Monday, November 28, 2022

Mencari Durian Unggul

Rekomendasi

 

Pembicaraan dalam pertemuan itu terpusat pada pertanyaan, Mengapa durian lokal belum bisa bersaing dengan durian dari Thailand? Ini pertanyaan lama yang sering diungkap. Namun, tetap relevan karena posisi kita sampai sekarang hampir tidak berubah. Hampir tidak ada kemajuan selama 20 tahun ini.

Pertemuan itu memang belum menghasilkan calon durian unggul untuk dikembangkan lebih lanjut. Toh, banyak usul dan pendapat untuk dipelajari lebih lanjut. Di sini saya menyampaikan pandangan secara lebih lengkap supaya menjadi bahan pemikiran bersama.

Tidak unggul

Sejak 1984, Menteri Pertanian melepas 53 varietas yang dianggap sebagai varietas unggul Indonesia atau varietas unggul nasional. Dari jumlah itu, hanya beberapa yang dikenal. Sebut saja petruk, sitokong, matahari, sunan, hepe, dan 2 varietas introduksi dari Thailand: otong dan kani. Nama varietas unggul yang muncul belakangan hanya dikenal di tingkat penelitian. Sepertinya kurang disosialisasikan dan tidak didukung penyebaran bibitnya.

Varietas unggul yang sudah dikenal dan banyak ditanam pun tidak memuaskan. Saya punya pengalaman buruk menanam sunan, sukun, petruk, hepe, sitokong, dan matahari di Cianjur. Sampai panen kedua, tekstur daging keras, kurang manis, dan kulit gampang pecah sehingga sulit dijual. Saya menghabiskan biaya besar dan waktu 6 tahun sebelum akhirnya menebang lebih dari 1.300 pohon. Lalu diganti dengan varietas monthong, hortira, dan kani yang lebih cocok.

Banyak pekebun lain mengalami hal sama. Belum terdengar ada yang berhasil menanam varietas unggul nasional secara komersial. Di pasar, varietas unggul itu sulit ditemukan. Memang kerap terlihat pedagang durian di pinggir jalan menjajakan petruk dan sitokong. Namun, itu sekadar nama untuk menarik pembeli.

Beda jauh

Varietas matahari sebenarnya enak sekali, tapi penanamannya memerlukan lingkungan kering dan intensitas matahari tinggi. Pantas di kebun saya yang curah hujannya tinggi, hasilnya tidak memuaskan. Varietas sunan juga enak dan banyak penggemarnya, tapi daging buah matang tidak merata dan kulitnya cepat pecah.

Saya mendengar cerita, sunan di Kalimantan Timur produksinya hanya beberapa buah. Padahal menurut deskripsi di buku, sunan varietas produktif. Singkat cerita, varietas unggul yang ditanam secara klonal di berbagai tempat, hasilnya jauh berbeda dengan deskripsi keunggulannya.

Jadi masalahnya di mana? Menurut pendapat saya, ada kelemahan dalam penentuan keunggulan durian lokal. Pertama, varietas yang sudah ditetapkan sebagai unggulan kurang disosialisasikan dan tidak didukung penyediaan bibit. Akibatnya, kesempatan untuk menguji keunggulannya jadi minim. Padahal, di antara 53 varietas unggul sangat mungkin didapat varietas yang benar-benar bagus dan mampu menyaingi durian impor.

Kedua, selama ini varietas dinyatakan unggul berdasarkan pengamatan terhadap pohon induk. Belum ada pengamatan terhadap turunannya yang diperbanyak secara klonal. Pun uji adaptasi di wilayah dan agroklimat berbeda. Umumnya pohon induk berumur puluhan tahun dan akarnya sudah stabil. Tentu saja hasilnya berbeda dengan pohon yang baru ditanam.

Ketiga-dan ini yang paling penting kriteria yang dipakai untuk menilai varietas durian belum lengkap. Penilaian dilakukan terhadap produktivitas, rasa buah, penampilan, dan ketahanan terhadap hama dan penyakit. Namun, belum mempertimbangkan aspek komersial lain yaitu ketahanan buah sampai pecah (shelf life) dan kemampuan untuk diperam. Ini yang membedakan durian unggul kita dengan impor dari Thailand. Meskipun durian lokal banyak yang rasanya lebih enak tapi aspek komersialnya kalah sehingga sulit dipasarkan luas.

Kasus monthong

Ambil contoh durian monthong. Monthong untuk ekspor dipetik 7-10 hari sebelum jatuh. Setelah diseleksi dan dibersihkan, dimasukkan ke dalam kardus dan dikirim dengan kapal laut ke negara tetangga. Kira-kira satu minggu perjalanan, durian sampai di toko tujuan dan mulai matang ketika sampai ke tangan pembeli. Jadi ada proses pematangan selama pengiriman. Shelf life-nya sampai pecah kira-kira 10 hari.

Dengan cara itu, monthong segar dikirim ke Malaysia, Singapura, Indonesia, Hongkong, Cina, dan Jepang. Pengiriman ke negara lebih jauh seperti Eropa atau Amerika, dipilih buah hampir matang. Buah dibekukan sebelum dan selama pengiriman melalui laut. Ketika sampai di negara tujuan, durian dicairkan dan dijual ke pembeli. Tentu saja tidak seenak yang segar karena teksturnya sudah lembek. Namun, rasa duriannya masih ada.

