Wednesday, August 17, 2022

Membidik Pasar Aroid

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Permintaan tanaman aroid makin meningkat. Pasar internasional terbuka lebar.

Salmanda Plants memperkenalkan konsep tanaman aroid sebagai penghias taman dalam ruangan. (Dok. Salmanda Plants)

Trubus — Jadwal kegiatan Febriadi Rahmatullah pada 15 Januari 2020 lumayan padat. Hari itu Abot—panggilannya—mesti menemani dua tamu asal Jepang. Mereka datang jauh-jauh dari Negeri Sakura untuk mencari aneka jenis tanaman aroid—sebutan untuk tanaman anggota famili Araceae. Hari itu mereka datang ditemani, Andhi Lim, kolektor tanaman hias asal Kota Tangerang, Provinsi Banten.

Setelah tiba di kediaman Abot di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kedua tamu asal Jepang itu langsung berkeliling nurseri. Mereka mengamati satu per satu aneka jenis tanaman keluarga aroid koleksi Abot. “Mereka lebih banyak memilih aneka jenis philodendron dan anthurium spesies dan hibrida,” ujar pria 30 tahun itu. Selama ini di kalangan penggemar tanaman aroid internasional, Indonesia sohor memiliki keragaman spesies keduanya.

Mancanegara

Monstera variegata masih
menjadi salah satu favorit konsumen. (Dok. Trubus)

Kedua tamu itu memboyong lebih dari 10 tanaman dari nurseri milik Abot. Pada hari itu saja ayah satu anak itu mengantongi pendapatan hingga Rp5 juta. Abot lalu mengantar mereka berkeliling nurseri lain di kawasan Ciapus, Kabupaten Bogor. Abot menuturkan, bukan kali itu ia kedatangan tamu dari mancanegara. Sejak tanaman aroid tren di pasar tanaman hias internasional pada 2018, para pedagang tanaman hias dari luar negeri banyak yang berdatangan.

Mereka datang dari berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, Filipina, dan Vietnam. Beberapa di antaranya ada juga yang datang dari negara-negara di Benua Eropa, seperti Belanda dan Swedia. “Namun, sejak Desember 2019 lebih banyak yang datang dari Asia karena Eropa sedang musim dingin,” tutur pemilik nurseri Mutasi Flora itu. Ia minimal meraup omzet Rp5 juta dalam sebulan. “Kalau ada jenis premium yang terjual, tentunya bisa lebih dari itu,” tambahnya.

Selain Abot, ada juga Adeng yang kerap melayani pembeli dari luar negeri. Kini ia memasok setidaknya 5 eksportir yang kerap memperoleh order dari mancanegara, seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, Belanda, Belgia, Tiongkok, Thailand, Filipina, dan Jepang. Menurutnya jumlah eksportir itu meningkat dari sebelumnya. “Setahun yang lalu saya cuma memasok 1—2 eksportir,” ujarnya. Ia memasok ratusan hingga ribuan tanaman per bulan. “Sekarang jumlah eksportir yang saya pasok bertambah. Jadi, jumlah penjualan pun bertambah,” kata Adeng.

Monstera adansonii variegata, salah satu jenis aroid kelas premium yang banyak diminati konsumen. (Dok. Febriadi Rahmatullah)

Menurut Adeng jenis aroid yang paling banyak diminta adalah aneka spesies philodendron. Permintaan aneka anthurium spesies juga tak kalah ramai, seperti Anthurium warocqueanum, A. veitchii, A. papillilaminum, dan varian kuping gajah. Harga jual bervariasi tergantung jenis dan ukuran tanaman. “Yang paling banyak transaksi yang harganya sekitar US$30—US$500 per tanaman,” ujar Adeng. Ada juga yang sampai puluhan ribu dolar untuk jenis tertentu yang langka untuk tanaman koleksi.

Abot dan Adeng lebih memilih membidik pasar luar negeri lantaran tergiur harga jual yang tinggi. “Harga jual menjadi lebih tinggi karena perbedaan nilai tukar mata uang asing,” ujar Abot. Apalagi saat ini mengirim tanaman ke luar negeri juga relatif mudah. Kini tersedia jasa yang membantu mengurus persyaratan pengiriman tanaman antarnegara sekaligus menjadi agen perusahaan ekspedisi internasional. Pantas bila para pemain tanaman hias jenis aroid lebih memilih membidik pasar mancanegara karena berbagai kemudahan itu.

Kurang pasokan

Sayangnya peningkatan permintaan tanaman aroid di pasar internasional tak diimbangi jumlah pasokan yang memadai. “Saat ini saya kekurangan barang,” ujar Adeng. Abot mengungkapkan hal yang sama. Itulah sebabnya beberapa jenis tanaman aroid yang semula kurang dilirik dan berharga murah, kini harganya terkerek naik lantaran laku di pasar luar negeri. Contohnya Philodendron plowmanii.

Sebelumnya harga tanaman kerabat talas itu cuma Rp15.000—Rp25.000 per tanaman. Kini harganya naik menjadi Rp250.000 per tanaman berukuran sama. Begitu juga Philodendron vericosum yang semula harganya hanya Rp35.000 per pot, kini meroket menjadi Rp2,5 juta. Monstera deliciosa variegata yang semula hanya laku Rp35.000—Rp50.000 per tanaman kini bisa laku dengan harga Rp2,5 juta untuk tanaman berukuran sama.

Harga Philodendron vericosum terkerek naik lantaran laku di pasar mancanegara.

Permintaan tinggi juga terjadi pada jenis-jenis barang koleksi berharga premium. Contohnya Monstera adansonii variegata. Pada acara lelang tanaman hias yang berlangsung pada kegiatan Trubus Agro Expo 2019, janda bolong—sebutan populer Monstera adansonii di tanah air—variegata berdaun 4 helai laku hingga Rp26 juta. “Harga itu tergolong murah. Di pasar internasional tanaman berukuran sama bisa laku hingga Rp35 juta,” kata Abot.

