Friday, December 2, 2022

Membelenggu Abses Paru

Rekomendasi

Tubuh mantan tentara itu tak berdaya menghadapi serangan makhluk yang ukurannya lebih kecil daripada debu.

 

Makhluk mini yang menggerogoti Abdul Mursyid itu adalah bakteri penyebab abses alias bisul di paru-paru. Pensiunan tentara di Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, itu pun tak berdaya. “Kalau Tuhan menghendaki saya meninggal, saya pasrah,” kata Abdul Mursyid.  Abses itu datang dengan memberi tanda berupa batuk-batuk berkepanjangan.

“Saya mengira hanya batuk biasa seperti yang dialami oleh jutaan orang lanjut usia,” tuturnya mengingat kejadian pada November 2009 itu. Sebab batuknya sering berkepanjangan seperti orang hendak muntah. Menurut dr Sutarso SpPD dari Rumah Sakit Maguan Husada di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, batuk-batuk itu akibat infeksi bakteri. Selama imunitas tubuh baik, bakteri yang bakal menginfeksi sulit masuk lantaran sistem kekebalan tubuh kuat dan sebaliknya.

Batuk darah

Sutarso mengatakan beragam bakteri seperti Bacillus intermedius, Fusobacterium nucleatum, Bacteroides melanogenus, Pseudomonas aeruginosa, dan Klebsiella pneumonia penyebab sakit paru-paru. Episode berikutnya setelah bakteri menelusup masuk adalah memperburuk radang serta memicu munculnya nanah bila tidak segera ditangani. Radang itu memicu abses paru-paru yang lazimnya terjadi pada orang lanjut usia dan orang dengan kesehatan gigi atau mulut terganggu.

Bakteri dari gusi yang bernanah, misalnya, mudah menerobos ke paru-paru lewat pembuluh darah. Dampaknya penderita abses paru-paru mengalami demam, batuk darah, sampai menurunnya nafsu makan seperti dialami Abdul Mursyid. Untuk meredakan serangan batuk, Mursyid mengonsumsi empat tablet resep dokter tiga kali sehari. Sepekan mengonsumsi obat, kondisi Mursyid tak kunjung membaik. Bahkan, keluar flek darah saat batuk.

Dokter yang menanganinya saat itu langsung merujuk pemeriksaan paru-paru lengkap ke sebuah rumahsakit di Klaten. Hasil rontgen memperlihatkan di paru-paru kanan Mursyid terdapat abses. Mursyid pun menjalani rawat inap selama dua pekan. Namun, Mursyid menolak saran dokter untuk operasi. Menurut dr Sutarso SpD pasien abses jarang menjalani pembedahan atau operasi.

“Pembedahan dilakukan bila kondisi pasien tak kunjung membaik setelah menjalani perawatan medis intensif atau terjadi komplikasi,” tuturnya. Perawatan medis antara lain rawat inap dan pemberian antibiotik secara intensif. Selain itu, pasien menjalani drainase postural, yakni tidur dengan posisi abses terletak lebih tinggi daripada saluran napas, misalnya abses di paru-paru kanan maka posisi tidur miring ke kiri, begitu sebaliknya. Baru setelah itu pasien dapat menjalani pengeluaran abses lewat selang di depan lubang dada.

Propolis

Dokter menyarankan agar Mursyid rajin mengontrol ke rumahsakit setiap pekan. Namun, selama menjalani obat jalan itu, Mursyid sering batuk darah. Bila malam tiba, frekuensi batuk menjadi dua kali lebih sering dibanding pada siang hari. Agar Mursyid tidak bolak-balik ke luar kamar untuk membuang darah, Sri Mulyani, sang istri, menyediakan pasir di wadah penampung di dekat tempat tidur.

Meski hampir dua bulan mengonsumsi obat dan rutin memeriksakan diri setiap pekan, kondisi Mursyid tak kunjung membaik. Oleh karena itu Mursyid memutuskan berhenti berobat jalan. Selama sepekan, ayah enam anak itu berhenti mengonsumsi obat. Sebagai gantinya Hery Wibowo, anak sulung Mursyid, memberikan propolis atas saran seorang kerabat. Ia memasukkan 3 tetes propolis ke dalam segelas air putih berukuran 250 ml. Frekuensi pemberian dua kali pada pagi dan sore hari.

