Tuesday, November 29, 2022

Menjari Menjaga Hati

Rekomendasi

Riset teranyar Santi Dwi Astuti dari Universitas Setia Budi Surakarta, Jawa Tengah, membuktikan daun pepaya berdaya hepatoprotektorKonsumsi obat antituberkulosis memicu kerusakan hati. Obatnya ada di pekarangan.

 

dr Philemon Konoralma SpPD, bakteri Mycobacterium tuberculosis tergolong bakteri oportunisMenjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi mencegah tertular tuberkulosisBukan tentara yang mengalahkan Raja Mesir kuno, Akhenaten atau Amenhotep IV. Raja yang berkuasa pada 1357-1336 sebelum Masehi itu takluk oleh kuman mungil Mycobacterium tuberculosis. Itulah kuman koch penyebab tuberkulosis yang menggerogoti tubuh Akhenaten dan istrinya, Nefertiti, hingga meregang nyawa sebagaimana termaktub dalam Tuberculosis karya M Monir Madkour dan D A Warrell.

Penyebab kematian sang raja itu sama persis dengan kematian massal di Eropa pada abad ke-17 yang sohor sebagai Wabah Putih Mematikan (Great White Plague). Shelley E. Haydel mengabadikan kisah itu dalam jurnal Pharmaceuticals. Hingga 400 tahun berlalu, kuman temuan Robert Koch itu masih menjadi pencabut nyawa.

Mudah menular

Dokter di Rumahsakit dr Sardjito, Yogyakarta, dr Nyoman Kertia SpPD, mengatakan bakteri penyebab tuberkulosis mudah menyebar melalui udara sehingga penularannya sangat cepat. Apalagi di tempat yang sedang berjangkit epidemi atau bersanitasi buruk seperti daerah yang baru terkena bencana. “Waspadai batuk berkepanjangan yang disertai darah dan sesak napas,” kata Nyoman.

Menurut dr Philemon Konoralma SpPD, bakteri Mycobacterium tuberculosis tergolong bakteri oportunis. Artinya, bakteri yang tahan asam itu kerap menyerang saat daya tahan tubuh lemah akibat penyakit lain. Jumlah penderita tuberkulosis sempat berkurang setelah penemuan obat etambutol dan isoniazid (INH). “Namun, jumlahnya kembali meningkat setelah HIV/AIDS mewabah,” kata Philemon.

Maklum, daya tahan tubuh penderita infeksi HIV/AIDS terus melemah sehingga tuberkulosis dengan mudah menyerang. Untuk mengatasi penyakit itu, pasien mengonsumsi obat-obatan antituberkulosis seperti obat berbahan aktif isoniazid (INH), rifampisin, pirazinamid, dan ethambutol. Namun, obat-obatan itu menyebabkan efek samping seperti mual, gangguan pencernaan, dan demam.

Konsumsi dalam jangka panjang menyebabkan hepatotoksik alias meracuni hati. Pasien tuberkulosis berisiko tinggi mengalami hepatotoksik karena pasien harus mengonsumsi obat minimal selama 6 bulan tanpa putus. Menurut Z. Arsyad dalam jurnal Cermin Dunia Kedokteran hampir semua obat antituberkulosis mempunyai efek hepatotoksik, kecuali streptomisin.

Jika pasien mengalami hepatotoksik, dokter memberikan suplemen yang mengandung metionin dan kolin. Suplemen itu untuk mencegah penyakit hati menular, degenerasi lemak atau infiltrasi hati, dan gangguan hati akibat obat-obatan. Namun, pasien dengan gangguan hati berat mesti memperhatikan dosis yang sesuai. Dosis suplemen yang terlalu besar justru menyebabkan toksemia alias keracunan darah.

Uji ilmiah

Hasil riset teranyar Santi Dwi Astuti dari Universitas Setia Budi Surakarta, Jawa Tengah, membuktikan daun pepaya manjur mencegah hepatotoksik akibat konsumsi obat antituberkulosis. Santi menguji efek hepatoprotektor daun pepaya pada 20 tikus. Ia membagi hewan percobaan itu ke dalam 4 kelompok.

Pada kelompok I Santi memberikan isoniazid, rifampisin, dan ekstrak daun pepaya dengan dosis masing-masing         10 mg, 10 mg, dan 20 mg per 200 g bobot tikus. Kelompok II sebagai kontrol negatif yang mengonsumsi isoniazid dan rifampisin berdosis sama, yakni 10 mg per 200 g bobot tubuh tikus.

