Wednesday, August 10, 2022

Menutup Kaprat Dalam Susu

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

2.	Yoghurt bubuk susu kambing dibuat untuk memperpanjang masa simpan yoghurt dan mengurangi bau perengusCara baru mengonsumsi susu kambing dalam bentuk serbuk yoghurt dan tablet isap yang sedap.

Hibatus menyobek bagian atas kemasan aluminium foil, lalu menuangkan 20 gram bubuk yoghurt itu ke dalam gelas berisi 200 ml air hangat. Ia lalu mengaduk perlahan tepung yoghurt yang mengambang menggunakan sendok agar larut. Setelah itu, glek… glek… glek…, segelas yoghurt hangat itu pun tandas dalam sekejap. “Praktis dan segar tanpa bau perengus,” ujarnya.

Perengus? Serbuk yoghurt itu memang berasal dari susu kambing, bukan susu sapi seperti lazimnya. Meski demikian Hibatus tak mencium sedikit pun aroma perengus khas kambing. “Sebelumnya saya tidak rutin minum susu kambing karena aromanya tak enak. Bila diolah menjadi yoghurt, bau perengus tak lagi tercium,” ujar mahasiswa Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu.

Gara-gara kaprat

Menurut periset di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Rarah Ratih Adjie Maheswari DEA, selama ini banyak orang enggan mengonsumsi susu kambing karena baunya yang menyengat. “Asam lemak dalam susu mudah menyerap bau dan di lingkungan. Selain itu, susu kambing juga mengandung asam kaprat dan kaproat yang beraroma kurang enak,” jelas Rarah. Salah satu cara mencegah aroma tak sedap pada susu kambing adalah peternak mesti menjaga kebersihan kandang.

Peternak sebaiknya juga menjauhkan kambing betina yang sedang laktasi dengan kambing jantan. Tujuannya agar lemak susu tak menyerap bau kambing jantan. Cara lain, mengolah susu menjadi yoghurt seperti inovasi Rarah. “Proses fermentasi dalam pembuatan yoghurt menghasilkan asam-asam yang dapat mengurangi bau perengus,” tutur Rarah.

1.	Dr Ir Rarah Ratih Maheswari DEA mengolah susu kambing menjadi yoghurt bubuk dan tablet isapCara membuat yoghurt susu kambing diawali dengan pasteurisasi atau pemanasan untuk mencegah kerusakan susu akibat cemaran bakteri merugikan. Harap mafhum, susu segar kaya protein, lemak, karbohidrat, mineral, dan vitamin. Pantas beragam mikrooganisme menjadikan susu sebagai media berkembang biak. Bila sampai tercemar bakteri merugikan, dalam waktu singkat susu menjadi tak layak dikonsumsi dan membahayakan kesehatan.

Menurut Eniza Saleh dari Program Studi Produksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, penyebab kerusakan susu adalah fermentasi laktosa oleh bakteri Escherichia coli. Untuk mengatasinya dilakukan pasteurisasi baik pemanasan dengan waterbath atau kompor. Waterbath alat laboratorium yang bekerja seperti penangas air (langseng). Kita bisa mengatur alat itu agar dapat memanaskan dengan suhu stabil di kisaran 40-450C.

Bila pemanasan menggunakan kompor, walau pun berapi kecil, suhu tidak bisa diatur. Panaskan susu selama 30 menit dengan suhu 63-650C. Setelah itu, masukkan susu kambing ke dalam wadah. Setelah suhu turun hingga 450C tambahkan starter bakteri Lactobacillus bulgaricus, Streptococcusthermophilus, Lactobacillus acidophilus, dan Bifidobacterium longum. Keempat mikroorganisme itu tergolong bakteri asam laktat yang menguntungkan sehingga aman bagi tubuh.

Mudah terserap

Menurut Rarah, untuk menghasilkan yoghurt berkualitas, populasi masing-masing bakteri minimal 107. Oleh karena itu Rarah menginokulasikan bakteri sebanyak 1011. Kelebihan jumlah bakteri itu menjadi “cadangan” agar jumlah populasi bakteri setelah proses minimal 109. “Dengan begitu kualitas yoghurt terjamin,” ujarnya. Simpan susu yang telah diinokulasi bakteri dalam inkubator bersuhu 42OC selama 5 jam. “Fermentasi bisa dilakukan di suhu ruangan dengan waktu yang lebih panjang, sekitar 20 jam,” ujar Rarah.

3.	Peternak dapat mengurangi bau tak sedap susu kambing dengan menjaga kebersihan kandangPeneliti mikrobiologi susu di Balai Besar Pascapanen Pertanian, Sri Usmiati SPt MSi, menuturkan suhu yang stabil dan fermentasi tertutup rapat atau dalam kondisi anaerob menjadi kunci sukses pembuatan yoghurt. Setelah itu, Rarah menambahkan inulin alias sumber nutrisi untuk keempat bakteri agar tetap bertahan hidup dalam pencernaan. Inulin tersedia di toko bahan-bahan kimia. Bakteri-bakteri aktif membantu menyehatkan saluran pencernaan setelah dikonsumsi.

Setelah fermentasi selesai, sejatinya yoghurt susu kambing dapat langsung dikonsumsi. Namun, untuk memperpanjang masa simpan dan mengurangi bau perengus, alumnus bidang Mikrobiologi Pangan dari Université de Caen, Perancis, itu mengeringkan yoghurt menggunakan spray dryer sehingga berubah bentuk menjadi serbuk. Yoghurt bubuk tahan simpan hingga lebih dari 3 bulan. Rarah lalu mengemas serbuk yoghurt dalam kemasan aluminium foil.

Cara konsumsinya mudah, persis Hibatus yang mencampurkan 20 gram bubuk yoghurt dalam 200 ml air hangat, lalu mengaduk hingga rata. Menurut Sri Usmiati tubuh lebih cepat menyerap nutrisi susu dalam bentuk yoghurt karena nutrisi telah terurai oleh enzim selama fermentasi.

Tablet isap

Yoghurt bukan satu-satunya inovasi terbaru berbahan susu kambing. Rarah juga mengolah susu kambing menjadi tablet isap. Ia memanaskan susu kambing pada suhu 400C dan memisahkan lemak dengan alat separator cream. Separasi menurunkan kadar lemak susu kambing menjadi kurang dari 1%; semula 4%. Rarah perlu menurunkan kadar lemak susu agar serbuk susu tak menggumpal ketika dicetak.

Setelah itu ia mengeringkan susu kambing rendah lemak dengan spray drying sehingga menjadi serbuk. Ia lalu mencetak dengan mesin pencetak tablet. Hasilnya berupa tablet berbobot 200 mg yang siap konsumsi. Menurut Rarah, diversifikasi produk susu kambing bakal meningkatkan daya terima masyarakat terhadap susu kambing. Susu hewan anggota famili Bovidae itu memiliki beberapa keunggulan yakni mengandung protein tinggi yakni 4,3%, lebih tinggi daripada susu sapi yang hanya 3,3%.

“Susu kambing lebih mudah diserap karena molekul-molekulnya lebih kecil,” tambah Rarah. Selain itu enzim susu kambing juga beragam seperti alkalin, lipase, dan xantin oksidase. Penderita alergi susu, tetap aman mengonsumsi susu kambing karena kandungan kasein rendah. Jadi, tak ada alasan untuk tidak mengonsumsi susu kambing. Sebab, kini susu kambing tanpa bau perengus tersaji dalam yoghurt bubuk dan tablet isap yang praktis. (Susirani Kusumaputri)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img