Untuk menandingi durian impor, kita perlu mencari varietas unggul yang punya karakteristik seperti di atas: bisa matang kalau diperam dan shelf life panjang. Durian unggul nasional, tentu harusnya tahan dikirim ke seluruh wilayah Indonesia, bahkan diekspor. Kenyataannya, kebanyakan durian lokal bila dipetik sebelum jatuh dan diperam, tidak matang dengan baik. Shelf life-nya pun pendek, 3-4 hari.

Durian dari Malaysia juga masih sulit menandingi monthong. Varietas D24, D10, MDUR 88, dan MDUR 89 rasanya memang enak tapi lingkup pemasaran masih kalah dibanding monthong. Penampilan durian malaysia seperti durian kampung dan shelf life-nya pendek.

Kriteria baru

Untuk itu perlu ada perbaikan kriteria varietas unggul nasional. Kriteria itu menyangkut aspek komersial, daya adaptasi di berbagai lingkungan dengan agroklimat berbeda, serta rasa dan penampilan buah.

Dari aspek komersial, varietas itu genjah-ini penting karena mempengaruhi kelayakan finansial. Produktivitas tinggi dan konsisten sebab mempengaruhi tingkat pendapatan. Jenis itu mudah berbunga oleh stres kekeringan pendek sehingga setiap tahun berbuah, shelf life-nya panjang-minimal 7 hari-jadi layak dikirim jauh. Syarat lain, matang dengan baik jika dipetik dan diperam 10 hari untuk pengiriman jauh.

Rasa enak. Ideotip orang Indonesia adalah bertekstur pulen, tidak berserat, dan manis legit. Rasio berat daging terhadap buah tinggi-minimal 20%. Rasa konsisten, terutama di musim hujan. Soal aroma disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Orang Indonesia suka yang beraroma kuat. Malaysia dan Singapura suka yang sedang. Warna daging lebih disenangi kuning sampai kuning tua. Bobot buah berkisar 2-3 kg dengan penampilan menarik: lonjong dan duri agak besar. Selain itu, pohon mesti tahan penyakit, khususnya Phythophthora palmivora, struktur batang dan dahan kuat sehingga tidak mudah tumbang.

Tentu sulit mencapai kriteria itu dengan sempurna. Minimal mendekati, terutama karakter dan kemampuan penting. Varietas monthong dan kani hampir memenuhi semua persyaratan. Hanya monthong kurang tahan serangan Phythophthora palmivora dan daging kuning pucat. Rasa kani kurang konsisten di musim hujan.

Mulai dari awal

Lantas bagaimana cara mendapatkan varietas unggul nasional yang bisa menandingi durian impor? Kelihatannya sulit dan butuh waktu lama. Namun, sudah ada 53 varietas unggul yang kualitasnya di atas durian rata- rata. Ini modal awal.

Kita harus melakukan penelitian lagi dari awal. Daerah yang memiliki potensi dan berminat mengembangkan durian harus mengadakan percobaan penanaman berbagai varietas endemik. Balai Benih Hortikultura di setiap provinsi, perkebunan negara dan swasta diminta bekerjasama menanam dan meneliti varietas unggul di daerah masing-masing. Itu ditambah 53 varietas unggul yang dirilis menteri pertanian.

Tujuannya, mendapatkan durian unggul lokal yang cocok dengan agroklimat setempat. Kriteria disebut di atas bisa dipakai tapi tidak usah terlalu ketat, khususnya tentang shelf life, kemampuan diperam, dan adaptasi lingkungan. Nantinya varietas unggul lokal bisa dikembangkan komersial oleh pekebun swasta untuk menandingi durian impor yang masuk wilayah itu. Pengusaha akan berminat menanamkan modal jika yakin bisa mengatasi risiko dan prospek keuntungannya bagus.

Unggulan lokal itu mempunyai keuntungan komparatif karena jarak pasar lebih dekat. Buah dipanen lebih tua sehingga kualitasnya lebih baik daripada durian impor. Dukungan pemerintah tentu dibutuhkan dalam bentuk dana, teknologi, dan tenaga ahli peneliti. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura harus menambah jumlah peneliti di bidang budidaya durian.

Varietas unggul lokal yang sudah teruji, diteliti lebih lanjut untuk menjadi unggulan nasional. Ini disebarkan lagi ke beberapa wilayah yang agroklimatnya berbeda untuk menguji daya adaptasinya. Dengan cara itu, niscaya didapat varietas yang benar-benar unggul nasional.

Penanaman varietas monthong juga perlu digalakkan secara komersial untuk mensubstitusi impor. Pengembangannya lebih mudah karena bibit banyak tersedia dan daya adaptasinya tinggi. Varietas lain yang lazim ditanam seperti kani dan matahari pantas dikembangkan. Namun, pilih yang agroklimatnya sesuai.

Toh, kendala tetap menghadang para pekebun. Umumnya masalah keamanan dan teknik budidaya. Pencurian dan penjarahan membuat pekebun segan mengembangkan penanaman. Banyak juga yang tidak menguasai teknik budidaya. Namun, harus diakui menanam durian jauh lebih rumit daripada buah lain. Apalagi pakar budidaya durian komersial belum ada. Di sini diharapkan peran dari Puslitbang Hortikultura.

Masuknya durian impor jangan menjadi penghalang. Musim di Indonesia dan Thailand berbeda. Puncak musim durian di Thailand, Mei-Oktober. Di luar periode itu, produksinya sedikit dan harganya mahal. Puncak panen durian di Indonesia berlangsung November-Februari. Saat yang tepat untuk mengisi kekosongan impor dengan berkebun varietas-varietas unggul.***

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img