Tuesday, November 29, 2022

Menutup Pintu Bagi Gulma

Rekomendasi

Pekebun lain membuang gulma, tetapi Tadashi Tomatsu malah menebar benih “gulma”. Hasil panen terung dan okra di lahan 7 hektar meningkat 20%.

 

Itulah teknik unik melawan gulma di kebun sayur organik di Nasu Karasuyama, Prefektur Tochigi, Jepang. Tadashi Tomatsu, pemilik kebun berusia 60 tahun, menemukan cara itu setelah bereksperimen bertahun-tahun. “Ide dasarnya sederhana. Ayah tak ingin repot berkali-kali menyiangi gulma,” kata Rheina Tomatsu, putri sekaligus tangan kanan Tadashi Tomatsu. Prinsip melawan gulma dengan gulma temuan Tomatsu mirip cara bertani alami yang dipopulerkan Masanobu Fukuoka di Jepang. Fukuoka menyebut pertanian tanpa penyiangan gulma.

Bedanya Fukuoka menebar jerami sebagai mulsa organik, sedangkan Tomatsu menebar benih rumput untuk mulsa hidup. Ia menebar benih rumput setiap musim tanam sayur. Tadashi memegang tiga patokan, yakni musim, jenis rumput, dan sentuhan teknis pascatumbuh gulma. Tujuannya agar rumput tak menganggu tanaman utama. “Tanpa 3 kunci itu jangan sembarang tanam gulma. Nanti malah merepotkan,” katanya.

Gilas balok

Tomatsu yang sudah bertani sejak 1977 bukan sembarang menebar rumput. Ia menebar biji-biji gandum Triticum vulgaris. Gandum? Gandum tanaman musim dingin sehingga pertumbuhannya terhambat pada musim panas. Meski dapat berkecambah dan tumbuh pada musim panas, pertumbuhannya sangat lambat. Tadashi  hanya menebar benih gandum kelas apkir, bulirnya kurang penuh. Pantas daya kecambah rendah-maksimal 50%-sehingga tidak cocok untuk budidaya secara komersial. Sebagai gulma pelawan gulma itu bukan masalah.

Menurut Rheina tidak ada patokan baku jumlah kebutuhan benih gandum. “Makin banyak makin baik,” kata Rheina. Di kebun Rheina 100 kg gandum apkir, cukup untuk lahan seluas 0,4-1 ha tergantung jumlah benih yang tersedia. Tentu itu sangat murah, karena di Jepang biji serealia kelas apkir tidak dikonsumsi manusia. Hanya untuk pakan ternak yang harganya murah. Harga satu kilogram 50 yen atau setara Rp5.000.

Artinya untuk mengatasi gulma di lahan 1 ha, cukup dengan benih gandum senilai Rp500.000. Biji tanaman anggota famili Poaceae itu berkecambah dan tumbuh layaknya rumput pengganggu. Hamparan yang mogok berkecambah tetap bermanfaat sebagai mulsa organis. Selama belum melapuk, biji gandum itu menghalangi jenis gulma lain. Tadashi lantas mengambil balok sepanjang rentangan tangan berukuran 15 cm x 20 cm. Pada kedua ujung balok terdapat tali sehingga Tadashi dapat menarik untuk menggilas rumpun-rumpun gandum setinggi sejengkal agar rebah.

Akibatnya rumpun gulma pun rubuh karena patah. “Beda dengan rumput lain yang lentur. Batang gandum rapuh sehingga gampang patah,” kata Tadashi. Ia bertumpuk rapat saling menutupi mengikuti arah tarikan balok. Tanah di bawahnya pun tertutup seperti berlapis mulsa. Seiring waktu bagian atas gandum-daun dan batang-perlahan-lahan kering, mati, lalu membusuk. Pun akar yang terbenam di dalam tanah. Lapukan gandum itu menambah bahan organik tanah yang memperkaya nutrisi untuk musim berikutnya.

Musim dingin

Jurus melawan gulma dengan gulma itu jauh lebih hemat ketimbang memotong rumput secara rutin atau menyemprot herbisida yang mahal. Yang disebut terakhir bahkan merusak kesuburan tanah bila dipakai terus-menerus. Lain musim panas lain pula musim dingin. Pada musim dingin, gandum ditanam bukan sebagai gulma pelawan gulma. Ia justru menjadi komoditas andalan karena tumbuh baik pada musim dingin.

Pada musim itu Tadashi membudidayakan sayuran lain seperti bawang bombai, bawang daun, kentang, ubi jalar, lobak lokal, mizuna, komatsuna, dan mustard. Saat itu Tadashi Tomatsu tidak menanam gulma untuk melindungai beragam sayurannya. Maklum, alam sudah menyediakan salju sebagai mulsa alami yang gratis.

Ia justru memberi selimut dengan menabur sekam di lahan sayur. “Ini penghangat agar akar tanaman tidak beku selama salju menutupi tanah,” kata Tadashi. Akar yang beku memicu kematian tanaman. Dengan cara itu produktivitas sayuran di lahan Tadashi meningkat hingga 20%. (Syamsul Asinar Radjam; praktikus pertanian di Sukabumi dan alumnus Asian Rural Institute di Jepang)

Keterangan Foto :

  1. Tanah yang sudah diolah siap ditaburi dengan benih gandum di dekat tanaman sayuran
  2. Tadashi Tomatsu memanfaatkan gandum sebagai pelawan gulma berkat eksperimen sejak 1977
  3. Balok penggilas ditarik untuk merobohkan gandum yang tingginya sudah sejengkal
  4. Okra, salah satu komoditas utama di kebun Tadashi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mencetak Petani Milenial, untuk Mengimbangi Perkembangan Pertanian Modern

Trubus.id — Perkembangan pertanian modern di Indonesia harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dalam hal ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img