Friday, December 2, 2022

Menjenguk Adrianii ke Gunung Slamet

Rekomendasi

Niat untuk menjenguk habitat alami periuk monyet di Gunung Slamet sebetulnya sudah terpendam sejak pertengahan September 2005. Waktu itu seorang penjaga stan Jawa Tengah di pameran IFS di Jakarta Convention Center bercerita, ada nepenthes istimewa di gunung berapi tertinggi ke-2 di Indonesia itu. Konon, kantong periuk monyet itu berukuran besar dan berwarna merah. Rasa penasaran pun membawa Trubus menjelajahi gunung berapi tertinggi di Jawa Tengah itu.

Pagi itu jarum jam menunjukkan pukul 07.50 WIB ketika Trubus keluar dari hotel menuju lokasi penjelajahan. Setelah 10 menit perjalanan berkendaraan mobil, Trubus tiba di kaki gunung berketinggian 3.432 m dpl itu. Itu bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan.

Pendakian dimulai dengan berjalan kaki menyusuri jalan tanah becek yang kedua tepinya ditumbuhi ilalang. Hampir setiap sore kawasan itu diguyur hujan. Sepatu kets putih yang Trubus pakai berangsur menjadi cokelat kehitaman. Berulang kali rombongan berhenti sejenak karena harus menyingkirkan pacet yang menempel di kaki. Tak jarang darah keluar dari bekas gigitan hewan kecil hitam itu.

Lepas dari ilalang dan semak belukar, tampak hutan damar. Setelah itu jalan menanjak dengan sajian hutan hujan tropis yang rimbun dan asri. Sewaktu akan menyeberangi sungai Trubus dikagetkan oleh teriakan Diran. Di sana ada kantong semar, ujarnya sambil menunjuk ke salah satu pohon yang terletak di seberang sungai. Tampak kantong berwarna merah pekat bergelantung di pohon. Itulah nepenthes pertama yang ditemukan sekitar pukul 09.00 WIB.

N. adrianii

Nepenthes itu memiliki kantong berukuran sedang, tinggi 15 cm, dan peristom lebar. Itulah Nepenthes adrianii, endemik Pulau Jawa. Ketakung-sebutan lain nepenthes-itu tumbuh epifit di pohon-pohon. Sekitar 2 km dari lokasi pertama, rombongan kembali menemukan N. adrianii. Namun, kali ini ukuran kantong 2 kali lebih besar daripada kantong semar sebelumnya dan berwarna merah marun.

N. adrianii tumbuh epifit hanya di pohon tertentu. Biasanya kantong semar menempel di pohon pari, cirep, woro, sarangan, dan panggang ayam. Namun, paling banyak di pohon panggang ayam, ujar Diran. Tumbuhnya pun berkelompok. Maksudnya bila ditemukan satu periuk monyet di pohon tertentu, maka di lokasi itu pasti terdapat minimal 10 nepenthes yang tumbuh di pohon lain. Biasanya nepenthes yang namanya diambil dari nama seorang hobiis di Jawa Timur itu ditemukan di lokasi dekat sungai.

Pukul 12.00 WIB kabut tebal berwarna putih mulai menyelimuti kawasan Gunung Slamet. Jarak pandang hanya 5 m. Namun, itu tak menyurutkan langkah Trubus beserta rombongan untuk terus mendaki. Perjalanan pun semakin sulit. Trubus harus merambah hutan lebat dan menebas tumbuhan-tumbuhan untuk membuka jalan. Jalan licin berkelok sepanjang 20 m dengan lebar hanya 40 cm dilewati dengan hati-hati. Maklum kanan-kiri jalan jurang terjal.

N. gymnamphora

Perjalanan dilanjutkan dengan menyeberangi jurang sedalam 5 m. Karena tak ada jembatan penyeberangan, Trubus harus turun-naik jurang itu. Akhirnya pada pukul 13.15 WIB, Trubus menjumpai pemandangan yang sungguh menakjubkan. Kantong-kantong roset N. gymnamphora berwarna merah terhampar laksana karpet di atas tanah humus. Itu sungguh berbeda dengan N. adrianii yang Trubus jumpai sebelumnya, menempel di atas pohon setinggi lebih dari 10 m. N. gymnamphora banyak dijumpai di dekat sungai. Sungai jadi habitat ideal karena lembap.

Selain menjalar di atas tanah, N. gymnamphora tumbuh merambat di pohon. Namun, warna kantong tak seindah yang tumbuh di atas tanah lantaran didominasi hijau. Tinggi kantong periuk monyet itu antara 10-15 cm. Selama perburuan kali itu, hanya N. adrianii dan N. gymnamphora yang ditemukan. Jenis kantong semar di Gunung Slamet memang tidak terlalu beragam. Pun warna kantongnya. Kebanyakan berwarna merah. Namun, ukuran kantong relatif besar. Tinggi kantong N. adrianii yang Trubus temukan ada yang mencapai 30 cm.

Menurut kabar, para penjelajah hutan biasa meminum air di dalam kantong semar untuk menghilangkan dahaga. Trubus pun tak ingin melewatkan kesempatan meminum air di dalam kantong N. gymnamphora yang masih tertutup. Air di dalam kantong itu masih bersih. Rasanya? Segar sekali, seperti air dari kulkas, dingin dan menyegarkan. Umumnya pada kantong yang masih tertutup berisi cairan sebanyak ? volume kantong.

Menurut Diran, saat ini sangat sulit menjumpai nepenthes di Gunung Slamet. Itu karena penjarahan kantong semar di alam untuk diperjualbelikan. Maklum belum banyak yang membudidayakan ketakung. Berbeda halnya dengan di luar negeri, contohnya di Malaysia. Di sana periuk monyet diperbanyak melalui teknik kultur jaringan. (Rosy Nur Apriyanti)

 

Previous articlee-book untuk Member
Next articleExtensions
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tips Mengatur Pola Pakan Tepat untuk Kuda

Trubus.id — Berbeda dengan sapi, kuda termasuk hewan herbivora yang hanya mempunyai satu lambung (monogastrik) sehingga kuda sangat membutuhkan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img