Wednesday, August 17, 2022

Menteng Tameng Radikal Bebas

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Daun menteng memiliki khasiat antioksidan yang baik untuk menangkal radikal bebas dalam tubuh.

TRUBUS — Fakta ilmiah membuktikan mahang dan menteng berantioksidan tinggi.

Popularitas menteng Baccaurea racemosa memang rendah jika dibandingkan dengan mangga atau jeruk. Tanaman anggota famili Phyllanthaceae itu juga kian langka dan tersingkir. Apalagi menyebut mara atau mahang Macaranga subpeltata. Namanya makin asing. Padahal, keduanya termasuk dalam 381 tanaman obat yang lazim digunakan untuk pengobatan tradisional.

Peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT), Dr. Harto Widodo, M.Biotech mengatakan, aktivitas antioksidan kedua tanaman itulah yang dianggap mendasari pemanfaatan untuk penyembuhan.

Suplemen makanan

Widodo mengekstraksi dan memfraksinasi kedua daun tanaman itu. Kemudian ia menguji fraksi-fraksi kedua tanaman sebagai agen antioksidan. Uji aktivitas penangkap radikal bebas menggunakan metode 2,2-difenil-1- pikrilhidrazil (DPPH). Hasil riset menunjukkan, ekstrak metanol kasar daun mahang serta fraksinya mengandung senyawa fenolat dan flavonoid lebih tinggi dibandingkan dengan daun menteng.

Radikal bebas merupakan atom/molekul berelektron bebas atau tidak berpasangan sehingga bersifat tidak stabil, mudah menggandeng molekul lain di sekitarnya. Karena bersifat sangat reaktif, mereka dapat mendatangkan kerusakan jika bertemu dengan molekul lain. Radikal bebas kerap menyerang protein, lemak, dan juga DNA dari sel yang dapat mengakibatkan kerusakan sel dan memicu berkembangnya berbagai penyakit.

Peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT), Dr. Harto Widodo, M.Biotech.

Hasil pengujian menunjukkan fraksi etil asetat dan fraksi etanol memiliki aktivitas inhibition consentration (IC50) yang rendah. Makin rendah angka menunjukkan penghambatan makin kuat. Artinya perlakuan cukup berdosis rendah untuk mengatasi setengah (50%) radikal bebas.

Konsentrasi penghambatan fraksi etil asetat mahang yakni 1,98 µg/ml dan fraksi etanol 2,42 µg/ml. “Makin rendah nilai IC50, semakin tinggi kapasitas sampel untuk mengais radikal DPPH,” kata doktor Bioteknologi alumnus Universitas Gadjah Mada, itu. Kedua fraksi tersebut mengandung senyawa fenolat lebih tinggi. Itulah sebabnya aktivitas antioksidan daun mahang lebih tinggi ketimbang daun menteng. Sementara itu konsentrasi penghambatan fraksi etil asetat daun menteng 3,24 µg/ml dan fraksi etanol 2,42 µg/ml.

Widodo menyimpulkan bahwa kedua ekstrak tumbuhan itu memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi. Oleh karena itu, kedua tanaman berpotensi untuk dikembangkan sebagai suplemen makanan. Ia berharap kedua tanaman itu tetap eksis.

Buah menteng

Menurut Dian Ayu Juwita dan rekan dari Fakultas Farmasi Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, menteng memiliki kulit buah yang cukup tebal dan keras. Cita rasa daging buah menteng masam dan sedikit manis. Kulit buah menteng yang cenderung lebih tebal daripada daging buah menginspirasi Juwita untuk pemanfaatan dan riset.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat kandungan flavonoid, fenol, dan terpenoid pada ekstrak etanol kulit buah dan daging buah menteng. Konsentrasi penghambatan ekstrak etanol kulit buah yakni 1.396,88 µg/ml. Sementara konsentrasi penghambatan ekstrak etanol daging buah yaitu 6.943 µg/ml. Uji antioksidan dengan metode DPPH mengungkapkan ekstrak etanol kulit buah menteng beraktivitas antioksidan lebih baik daripada daging buah.

Meski begitu aktivitas antioksidan keduanya masih lebih rendah dibandingkan dengan kontrol positif menggunakan vitamin C. Kondisi itu diduga karena pengujian masih menggunakan ekstrak etanol. Belum menggunakan senyawa murni sehingga kemungkinan didominasi senyawa lain yang tidak ditujukan untuk antioksidan.

Ahli buah di Kota Bogor, Jawa Barat, Dr. Ir. Mohamad Reza Tirtawinata, M.S. mengatakan, menteng kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia. “Buah menteng sudah jauh berkurang di Bogor dalam 20 tahun terakhir, karena pohon-pohon di ladang atau kampung ditebang untuk mendirikan pemukiman. Jika masih ada, paling hanya 1—2 pohon terselip di antara pekarangan rumah,” kata Reza.

Doktor Pertanian alumnus Institut Pertanian Bogor itu mengatakan, cita rasa menteng “tanggung” atau tingkat kemanisan rendah, malah cenderung masam. Oleh karena itu, masyarakat kurang meminati buah itu. Mereka menganggap menteng kurang ekonomis. Pasalnya konsumen buah cenderung menyukai cita rasa manis yang kuat seperti lengkeng. Namun, riset ilmiah membuktikan di balik rasa yang “tanggung” tersimpan khasiat besar menteng. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img