Monday, August 8, 2022

Mengarifi Cemara dan Kurma

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Maka, ketika sobat saya, Arswendo Atmowiloto mantu, saya bawakan sepasang Araucaria cuninghamii dari Cibodas. “Silakan tanam. Pohon-pohon ini bisa hidup sampai seribu tahun,” pesan saya.

Cemara memang dikenal sebagai “pohon abadi”. Setiap akhir tahun, hingga awal tahun baru, berbagai jenis cemara laku di mal dan jalanan. Ada yang dipakai menjadi pohon natal. Ada juga cemara udang untuk penghijauan pantai. Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) pernah bercita-cita menyuburkan pantai Indonesia dengan cemara.

Dalam acara penghutanan Pantai Samas, di selatan Yogyakarta, Prabowo Subiyanto memuji cemara sebagai wind barrier, penghalang angin, atau wind breaker, peneduh angin. Artinya, cemara melindungi tanah, petani, dan keluarga nelayan. Perkampungan nelayan di Kecamatan Sanden, Bantul, bekerjasama dengan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, sukses menyuburkan pantai dengan cemara.

Namun kita tahu, cemara lebih populer di gunung. Berbagai jenis cemara, termasuk beragam pinus dan siprus, memang identik dengan alam pegunungan. Sejak kecil kita telah mengenal cemara melalui lagu “Naik-naik ke puncak gunung.” Namun sesungguhnya, bagaimana peran cemara di dalam agroforestry dan agribisnis? Seberapa besar cemara menyumbang dunia perniagaan?

Setiap tahun, impor cemara hias tak pernah berkurang. Memang bukan pohon alamiah, tapi pohon imitasi yang warnawarni dari plastik, fi ber, kertas, kayu atau logam. Dari Singapura, Indonesia mengimpor ribuan unit “cemara buatan” setiap tahunnya. Artinya apa? Produk paling mahal dari alam adalah inspirasi yang diberikannya. Bukan bendanya semata-mata!

Berulang kali kepada para petani di desa, saya katakan jangan hanya tertarik pada tanaman yang langsung bisa dimakan. Banyak pohon, hewan, bahkan tanah, dan bebatuan dapat menghidupi manusia tanpa harus dikunyah dan ditelan. Cemara adalah satu contohnya. Ketika terjadi krisis moneter, bonsai cemara udang menyelamatkan warga desa-desa pantai di Madura dari kelaparan.

Sekarang, apa yang dapat diharapkan dari sekitar 70 macam cemara tropis yang tumbuh di Indonesia? Memang sering kita mendengar pesanggem (penggarap hutan lindung) hidup dari getah pinus. Ada jenis cemara yang getahnya dapat dijadikan lem kayu. Ada juga cemara yang daunnya jadi pewangi pakaian. Yang jelas, di pinggirpinggir kota, bahkan di kawasan Senayan,  Jakarta Pusat, perdagangan cemara hidup cukup semarak.

Perpanjang usia

Di Semarang, pohon cemara tidak perlu dibeli untuk perayaan natal. Cukup disewa dengan tarip Rp150.000 per hari. Sebatang cemara norfl ok yang pada 1992 berharga Rp2.000 setinggi 1 m, selusin tahun kemudian sudah lebih dari 7 m di halaman rumah saya. Segar oksigennya.Hijau sepanjang tahun dan hampir tidak menghasilkan sampah yang berarti. Pantas saja kalau cemara juga disebut ”ever green” hijau sepanjang waktu.

Lalu apa untungnya menanam cemara? Tetangga saya – Ibu Karen – menanam 20 araukaria di seputar rumahnya. Sepuluh di antaranya sudah tinggi dan anggun. Beratus burung kecil-kecil tidur dan bersarang di atasnya. Setiap sore dan pagi, burung-burung itu bernyanyi. Itulah santapan rohani. Jangan lupa, makanan yang nikmat membuat kita hidup; keindahan membuat kita berusia panjang.

Jadi, manfaat utama menanam pohon keras adalah mendapat keindahan, yang  penting untuk memperpanjang usia. Hal inilah yang belum banyak disadari oleh petani dan pekebun musiman. Di beberapa daerah penghasil sayur, pohon-pohon besar sering kali malah ditebangi. Alasannya, supaya tidak menahan sinar matahari yang diperlukan untuk membesarkan wortel, kol, seledri, sawi, tomat, cabai, dan bermacam sayur lainnya.

 

Padahal, kalau semua pohon besar ditebangi, matilah kita! Para petani yang marah, di seputar Taman Nasional Gede Pangrango, pernah diberitakan mencabuti pinus yang ditanam untuk penghijauan. Memang betul, pohon-pohon berdaun jarum (conifer) kurang bagus untuk menahan deras hujan yang mengakibatkan erosi. Namun hutan cemara yang lebat, masih lebih kokoh daripada ladang sayur yang bisa dipanen sepekan sekali.

Di beberapa daerah resapan air bagian selatan Jawa Tengah, pernah ada keluhan, penghijauan dengan pinus dapat mematikan sumber. Sebetulnya justru penebangan besar-besaran yang tejadi sebelum penghijauan itulah yang membuat banjir dan hilangnya cadangan air pada musim kemarau berikutnya. Setelah hutan berkembang, air pun kembali tertabung seperti semula.

Sumber mata air tidak hanya muncul dari pohon beringin, karet munding atau elo; tapi juga dari cemara yang besar dan tua. Di kawasan Pintu Angin, Sumatera Utara, saya pernah melihat sumber besar di bawah sebatang cemara biru. Jangan lupa, di daerah berangin kencang, justru pohon berdaun jarum lah yang bisa bertahan. Karena itu cemara sangat cocok untuk penghijauan pantai dan pegunungan.

