Monday, November 28, 2022

Menyusuri Kiblat Herbal Dunia

Rekomendasi

Sekarang tak harus mendaki Kang Rimpoche (berarti Gunung Salju Berharga)-sebutan Kailas dalam bahasa Tibet-bila hendak memperoleh cordyseps. Jiangmen Xinkang Cordisep Co Ltd, menuainya di botol-botol sejengkal tangan dalam freezer. Perusahaan itu memang mengkulturjaringankan dong chong xia cao (dong = dingin, chong = ulat, xia cao = rumput). Di habitat aslinya, cordyseps hanya bisa ditemukan pada musim dingin. Pantas bila harganya melangit, Y96 setara Rp115.200 per 10 g atau Rp11-juta per kg. Wow!

Ke sanalah tim eksplorasi Trubus bertandang. Lokasinya di distrik Xinhui, Jiangmen, Provinsi Guangdong, Cina, sekitar 3 jam bermobil dari kota Guangzhou. Semangkuk sup cordyseps pun dicicipi. Rasanya amat lezat, kenyal seperti menikmati daging. Kepada Trubus Li Xiao Ping mengatakan, tanaman endemik Tibet itu menambah vitalitas dan imunitas, serta mengatasi anemia, disfungsi ereksi, ginjal, kanker, penuaan dini, hipertensi, insomnia, dan tuberkulosis. Pria kelahiran 26 November 1949 itu bertahun-tahun meriset yertsa gomba-sebutan cordyseps di Tibet.

Selain ke Jiangmen Xinkang Cordisep Co Ltd, tim eksplorasi juga mengunjungi pusat penjualan obat tradisional terbesar di Guangzhou. Sebuah gedung jangkung tegap menggapai langit nan pucat pasi. Musim semi tengah menghampiri ibukota Provinsi Guangdong, Cina. Ratusan toko di gedung 30 lantai itu menjajakan setidaknya 5.000 obat tradisional dari ginseng, kaki rusa, hingga katak. Itulah kawasan Qing Bing (baca: Cing Ping), salah satu dari 11 sentra penjualan obat tradisional di Cina.

Toko-toko yang menjajakan herba itu semula berderet di lahan sekitar 10 ha. Namun, sejak 2004 mereka berniaga di gedung yang mewah dan resik. Ke sanalah para produsen obat tradisional memburu bahan baku. Di toko Yi De, misalnya, terdapat nan xing alias bintang laut kering. Bahan obat dari dasar samudera itu berfaedah sebagai penghancur tumor. Quan xie atau kalajengking juga dijajakan. Masyarakat Cina menggunakan satwa itu untuk mengatasi serangan kanker, stroke, dan nyeri kepala.

Di bawah cengkeraman suhu dingin-14oC-kami meneruskan perjalanan ke Zhong Shan Lu. Meski kadang-kadang jalanan macet, pengendara mobil di negeri terpadat penduduknya itu relatif tertib. Tak terdengar bunyi klakson meraung-raung. Bus menurunkan dan menaikkan penumpang di halte yang ditentukan. Di beberapa jalan terdapat lajur khusus keretaangin alias sepeda ontel.

Tengah hari itu kami menikmati santap siang di sebuah restoran. Yang membuat saya terperangah, beragam hewan aneh juga dimasak. Sebut saja ulat zhan zhong, kumbang air thin zhong, sejenis lintah sha zhong, dan sejenis cacing hai zhong. Dalam bahasa setempat zhong berarti hewan. Menurut sinse Prof Muhammad Yusuf yang puluhan tahun berpraktek di Cina, penganan-penganan itu tak sekadar lezat dan mengenyangkan. Yang lebih penting adalah berkhasiat obat.

Ulat kekuningan seujung kelingking itu, misalnya, tokcer mengatasi tumor dan kanker serta memperbaiki fungsi ginjal. Kumbang air? Satwa berpunggung hitam itu mencegah masuk angin, mengatasi mual, dan sebagai antibiotik. Petuah Hipocrates, jadikan makananmu sebagai obat, tampaknya diterapkan oleh masyarakat Cina. Pengobatan tradisional tak hanya memanfaatkan daun, batang, atau akar tanaman, tapi juga binatang.

Meski disebut tradisional, pengolahan obat-obatan itu dikerjakan dengan alat dan mesin modern seperti di pabrik PT Mingxing Pharmaceutical. Vice President Mingxing, Zhang Die Zhong, membelanjakan Y100-miliar (satu Yuan setara Rp1.170) untuk mesin-mesin canggih. Investasi itu sepadan dengan omzetnya. Dari 202 merek obat herbal yang diproduksi, Mingxing menangguk Y350-juta per bulan. Sekadar menyebut produk yang terkenal adalah Qingkailing dan Yadanziyou.

Yang disebut terakhir berbahan baku buah makassar Brucea javanica. Masyarakat Sunda menyebutnya walot. Ekstraksi buah itu berfaedah sebagai pengganti cairan infus. Banyak rumahsakit seperti Guangzhou Yuzheng Hospital dan Guangzhou Municipal Special Hospital menggunakannya. Di ruang perawatan, pasien-pasien-sebagian dari Indonesia, sekitar 30%-diinfus dengan ekstrak buah makassar.

Cina memang menjadi kiblat pengobatan herbal dunia. Menurut dr William Adi Teja, dokter alumnus Beijing University of Traditional Chinese Medicine, salah satu sebabnya adalah pemimpin negeri itu mendukung penggunaan herbal untuk pengobatan. Pemimpin seperti dr Sun Yat Sen dan Mao Tse Tung, misalnya, ketika jatuh sakit, herbal menjadi penawar.

Sejak 5.000 tahun silam, nenek moyang bangsa Cina meramu obat untuk mengatasi beragam penyakit. Inspirasi ramuan herbal di negeri Tirai Bambu itu antara lain datang dari 2 kitab kuno Huang Di Nei Jing (artinya Kitab Kaisar Kuning) dan Wai Tai Mi Yao (Resep Rahasia). Kitab berumur ratusan tahun itu hingga kini tetap dipelajari di bangku perguruan tinggi. Dari kitab-kita tua itulah Cina membangun industri herbal. (Sardi Duryatmo)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img