Friday, December 2, 2022

Menambang Laba Minyak Pala

Rekomendasi

 

Mereka-Feryanto dan Syauqi-memang berbisnis bersama mengibarkan bendera PT Pavettia Atsiri Indonesia. Pasangan pengusaha itu sejak 21 Maret 2006 mengolah buah pala Myristica fragrans menjadi minyak asiri.

Bogor mereka pilih sebagai tempat beragribisnis lantaran sentra pala. Sukabumi dan Cianjur yang berbatasan langsung dengan Bogor juga sentra buah yang acap diolah menjadi manisan itu. Buah-buah mereka olah menjadi minyak asiri. Saat ini volume produksi minyak pala baru 700-1.000 kg untuk memasok 3 eksportir di Jakarta.

Tak terbatas

Volume pasokan itu relatif kecil. Sebab, menurut Feryanto permintaan minyak pala tak terbatas. Itulah sebabnya eksportir menerima berapa pun pasokan minyak pala. Standar mutu yang dipersyaratkan eksportir, ‘Yang penting minyak pala berkadar miristisin tidak kurang dari 10%,’ ujar alumnus Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung itu. Miristisin senyawa aktif pada minyak pala yang jika dikonsumsi berefek menenangkan.

Standar mutu itu relatif mudah dicapai oleh Feryanto-Syauqi. Mereka menjual minyak asiri dengan harga Rp450.000 per kg pada Juni 2008. Total omzet mereka Rp315-juta-Rp450-juta per bulan. Dua tahun silam ketika ia mulai berbisnis minyak pala, harga jual baru Rp275.000 per kg. Harga terus merangkak hingga kini mencapai Rp450.000 per kg. Dengan margin 20% saja, laba bersih Fery dan Syauqi Rp90-juta sebulan. Menurut Fery biaya produksi untuk menghasilkan sekilo minyak pala Rp370.000. Sekilo minyak diperoleh dari 8-9 kg buah kering. Menurut Feryanto, kelahiran Temanggung 26 Februari 1979, harga bahan baku berkisar Rp20.000-Rp40.000 per kg tergantung jenis.

Jenis terbaik, berkadar minyak tertinggi 15% dan tinggi rendemen 15%, adalah bejo alias buah berumur 3 bulan. Harganya Rp40.000 per kg. Jenis kedua disebut media atau biji yang berasal dari buah berumur 6-7 bulan dan berkadar minyak 10-11%. Harganya Rp35.000 per kg. Sementara harga polong atau biji buah berumur 10 bulan dan berkadar minyak 6-7% mencapai Rp30.000 per kg.

Adapun kilap merupakan biji tua dari buah berumur di atas 10 bulan. Kadar minyaknya paling rendah, di bawah 6%. Feryanto membelinya Rp20.000 per kg. Kilap biasanya dijual sebagai bumbu untuk memasak sup, semur, dan gulai. Fuli alias selaput yang menyelimuti biji juga dapat dijadikan bahan baku karena masih mengandung minyak meski hanya sedikit. Dalam proses produksi, Feryanto mencampur ke-4 jenis bahan baku itu. Pengkelasan bahan hanya untuk membedakan harga beli di tingkat pekebun.

Cari investor

Duet Fery-Syauqi melirik bisnis minyak asiri sejak 2003. Mereka saling kenal ketika aktif dalam organisasi Badan Koordinasi Kegiatan Mahasiswa Teknik Kimia Indonesia. Menjelang lulus sarjana, mereka sama-sama bereksperimen memproduksi minyak asiri di laboratorium kampus. ‘Minyak asiri dipilih karena ketika itu bisnis minyak nilam sedang tren. Dosen-dosen pun menganjurkan untuk menekuni bisnis itu karena peluangnya bagus,’ kata Feryanto.

Setelah lulus kuliah, mereka kembali belajar pada industri skala rumahtangga dan berdiskusi dengan ahli minyak asiri. Setelah menguasai teknologi produksi, mereka menawarkan rencana bisnis kepada para investor selama 2 tahun. Hasilnya? ‘Para investor tidak mau menanggung risiko karena kami masih mentah pengalaman,’ ujar Syauqi, kelahiran Yogyakarta 22 Februari 1978.

Ada yang bersedia mendanai, tetapi pembagian keuntungannya 90% untuk investor, sisanya untuk pengelola. ‘Lebih baik jadi karyawan kalau pembagian labanya cuma segitu,’ kata Fery. Pada 2005 Kementerian Riset dan Teknologi membuka program pendanaan yang menyediakan modal untuk para pebisnis pemula seperti duet Fery-Syauqi.

Lembaga itu menyetujui proposal mereka sehingga Fery-Syauqi memperoleh dana Cuma-cuma Rp380-juta. Pada Maret 2006, mereka merakit alat sendiri berkapasitas 1.500 kg per bulan senilai Rp160-juta; selebihnya untuk modal kerja. Di awal bisnis, berbagai hambatan muncul. Sekadar contoh pemilihan Bogor sebagai lokasi usaha malah menjadi bumerang. ‘Saya malah masuk ke sarang pesaing,’ kata Fery.

Meningkat

Di Bogor setidaknya ada 10 produsen minyak pala yang berproduksi sejak belasan tahun silam. Dampaknya Fery-Syauqi kesulitan memperoleh bahan baku. Oleh sebab itu dari kapasitas terpasang 300 kg minyak pala, hanya mampu menghasilkan 50 kg per pekan. ‘Produksi hanya seminggu sekali karena sulit bahan baku,’ kata Syauqi.

Berkaca pada pengalaman itu, stok bahan baku harus tersedia minimal untuk sepekan mendatang. Itulah sebabnya mereka juga mendatangkan buah anggota famili Myristicaceae itu dari Manado dan Lampung.

Pasangan yang sama-sama lahir pada Februari itu mengolah buah-buah pala di Desa Banjarsari, Kabupaten Bogor. Mereka memanfaatkan bangunan seluas 200 m2 untuk menyuling buah pala yang pasarnya terbentang luas. Itulah sebabnya mereka berencana menaikkan produksi. Bagi mereka minyak asiri asal buah pala bukan cuma memberikan keharuman, tetapi juga laba besar. Jejak bisnis itu bermula dari laboratorium kampus di Jalan Ganesa dan Condongcatur. (Sardi Duryatmo/Peliput: Imam Wiguna)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tips Mengatur Pola Pakan Tepat untuk Kuda

Trubus.id — Berbeda dengan sapi, kuda termasuk hewan herbivora yang hanya mempunyai satu lambung (monogastrik) sehingga kuda sangat membutuhkan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img