Hal itu juga diakui oleh Prof Dr Suhardi, guru besar Fakultas Kehutanan UGM. Semula daerah Pantai Samas diusahakan hijau dengan ketapang dan nyamplung. Ternyata banyak yang mati, karena panas, dan angin kencang. “Hasilnya baru menggembirakan setelah ditanami cemara udang,” katanya.

Pantai yang teduh dan aman membuka banyak peluang dan mata pencaharian bagi masyarakat. Per tanian pun bisa berkembang, dan iklim setempat menjadi lebih sehat. Itulah penjelasannya, mengapa cemara dapat memperpanjang usia. Masyarakat di Aceh dan Brunei menyebutnya pohon ru. Ada ru bukit, ru ronang, ru pantai, ru gunong, dan seterusnya.

Simbol liburan

Pada masa lalu, setelah abad XVI, cemara sering disebut juga “pohon natal”. Namun belakangan ini namanya diubah menjadi holiday season tree. Untuk menghapus eksklusifisme dan bau agama tertentu, cemara perlu dipandang netral. Penggunaan pohon itu sebagai simbol keagamaan sudah dimulai jauh-jauh hari sebelum Masehi.

Orang-orang Romawi kuno merayakan’25 Desember sebagai hari lahir Dewa Mithras, yang pada zaman purba dipuja sebagai Dewa Matahari di Persia. Orang Mesir mempercayai 27 Desember kelahiran Dewa Osiris. Mereka menggunakan cemara untuk menggantungkan berbagai hiasan, hadiah, dan persembahan para dewa.

Konon Martin Luther – pelopor Kristen Protestan – menggantikan berbagai hadiah itu dengan lilin. Makanya para pemeluk Protestan menyebutnya “pohon terang”. Pada awalnya api atau lampu itu baru dinyalakan pada 24 Desember malam. Namun setelah komersial, kelap-kelip lampu cemara itu dapat dilihat sejak awal bulan. Bahkan di negara mayoritas Katolik seperti Brazil dan Filipina, lampu-lampu cemara sudah berkelap-kelip ketika nama bulan berakhir dengan “ber”. September, Oktober, November. Puncaknya: sepanjang Desember!

Itu juga sebabnya pohon cemara perlu dimaknai sebagai pohon masa liburan. Nilainya pun lebih dari sekadar pohon pembatas pekarangan atau hasil hutan. Sejak 1913 cemara masuk jaringan supermarket Sears, di Amerika Serikat. Saat itu juga, perniagaan cemara berikutberbagai aksesorisnya melanda pasar internasional. Produk dampingannya macam-macam. Mulai dari perangkat elektronik, berbagai traktor dan alat penganggkutan khusus, hingga pernik-pernik kecil yang rumit dan mahal: emas, intan, berlian!

S e k a l i l a g i , t e r bu kt i bu k an bendanya yang penting, melainkan inspirasi yang dibawanya. Hal inilah yang seyogyanya memperkaya para pekebun cemara di Tretes, Jawa Timur sampai Lembang, Jawa Barat.  Dengan menjual pohon cemara segar saja satu musim dapat untung bersih Rp5-juta per keluarga. Namun dengan membuat aksesorisnya, hasilnya tentu akan lebih besar.

Berkah dari inspirasi ini tentunya juga tidak hanya berlaku pada cemara. Bunga spatodea atau ki acret, yang mutu kayunya rendah pun, masih dapat dimanfaatkan kulit buahnya. Untuk apa? Hiasan rumah tangga!  Dan yang lebih penting lagi, adalah informasi dan simbol-simbol yang dapat dimunculkan dari pohon indah itu.

Spatodea atau sepatu para dewa, pohonnya banyak dilukis sebagai lambang kemurahan hati. Pohon gayam, lambang ketentraman hati. Pohon bodhi Ficus

religiosa, juga dihargai tinggi bukan karena daun, batang, bunga atau buahnya. Semua menjadi bernilai tinggi, karena kita percaya fl ora dan fauna itu datang ke dunia, untuk menunaikan panggilan hidupnya.

Itulah sebabnya kita menerima kehadiran macam-macam pohon cemara untuk memperkaya kearifan lokal dengan nilainilai yang universal. Termasuk di antaranya dengan giat membibitkan kurma di sekitar kita dan menjual pohonnya antara Rp4-juta hingga Rp6-juta sebatang.

Pohon kurma Phoenix dactylifera sejak sepuluh tahun terakhir juga berkembang pesat penanamannya di kota-kota besar Indonesia. Hampir di setiap pelataran masjid, supermarket dan supermal, orang suka menanam kurma, meskipun tahu tidak akan berbuah. Di berbagai kawasan dengan pemeluk Islam yang kuat, seperti Subang di Jawa Barat, Situbondo dan Madura di Jawa Timur, bibit kurma banyak dijual.

Pengadaannya pun ternyata tidak sulit. Hanya dengan satu kotak tanah bercampur pasir, setiap kali habis makan kurma di bulan Ramadhan, kita dapat mencoba menyemaikannya. Bukan hanya dengan biji dari kurma segar. Bahkan dari kurma awetan yang sudah sangat tua, kita dapat memperoleh kecambahnya. Memang banyak yang lebih puas bila membawa bibitnya asli dari Mesir atau Yordania. Namun, yang berhasil menangkarkan secara sederhana banyak juga. Tinggal kini, bagaimana meningkatkan jumlah penggemar pohon dan pencinta berkah sampingan yang dimunculkan dari aura setiap pohon itu. Selamat menanam apa saja. Tidak ada sebatang pohon pun yang tidak berguna!***

*) Eka Budianta, sastrawan, konsultan pembangunan untuk Program Jasa Lingkungan (ESP – USAID), kolumnis TRUBUS Jawa Timur sampai Lembang, Jawa Barat.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img