rakyat Indonesia,” kata Bintoro.

Tepung sagu juga bisa dijadikan gula cair. Sekilogram pati sagu menghasilkan 1 kg gula cair. Dalam bentuk cair, pemanfaatan gula lebih praktis ketimbang butiran seperti gula pasir. Buktinya, kita mencampurkan gula saat membuat kopi, teh, susu, atau minuman lain. Bukan mengunyah gula secara terpisah dari minuman. Lagi-lagi, kalau potensi sagu dimanfaatkan, tidak perlu mengimpor gula.

Lebih lanjut, Bintoro mengatakan, devisa negara yang mengalir ke mancanegara karena mengimpor gula itu bisa dialokasikan ke sektor lain seperti pembangunan infrastruktur, yang saat ini mengandalkan pinjaman luar negeri dengan bunga tinggi.

“Dengan potensi itu, apa kurangnya sagu?” tutur Bintoro mempertanyakan.

Ia menilai potensi sagu sangat kurang perhatian atau keberpihakan. Tidak hanya dari sisi pengambil keputusan, lembaga riset dan akademik pun abai terhadap sagu.

Berbagai lembaga riset menghasilkan ratusan varietas padi unggul. Sagu luput dari perhatian. Data varian sagu di Indonesia belum terkumpul secara detail. Yang terakhir terdengar adalah sagu meranti asal Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

Padahal, di Papua ada pohon sagu bernama para yang mampu menghasilkan 975 kg pati per batang. Menurutnya, seorang peneliti sagu dari Jepang geleng-geleng ketika melihat sagu para.

Di negara asalnya, petani susah payah menaklukkan tanah untuk menanam. Itu pun hanya di musim panas. Sementara itu, di Indonesia, sagu produktif yang tinggal dipanen terbengkalai dan mati sia-sia.

Tepung sagu. (Dok. Trubus)

Bisa jadi di sentra sagu lain juga tersembunyi pohon unggul yang menanti untuk ditemukan. Itu kalau lahannya tidak keburu dialihfungsikan. Apalagi, menurutnya, di daerah sentra, kawasan sagu justru kini menjadi tumbal pembangunan.

“Daerah yang dahulu hutan sagu disulap menjadi kantor pemerintahan, sekolah, atau hunian. Padahal pohon sagu sangat pengalah. Tumbuhnya di rawa atau daerah pasang surut,” paparnya.

Ia menegaskan jika potensi sagu bisa dimanfaatkan, sejatinya tidak perlu ada program pencetakan sawah baru. Apalagi, produktivitas sawah yang baru dibuka rendah karena air mudah meresap ke dalam tanah.

Di sawah yang digarap bertahun-tahun, terbentuk lapisan keras karena tanah sering diinjak-injak. Lapisan keras yang menghambat peresapan air itu absen di sawah baru. Akibatnya, biaya operasional tinggi karena harus lebih sering mengairi.

Sayangnya, bangsa ini menganggap rendah pangan nonberas. Sagu, singkong, atau ubijalar identik dengan kemiskinan. Padahal, sejarah membuktikan sagu pangan asli tanah air. Misalnya saja bukti yang terdapat pada Candi Borobudur, tidak ada relief berkisah tanaman padi, jagung, apalagi kentang.

Yang terukir di sana justru tanaman palma seperti sagu, aren, kelapa, atau nipah. Ia menyebut, pangan asli Indonesia—kerupuk, bihun, mi, bubur—dulunya berbahan sagu. Sebelum mi berbahan terigu populer seperti sekarang, orang Indonesia mengonsumsi mi sagu.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Meybi Kantongi Omzet Rp75 Juta Sebulan dari Daun Kelor

Trubus.id — Daun moringa alias kelor bagi sebagian orang identik dengan mistis. Namun, bagi Meybi Agnesya Neolaka Lomanledo, daun...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img