Wednesday, August 10, 2022

Menyesap Madu di Oceng

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Oceng menawarkan budidaya klanceng sebagai eduwisata. (Dok. Trubus)

Trubus — Peternak trigona atau klanceng bukan hanya memanen madu dan polen, sekaligus mengundang wisatawan. Sebanyak 190 kotak kayu menghiasi rumah Imam Prayodi di Desa Jelok, Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Ratusan kotak itu berisi klanceng Tetragonula laeviceps. Setiap enam bulan Imam memanen 100—130 ml madu dan 25 gram polen dari setiap kotak. Imam memberi nama Oceng—akronim dari omah klanceng yang berarti rumah klanceng.

Sebetulnya Imam tidak hanya memperoleh uang dari penjualan madu dan polen. Ia juga melayani kunjungan dari berbagai kalangan yang ingin belajar sekaligus berpelesir. Lokasi hampir sejam dari pusat Kabupaten Purworejo tidak menyurutkan minat pengunjung. Memang tidak setiap hari ada yang datang seperti taman hiburan, tapi “Sebulan sekali pasti ada rombongan yang datang belajar,” kata Imam.

Khasiat madu trigona makin dikenal masyarakat Purworejo, Jawa Tengah. (Dok. Trubus)

Menjadi tertawaan

Sejak dibuka pada pertengahan 2018, sekitar 20 kelompok yang belajar. Imam membuat berbagai paket kunjungan berdasarkan tingkat kedalaman materi yang diajarkan kepada peserta. Paket bronze alias perunggu, misalnya, cocok untuk anak-anak atau orang yang sama sekali belum mengenal trigona. Sementara itu mereka yang ingin serius membudidayakan klanceng bisa mengikuti paket gold alias emas dengan materi lengkap meliputi praktik memperbanyak atau memisah koloni, membuat kotak kandang, serta praktik panen.

Semula Imam tidak terpikir membuat wisata edukatif—alias eduwisata—itu. Ia membudidaya trigona semata lantaran, “Menghasilkan madu, polen, dan propolis. Yang paling penting tidak menyengat,” kata ayah 2 anak itu.

Kapsul polen meningkatkan omzet pembudidaya
klanceng. (Dok. Trubus)

Ia membudidayakan trigona sejak awal 2018 setelah belajar ke pembudidaya lebah nirsengat di Gubug Lanceng Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Mohamad Haris. Semula hampir semua orang di desanya mentertawakan ketika Imam mempraktikkan sistem kotak tumpuk. “Orang tidak percaya makhluk sekecil itu bisa menghasilkan madu. Mereka menganggap saya orang kurang kerjaan,” kata Imam mengenang.

Pria 34 tahun itu bergeming. Berjalan setengah tahun, satu per satu kotaknya mulai panen madu. Skeptisisme para tetangga pun berbalik menjadi antusiasme. Mereka bergantian mengunjungi kediaman anak sulung dari 3 bersaudara itu untuk belajar budidaya klanceng. Perlahan, jumlah pembudidaya trigona bertambah. Demikian juga orang yang merasakan manfaat madu atau polennya.

Kabar khasiat madu trigona itu membuat penasaran seorang pengunjung yang datang khusus untuk meyesap madu langsung dari sarang dalam kotak. Setelah mencicipi madu, sang pengunjung memaksa untuk membayar. Imam bingung lantaran saat itu ia belum memasang tarif. Setelah itulah jebolan Program Studi Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Purworejo itu membuat paket eduwisata.

Perbaiki lingkungan

Penggagas budidaya klanceng di Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Imam Prayodi. (Dok. Trubus)

Saat Trubus mengunjungi Oceng pada Februari 2020, Imam mengisahkan bahwa kini terbentuk Komunitas Klanceng Purworejo. Total koloni mereka lebih dari 10.000 kandang. Imam menjual paling banyak 10 liter setiap bulan.

Menurut Imam jika menuruti permintaan, jumlahnya puluhan kali lipat. Ia menyatakan, satu pembeli saja ada yang minta 10 liter. Padahal, setiap bulan ada puluhan orang meminta kiriman. Misi utama Imam menggerakkan budidaya klanceng di Purworejo adalah restorasi lingkungan, terutama di Kaligesing.

Imam sadar bahwa masyarakat perlu diajak menanam. Bukan sembarang tanaman, tapi harus tanaman yang mampu mengikat tanah dan menyerap air hujan ke akuifer tanah. Tanaman itu juga menghasilkan produk komersial yang bisa menjadi sumber penghasilan untuk merangsang keterlibatan masyarakat.
Setelah membandingkan berbagai jenis tanaman, Imam memilih kopi. Kopi efektif mempertahankan butiran tanah sehingga mencegah longsor. Pertajukan pohon kopi juga efektif menahan air hujan dan mengurangi air limpasan (runoff).

Pada 2018, Imam bersama komunitas penjaga lingkungan berhasil mengajak masyarakat menanam 6.000 batang kopi. Setahun kemudian hasilnya langsung tampak, tidak ada lagi longsor maupun tanah bergerak. Saat kemarau 2019 masyarakat tidak lagi kesulitan air, bahkan mendapatkan tambahan pemasukan dari kopi dan klanceng. (Argohartono Arie Raharjo)

Previous articleSemi Organik
Next articleDuet Herba Musuh Kanker
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img