Saturday, August 13, 2022

Merah Lagi Besar

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Kala bawang merah berpadu dengan bawang bombay, lahirlah bali karet.

 

Inilah bintang yang mencuri perhatian khalayak pada acara Jambore Varietas Bawang Merah 16-18 Juli 2012 di Desa Randusari, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah: bawang merah bali karet. Bawang merah itu berukuran luar biasa besar menyerupai bawang bombay. Umbinya hanya terdiri atas satu siung.

Bobot umbi mencapai 15-20 g per buah; bawang merah biasa 6-10 g. Bentuk umbi bulat agak lonjong berwarna merah tua; umbi bawang bombay membulat berwarna kuning kecokelatan. Tekstur bali karet agak lunak dengan kadar air cukup tinggi, sekitar 60%. Kadar air bawang bombay berkisar 70%. Umbi tanaman anggota keluarga Liliacae itu  tahan simpan hingga 3 bulan.

Unggul lokal

Peneliti utama di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, Ir Baswarsiati MS, menuturkan bawang merah bali karet dikembangkan para pekebun di dataran tinggi di Jawa Timur, seperti Batu dan Malang. “Itu varietas unggul lokal,” kata Baswarsiati tentang bawang merah yang pada 2013 akan didaftarkan sebagai varietas unggul nasional itu. Penduduk di Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah, kerap menikmati umbinya sebagai acar karena rasanya tidak terlalu pedas.

Menurut Muhamad Yusuf, salah seorang pekebun di sentra penanaman bali karet di Desa Tawangsari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, luas areal penanaman bali karet di sana mencapai 20 ha. Yusuf menanam bali karet sejak 2006. Ia tertarik menanam karena bali karet cocok dengan iklim di Pujon. Harap mafhum, ketinggian Pujon 1.100 m di atas permukaan laut (m dpl). “Untuk dataran tinggi, bali karet cocok ditanam pada ketinggian 800-1.300 m dpl,” ucap Baswarsiati.

Tanaman bali karet relatif toleran serangan ulat grayak Spodoptera litura. Tanaman juga toleran ditanam pada musim penghujan. Tanaman tidak rusak meski pada 60% masa tanam yang 105 hari terpapar hujan. Pemuliaan bawang merah dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Joko Pinilih menuturkan, bawang bali karet relatif tahan penyakit bercak ungu dan agak tahan antraknosa. “Tetapi jumlah anakannya lebih sedikit dibanding bawang merah biasa,” tutur alumnus Sekolah Tinggi Pertanian Yogyakarta itu. Menurut peneliti bawang sejak 2000 silam itu, jumlah anakan bawang biasa sebanyak 6-10 anakan, sementara bali karet hanya 3-6 anakan.

Yusuf menanam bali karet di lahan seluas 2.500 m2. Ia bersama 5 rekan mengolah tanah dengan cangkul selama 2 hari. Setelah itu Yusuf menaburkan 1,5 ton pupuk kandang lalu membuat bedengan berukuran 12,5 m x 1 m setinggi 15 cm. Sebelum ditanam di lahan, bagian atas benih dipotong sedikit dan dibiarkan selama 3 hari. “Itu bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan,” kata Yusuf. Tanaman semusim itu ditanam dengan jarak 20 cm x 20 cm. Seminggu setelah tanam, Yusuf menyemprotkan herbisida. Dua minggu pascatanam, ia mencampur 75 kg ZA, 75 kg TS, dan 50 kg Urea lalu menaburkan ke lahan.

Selang 80-100 hari setelah tanam (hst) Yusuf menuai 4,9 ton umbi. Potensi hasil bali karet berkisar 14-18 ton per ha. Dari hasil panen itu, Yusuf menyimpan 2,9  ton umbi untuk benih. Sisanya sebanyak 2 ton umbi dijual segar. Harga jual per kg Rp5.000-Rp6.000. Total jenderal Yusuf mendapat omzet Rp10-juta-Rp12-juta. Pekebun bawang itu menghabiskan biaya produksi Rp5-juta-Rp6-juta per musim tanam. Penanaman berikutnya di lahan berbeda supaya produktivitas ajek.

