Tuesday, August 9, 2022

Menjemput Minyak Cajuputi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
(Dok. Trubus)

Trubus — Masyarakat Pulau Buru, Provinsi Maluku, merendam daun dan bunga kayuputih dalam minyak. Mereka lalu mengasap rendaman itu dengan kemenyan untuk memperoleh minyak rambut. Ahli Botani asal Belanda, Karel Heyne (1877—1947) mengisahkan tradisi pada era 1600—1700 dalam Tumbuhan Berguna Indonesia. Itulah saat era George Eberhard Rumphius, ilmuwan asal Jerman,berdiam di Ambon.

Tradisi lain mencampurkan beberapa tetes minyak kayuputih dalam anggur atau bir lalu meminumnya untuk menghilangkan keringat. Idrus Hentihu yang lahir dan tumbuh besar di Pulau Buru mengingat, jika flu segera mengonsumsi minuman minyak kayuputih yang dicampur dengan air hangat. Mahasiswa doktoral Institut Pertanian Bogor itu tetap melakukannya meski jauh dari tanah kelahiran.

Minyak itu hasil distilasi atau penyulingan daun pohon kayuputih Melaleuca cajuputi subsp. cajuputi. Nama spesies cajuputi berasal dari kata dalam bahasa Indonesia, yakni kayuputih. Heyne mencatat aktivitas penyulingan daun untuk memperoleh minyak kayuputih oleh pendatang Eropa pada 1914. Ia menggolongkan kayuputih dan kayu gelam sebagai spesies sama, M. leucadendra. Pada 1997 botanis dunia merombak nomenklatur itu. Kayuputih dikelaskan sebagai spesies dan subspesies terpisah.

Periset kayuputih BBPBPTH, Dr. Anto Rimbawanto.

Kini budidaya dan penyulingan daun tanaman anggota famili Myrtaceae bukan hanya di Buru dan Ambon, tetapi meluas ke berbagai wilayah seperti Yogyakarta dan Jawa Barat. Kebun Percobaan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH), menanam kayuputih pada 1998 di Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Periset kayuputih BBPPBPTH, Dr. Anto Rimbawanto mengumpulkan beragam jenis kayuputih sejak 1995.

Periset kelahiran 63 tahun lalu di Kota Metro, Lampung itu menjelajah ke sentra pohon genus Melaleuca di Indonesia bagian timur. Ia menyambangi pulau Buru, Seram, Ambon dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, serta wilayah utara Australia. Hasilnya berupa 400 koleksi buah dan daun kayuputih. Ia menyuling daun lalu menandai koleksi yang menghasilkan rendemen tinggi. Dari 400 sampel itu, hanya 20 yang layak dikembangkan. Parameternya, “Rendemen suling daun lebih dari 1% dan mempunyai sineol,” kata Anto.

Penyaring memisahkan air dengan minyak.

Sineol (cineole) adalah zat yang menimbulkan rasa hangat di kulit. Zat serupa juga dimiliki minyak ekaliptus asal Tiongkok, yang menjadi bahan tambahan produk minyak kayuputih komersial. Dari 20 varian yang ia tanam di Paliyan pada 1998 itu, didapat 2—3 varian terbaik. Anto mengamati, memuliakan, dan memperbanyak koleksi di kebun itu. Saat ini luas tanam kebun induk di Paliyan 10 hektare dengan populasi lebih dari 10.000 pohon. “Idealnya jarak tanam 1 m x 2 m, tapi bisa dilebarkan menjadi 2 m x 4 m untuk memberi ruang bagi tanaman tumpangsari,” kata periset di Kelompok Penelitian Bioteknologi dan Genetika Molekuler BBPPBPTH itu.

Selain di Gunungkidul, Anto dan timnya juga menguji multilokasi di Kabupaten Kampar, Riau dengan luas 10 ha, Kabupaten Lampung Utara (Lampung, 5 ha), Bangkalan (Jawa Timur, 5 ha), dan Biak (Papua Barat, 10 ha). Pada 2001—2002, Anto dan tim kembali ke Ambon untuk memperkaya “kolam” genetik kayuputih. Sayang, meski merupakan “ibu kota” genus Melaleuca, masyarakat sekitar kurang menghargai potensi kayuputih.

Pemipilan daun oleh anggota poktan Kofarwis, Kampung Rimbajaya, Biak Numfor, Papua Barat. (Dok. Koleksi BBPBPTH)

“Setelah memanen, lahan kayuputih mereka bakar agar pohon memunculkan tunas baru,” ungkap doktor Forest Genetic alumnus Australian National University, Canberra, Australia, itu. Efeknya pohon tidak sempat menghasilkan buah sehingga variasi genetik sempit. Menurut periset dari Kelompok Penelitian Konservasi Sumberdaya Genetik BBPPPBPTH, Prastyono, tunas kayuputih yang muncul usai terbakar mesti bersaing dengan gulma seperti alang-alang Imperata cylindrica maupun putri malu Mimosa pudica.