Itulah sebabnya para pemain tanaman aroid menahan untuk menjual janda bolong variegata karena dijadikan indukan untuk diperbanyak. Contohnya Handry Chuhairy yang sejak akhir 2019 terpaksa menolak melayani permintaan para pehobi. Di nurseri miliknya di kawasan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, bukannya tak ada stok. Namun, ia menjadikan tanaman itu sebagai indukan.

Pada 2020 ia memilih fokus untuk memperbanyak. “Sekarang ini permintaan banyak, tapi barang tidak ada. Kalau pun barangnya ada, pemilik tidak mau jual,” tuturnya. Ia juga sedang memperbanyak Monstera deliciosa variegata yang permintaannya tak kalah kencang. Sayangnya, proses perbanyakan terhambat lantaran nurseri miliknya tersapu banjir ketika malam Tahun Baru 2020.

Tren

Bagaimana cara menembus pasar luar negeri? Menurut Abot konsumen asal luar negeri berdatangan setelah melihat unggahan foto di grup media sosial, seperti grup Planet Anthurium dan Planet Philodendron-Monstera. Jika ada yang tertarik, mereka biasanya langsung mengirim pesan pribadi tentang keinginannya untuk membeli.

Ada juga konsumen luar negeri yang sudah memiliki jejaring dengan para kolektor tanaman hias di Indonesia, salah satunya Andhi Lim. Ia memiliki jejaring yang luas dengan para pemain tanaman hias di berbagai negara, seperti Thailand, Filipina, Jepang, dan Belanda. Banyak kolega Andhi yang mencari philodendron, anthurium, dan monstera dalam dua tahun terakhir. “Saya sering antar mereka ke Ciapus karena di sana lebih banyak,” ujarnya.

Andhi Lim (berkaus hijau) mengantar tamu asal Thailand. (Dok. Handry Chuhairy)

Menurut Handry tanaman aroid saat ini memang tengah tren di berbagai negara. Itu terbukti saat ia mengunjungi Kota Taipei, Taiwan. Di sana aneka jenis tanaman aroid juga mudah dijumpai di toko-toko bunga. Aroid juga mudah dijumpai di toko pakaian, restoran, hotel, dan bandara untuk menghias interior. “Aroid memang cocok untuk penghias ruangan karena dapat tumbuh optimal meski disimpan di tempat tanpa sinar matahari,” ujar Handry.

Bagaimana dengan pasar tanah air? Menurut pemain tanaman hias di Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, Nanang Koswara, pasar dalam negeri juga kini terus menggeliat. Di berbagai kota muncul para pemain tanaman hias baru yang menjual aneka jenis tanaman aroid. Contohnya Abi Wahyudi di Samarinda, Kalimantan Timur. Ia mulai mengoleksi aneka jenis tanaman aroid seperti philodendron, monstera, aglaonema, dan anthurium sejak 2015.

Menurut Abi kini permintaan yang paling banyak diminati adalah jenis philodendron. “Namun, untuk jenis yang bagus penjualannya belum sekencang di Pulau Jawa. Saya rata-rata menjual 10 pot jenis premium dalam sebulan,” ujarnya. Itupun konsumennya sebagian besar dari luar Samarinda. “Saya lebih banyak menjual ke Bogor, Malang, dan beberapa kota di Sumatera,” kata Abi.

Penghias ruangan

Menurut Abi pasar di Samarinda belum terbuka lebar karena sebagian masyarakat belum mengenal jenis dan pemanfaatan tanaman aroid. Menurut pengusahan tanaman hias di Jakarta Selatan, Chacha Binahati, masyarakat memang perlu edukasi tentang pemanfaatan aneka jenis tanaman aroid.

Itulah sebabnya dalam memasarkan tanaman koleksinya, pemilik nurseri Salmanda Plants itu menampilkan pemanfaatan tanaman aroid sebagai penghias ruangan. Ia selalu menggunggah foto-foto aneka jenis tanaman aroid yang ditata menjadi taman berukuran mungil di dalam rumah. Ia juga menampilkan foto tanaman yang dibalut dengan pot eksklusif sehingga tanaman tak hanya terlihat indah, tapi juga terlihat mewah menghias rumah.

Tanaman aroid menghiasi toko pakaian di Kota Taipei, Taiwan. (Dok. Handry Chuhairy)

Cara itu berhasil. Kini makin banyak ibu-ibu rumah tangga yang terinspirasi menghias rumah dengan tanaman aroid yang adaptif dalam ruangan. Itu terbukti banyak juga pelanggan ibu-ibu rumah tangga yang berkunjung ke nurseri milik Abot. “Mereka membuat komunitas dan mengelola arisan tanaman aroid seperti monstera. Mereka bahkan memilih jenis yang tergolong premium,” kata Abot.

Itulah sebabnya Abot dan Adeng optimis bila prospek bisnis tanaman aroid bakal berumur panjang karena pasarnya adalah konsumen akhir. Berbagai jenis aroid baru yang belum banyak dikenal pun terus ia kumpulkan. Contohnya berbagai jenis amydrium yang memiliki penampilan daun tak kalah unik dengan monstera.

Amydrium zippelianum variegata yang berdaun pecah seperti monstera, tapi teksturnya seperti berkerut. Abot juga mendatangkan aneka jenis anthurium dari Thailand. Oleh karena itu, makin banyak pilihan bagi konsumen untuk memilih tanaman aroid yang diminati. (Imam Wiguna)

Previous articleAtasi Perongrong Dekopon
Next articleMonstera Gres
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img