Dataran rendah

Bawang merah bali karet juga terbukti adaptif ditanam di dataran rendah. Akat Rebomartorejo menanam bali karet pada ketinggian tempat kurang dari 250 m dpl di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. Pada penanaman pada 2008 itu Akat menanam 20 kg benih bali karet yang diperoleh dari BPTP Jawa Timur di lahan 120 m2. Setelah 60-65 hst, Akat memperoleh 2,3 kuintal umbi.

Keberhasilan Akat menanam bali karet di dataran rendah sejalan dengan riset Kusmana, R S Basuki, dan H Kurniawan dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Mereka menguji 5 varietas bawang merah dataran tinggi dan medium seperti menteng kupa, maja, batu ciwidey, bali karet maja, dan bali karet batu. Sebagai pembanding digunakan bima curut, tanduyung, dan ilokos. Mereka meneliti pada Juli-September 2005 di tanah vulkanik di Kecamatan Kersana, Brebes, Jawa Tengah. Setiap petak percobaan berisi 500 tanaman berjarak tanam 20 cm x 15 cm.

Pada 3-7 hari pratanam, mereka menaburkan kompos 10 ton per ha di atas bedengan sebagai pupuk dasar, lalu meratakan tanah sambil mengaduk. Selanjutnya ditaburkan 100 kg N, 92 kg P2O5, dan 120 kg K2O per ha. Pemupukan kedua dilakukan pada 15 hst dengan menaburkan setengah dosis Urea, ZA, dan KCL. Pada 40 hst, mereka mengukur tinggi tanaman, jumlah anakan, diameter pangkal batang, dan jumlah daun. Saat panen Kusmana dan rekan mengukur total bobot umbi per plot, bobot umbi per tanaman, diameter umbi, persentase umbi besar, dan tonase umbi per ha.

Hasilnya menunjukkan semua varietas bawang merah adaptif terhadap ekosistem dataran rendah Kabupaten Brebes. Itu ditandai dengan pertumbuhan dan hasil yang cukup baik. Untuk bali karet batu tinggi tanaman mencapai 48,7 cm. Jumlah anakan 6 buah dan diameter umbi 3,3 cm. Bobot basah umbinya 22,4 ton per ha. Angka itu tidak jauh berbeda dengan hasil di dataran tinggi dengan ketinggian 800-1.300 m dpl. Di ketinggian itu jumlah anakan bali karet 4-6 buah dan diameter umbi lebih dari 2 cm. Produktivitas 14-18 ton/ha.

Akat tidak melanjutkan penanaman karena berdasar pengalaman kebutuhan benih per ha lebih banyak daripada bawang merah biasa. “Perlu 2,3-3 ton benih untuk sehektar lahan, padahal bawang merah biasa hanya 1,2 ton,” kata Akat. Selain itu, menurut Yusuf pasar bali karet relatif lebih sedikit dibanding bawang merah jenis lain. Itulah mengapa ia hanya menanam bali karet pada lahan 2.500 m2.

Bagaimana asal-usul kelahiran bali karet? Baswarsiati dan Joko Pinilih belum bisa memastikan.  Baswarsiati menduga bali karet hasil persilangan bawang merah dan bawang bombay. Bawang bombay mewariskan ukuran besar, sedangkan warna merah titisan bawang merah. Menurut Joko, penyilangan keduanya sangat memungkinkan karena satu spesies.

Lalu mengapa namanya bali karet? Baswarsiati tidak tahu pasti jawabannya. Kemungkinan kata ‘bali’ merujuk pada jeruk bali-sebenarnya pamelo-yang berukuran besar. Lalu kata ‘karet’ karena jika ditekan, tekstur umbi bali karet agak kenyal. (Riefza Vebriansyah)


Keterangan foto :

  1. Bawang bali karet adaptif di dataran rendah dan tinggi
  2. Potensi hasil bali karet mencapai 14-18 ton/ha
  3. Pergiliran tanam antara bawang dan komoditas lain perlu dilakukan untuk mempertahankan kualitas umbi dan produktivitas tanaman
Previous articlePesaing Tuan Serdadu
Next articleAyam dari Dalam Tanah
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img