Sudah begitu tidak ada upaya peningkatan kesuburan melalui penambahan pupuk maupun pemberian agen hayati. Keruan saja, “Rendemen suling di sana rendah, hanya 0,5—0,6%,” kata Anto. Rendahnya produksi di sana juga lantaran pohon merupakan tumbuhan asli tanpa upaya pemuliaan. “Minyak terbaik berasal dari daun tanggung,” kata Sunarianta. Artinya bukan daun muda, bukan pula daun tua. Itu salah satu pemicu penyuling tradisional di Ambon dan sekitarnya rutin membakar lahan untuk merangsang kemunculan daun baru.

Sunarno membongkar ampas daun usai penyulingan.

BBPBPTH menyerahkan pengelolaan kebun koleksi itu kepada masyarakat sekitar dengan pola KHDTK. Dengan pola itu, warga sekitar boleh memanfaatkan lahan di sela pohon untuk menanam secara tumpangsari. Sejak Desember 2019, mereka memanfaatkan minyak kayuputih hasil sulingan itu untuk kalangan sendiri.

Kelompok tani Inovasi Tani Makmur (poktan ITN) 95 rutin menyuling daun kayuputih hasil panen di kebun percobaan milik BBPPBPTH. Dari sekitar 20 orang anggota, sekitar 10 orang aktif menjalankan penyulingan. Menurut ketua poktan, Rubiyo Adiwiharjo, mereka menyuling kayuputih sejak Oktober 2019 atau lebih dari 20 tahun sejak BBPPBPTH menanam kayuputih.

Pada 2019, BBPPBPTH memperoleh hibah dari Kementerian Riset dan Teknologi-Badan Riset dan Industri Nasional (Kemenristek-BRIN) bekerja sama dengan salah satu industri besar minyak kayuputih untuk pengadaan penyuling skala kecil. Alat itulah yang digunakan poktan ITN 95. Penyuling itu berkapasitas 150 kg daun per proses. Setiap proses selama 4 jam menghabiskan 15—20 potong kayu bakar sepanjang 50 cm berdiameter 8—10 cm. Volume kayu sebanyak itu kira-kira 0,04—0,08 m³.

Ketua poktan ITM 95, Rubiyo Adiwiharjo.

Dengan demikian semeter kubik kayu bisa untuk 12—25 kali menyuling. Kayu bakar itu berasal dari kebun maupun menggunakan sisa pemangkasan cabang ataupun batang pohon kayuputih. Kayu yang ada langsung dinyalakan sementara anggota lain mencari tambahan kayu. Setelah memotong atau membelah kayu semibasah itu, mereka lantas menjajarkannya di dekat perapian sehingga kering dengan sendirinya.

Minyak biasanya menetes 2—3 jam sejak mulai pemanasan dan berhenti keluar selewat 4 jam. Sekretaris poktan, Sunarno, menuangkan minyak dalam penampung melalui penyaring yang otomatis memisahkan air dari minyak. Menurut Sunarto penyaring itu meloloskan bahan yang pertama kali membasahinya. Kalau penyaring basah oleh minyak yang masuk penampung, sebaliknya kalau air yang membasahi penyaring maka minyak tertahan di permukaan penyaring.

Pemisah air dari minyak sederhana.

Saat Trubus mengunjungi petak 95 pada Januari 2020, poktan ITM 95 menyuling 85 kg daun dan ranting. Proses distilasi selesai dalam 2 jam 15 menit menghasilkan 850 ml minyak kayuputih (rendemen 1%). Sementara itu, poktan ITN 95 di Paliyan mengandalkan daun dari koleksi pohon induk yang sekarang berumur lebih dari 20 tahun itu. Bedanya mereka merangsang daun baru dengan memangkas pohon. Api justru menjadi musuh lantaran anggota poktan menanam berbagai tanaman palawija di sela kayuputih.

Menurut Prastyono, saat ini harga minyak kayuputih lumayan, sampai Rp200.000 per liter. Pohon mulai panen umur 18 bulan menghasilkan 3 kg daun per pohon. Dengan populasi 5.000 pohon per ha (jarak tanam 1 m x 2 m) dan rendemen minimal 1%, pekebun mendapat 15 ton daun yang menjadi 150 kg minyak senilai total Rp30 juta per panen. Pohon bisa panen 2 kali setahun sehingga omzet tahunan pekebun Rp60 juta per tahun.

Penyuling kayuputih di Biak Numfor, Papua Barat,
Moses Runggeare (kiri). (Dok. BBPBPTH)

Kelompok tani Kofarwis di Kampung Rimbajaya, Distrik Biak Timur, Kabupaten Biak Numfor, Papua Barat, juga menyuling minyak kayuputih sejak 2018. Mereka memanfaatkan daun kayuputih di Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Biak Numfor. Kofarwis memproduksi minyak kayuputih dan mengemas dalam botol roll-on. Pemasaran produk itu sampai ke Manokwari dan Jayapura.

Anggota poktan yang merasakan hasilnya makin semangat. Salah satunya, Moses Runggeare mulai menanam mandiri pohon kayuputih di lahan. Ia sempat menjadi pembalak liar, tapi setelah mengenal kayuputih tidak lagi menebang kayu di hutan lindung. Sebaliknya ia menanam 3.000 pohon kayuputih. Berkat kayuputih, Moses bisa menguliahkan anaknya. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img