Kelompok III menjadi kontrol positif, mengonsumsi isoniazid, rifampisin, dan suplemen yang mengandung metionin dan kolin. Dosis ketiga bahan itu masing-masing 10 mg, 10 mg, dan 12,6 mg per 200 g bobot tikus. Sementara kelompok IV menjadi kontrol netral. Pada kelompok itu Santi tidak memberi asupan apa pun. Santi memberikan perlakuan itu sehari sekali selama 28 hari.

Untuk mengukur efek hepatoprotektor Santi menghitung kadar alanin aminotransferase (ALT) dan enzim aspartate aminotransferase (AST) sebagai parameter uji. Aktivitas enzim ALT merupakan parameter yang lebih spesifik untuk kerusakan hati. Semakin tinggi kadar ALT, maka semakin parah kerusakan hati. Sementara kadar AST yang meningkat belum tentu mencerminkan kerusakan hati.

Itu karena kadar AST hanya sebagian kecil terdapat di hati. Enzim itu juga terdapat pada otot jantung dan otot lurik seperti otot lengan. Kerusakan otot karena latihan fisik terlalu berat juga dapat mendongkrak kadar AST. Ia mengukur kadar kedua enzim itu pada hari ke-14, ke-21, dan ke-28.

Daun pepaya

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penurunan kadar ALT pada tikus di kelompok I dan III paling baik. Pada kelompok I jumlah penurunan kadar ALT tikus mencapai 21,65 unit/liter, sementara kelompok III 33,2 unit/liter. Pada pengukuran nilai ALT, tingkat penurunan terbaik adalah pada kelompok I.

Penambahan ekstrak daun pepaya dapat menurunkan kadar enzim AST hingga 543,3 unit per liter. Sementara kelompok III nilai AST turun hanya 447, 86 unit per liter. Jadi kesimpulannya pemberian ekstrak daun pepaya dapat melindungi hati dengan menurunkan kadar ALT dan AST yang menjadi indikator kerusakan hati.

Menurut alumnus Universitas Setiabudi itu, daun pepaya mampu menurunkan kadar kedua enzim itu berkat senyawa alkaloid flavopiridol. Ia merupakan senyawa semisintesis dari alkaloid piperidina dengan senyawa flavonoid. Jadi, untuk mencegah efek samping kerusakan hati akibat konsumsi obat antituberkulosis, konsumsi saja daun pepaya yang berbentuk menjari. Tuberkulosis lenyap, hati pun terjaga.

Menurut herbalis di Rumahsakit Wisata Holistik Purwakarta, Provinsi Jawa Barat, dr Badruzzaman, senyawa aktif papain dalam daun pepaya memperbaiki dan menyehatkan sel hati yang rusak akibat penggunaan obat tuberkulosis. Selanjutnya sel hati yang sehat itu menormalkan kembali kerja enzim AST dan ALT. Untuk mengolah daun pepaya dengan merebus 2 helai dalam dua gelas air hingga mendidih. Pasien minum segelas air rebusan itu duakali sehari. Selanjutnya biar papain yang menjaga hati. (Riefza Vebriansyah)

Daun Pepaya HepatoprotektorDaun Pepaya Hepatoprotektor

Pasien tuberkulosis biasanya mengonsumsi obat-obat antituberkulosis seperti isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan ethambutol. Hampir semua obat antituberkulosis mempunyai efek hepatotoksik, kecuali streptomisin. Riset terbaru menunjukkan senyawa alkaloid flavopiridol dalam daun pepaya tokcer menurunkan kadar alanin aminotransferase (ALT) dan aspartate aminotransferase (AST). Senyawa itu melawan keracunan akibat hepatotoksin. Penurunan nilai kedua enzim itu, terutama ALT menandakan perbaikan hati. (Riefza Vebriansyah)

 

Keterangan Foto :

  1. dr Philemon Konoralma SpPD, bakteri Mycobacterium tuberculosis tergolong bakteri oportunis
  2. Menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi mencegah tertular tuberkulosis
  1. Riset teranyar Santi Dwi Astuti dari Universitas Setia Budi Surakarta, Jawa Tengah, membuktikan daun pepaya berdaya hepatoprotektor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img