Setelah mengonsumsi propolis selama tiga hari, frekuensi batuk Mursyid mulai menurun dibarengi berkurangnya darah yang keluar. Selang dua bulan, tak lagi terdengar suara batuk dari kerongkongan Mursyid. “Sudah hampir dua tahun ini batuknya hilang total,” kata Mursyid sumringah. Ia belum menjalani rontgen untuk memastikan bahwa abses paru-paru telah sembuh karena merasa nyaman.

Propolis terkenal dengan sebutan lem lebah. Lebah menghasilkan propolis dari berbagai bahan seperti pucuk daun, getah tumbuhan, dan kulit beragam tumbuhan, seperti akasia dan pinus. Lebah membalurkan propolis pada sarangnya untuk berlindung dari serangan benda asing, seperti bakteri atau cendawan. Beberapa penelitian menunjukkan, propolis juga andal sebagai antibakteri di tubuh manusia.

Menurut ahli propolis dari Universitas Hasanuddin, Prof Dr Ir Mappatoba Sila, propolis mengandung beragam senyawa antimikroba, antibakteri, anticendawan, dan antivirus sehingga bermanfaat untuk mengatasi beragam penyakit. Senyawa golongan flavonoid dan polifenol propolis juga bersifat antioksidan. “Pasien penderita penyakit paru-paru, seperti abses, jumlah radikal bebas di paru-paru sangat tinggi. Propolis bekerja membantu tubuh menghalau bakteri dan meningkatkan imun. Senyawa antibakterinya juga membunuh kuman yang menginfeksi,” kata Mappatoba.

Penelitian Elain C.E Gebara dari Departemen Mikrobiologi, Universitas De Sao Paulo di Brasil, menunjukkan ektrak propolis mampu menghambat pertumbuhan beberapa bakteri. Melalui metode dilusi kaldu, ekstrak propolis menekan pertumbuhan bakteri Actinobacillus actinomycetemcomitans dan Capnocytophaga gingivalis masing-masing sebesar 1 µg/ml. Untuk bakteri Prevotella intermedia, Prevotella melaninogenica, Porphyromonas gingivalis, dan Fusobacterium nucleatum masing-masing sebesar 0,25 µg/ml. Selain itu, propolis juga menghambat bakteri Candida albicans sebesar 12 µg/ml serta bakteri Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, dan Staphylococcus aureus sebesar 14 µg/ml.

Penelitian A. Russo dari Departemen Biokimia, Kimia Medis, dan Biologi Molekular, Universitas Catania di Italia, menyebutkan ekstrak propolis mengandung asam amino, asam fenolat, ester asam fenolik, flavonoid, asam sinamat, terpen, dan CEPA Caffeic Acid Phenetyl Ester. Semua senyawa itu bersifat antiinflamasi, imunostimulan, antivirus, dan antibakteri. Hasil penelitian Russo menunjukkan CEPA memiliki aktivitas antioksidan paling kuat dari semua senyawa dalam propolis. Berkat propolis Mursyid bisa mengucapkan selamat tinggal kepada bakteri penyebab abses paru-paru. (Andari Titisari)

Keterangan Foto :

  1. Selain mengandung antibakteri, propolis juga mengandung antioksidan yang mampu mereduksi radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh
  2. Hasil rontgen pada paru-paru Abdul Mursyid menunjukkan adanya abses di paru-paru sebelah kanan
  3. Abdul Mursyid bersama Sri Mulyani, sang istri. “Sejak mengonsumsi propolis, kini bapak tidak pernah lagi batuk darah,” kata Sri Mulyani
  4. Lebah melumuri sarangnya dengan propolis sebagai upaya pertahanan diri dari serangan benda asing, seperti bakteri dan cendawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terluka dan Tidak Bisa Terbang, Petugas Mengevakuasi Burung Rangkong

Trubus.id — Petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara, mengevakuasi burung rangkong yang ditemukan terluka di kawasan konservasi Suaka Margasatwa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img