Friday, August 19, 2022

Merebut Hati Pengguna Suplemen

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Muthia hanya satu dari sekian banyak orang yang berharap bugar dengan rutin mengkonsumsi suplemen. Mereka adalah orang-orang yang sibuk sehingga tak biasa menyantap makanan seimbang, tak sempat berolahraga, dan kurang tidur. Kesibukan hidup di kota besar menjadi penyebab warga tidak sempat menjaga kesehatan sehingga tertarik mengkonsumsi suplemen kesehatan, ujar Dra Emilia Siswadi, psikolog di Pusat Pendidikan Keluarga dan Komunitas Jakarta.

Selain karena alasan kesibukan, konsumsi suplemen biasanya juga akibat pengaruh teman atau terbujuk promosi. Sekarang, pemasar suplemen semakin pintar, kata alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu. Cara penawarannya langsung dari orang ke orang. Brosur-brosur dan pesan-pesan yang disampaikan cenderung membuat orang merasa kekurangan sesuatu di tubuhnya. Terutama pekerja yang harus berangkat sejak pagi buta dan pulang larut malam.

Alasan lain? Pola makan yang tidak seimbang, kata dr Finny Pudjiati Djaja. Karena kesibukan menyebabkan kurangnya konsumsi makanan seimbang atau terbiasa menyantap makanan olahan berpengawet atau zat tambahan. Sudah begitu, mereka kurang berolahraga dan tidak cukup tidur sehingga berujung pada stres. Dalam keadaan stres, tubuh menguras cadangan gula darah, kata dr Danny Kasim, konsultan kesehatan di Jakarta.

Cadangan glukosa diambil dari persediaan protein dan karbohidrat sehingga jumlahnya menipis. Saat itulah dibutuhkan konsumsi suplemen protein dan karbohidrat tambahan agar energi yang terbuang saat stres seimbang kembali. Stres juga memacu ginjal mengeluarkan beberapa mineral penting seperti magnesium, seng, dan kalsium dalam jumlah tinggi. Jika stres berkepanjangan, selera makan hilang lantas kebutuhan zat gizi tak terpenuhi. Jika sudah begitu, suplemen makanan tinggi mineral diperlukan agar gizi tubuh tercukupi.

Polutan

Selain stres, udara yang tercemar seperti oleh timah hitam hasil buangan kendaraan bermotor, sumber radikal bebas. Radikal bebas memicu penyakit degeneratif lantaran mengubah sel-sel dalam tubuh. Bank Dunia mencatat, pencemaran timah hitam menyebabkan 350 kasus penyakit jantung dan 62.000 kasus tekanan darah tinggi dengan jumlah kematian 340 orang per tahun.

Sumber radikal bebas itu dapat dinetralkan dengan konsumsi suplemen kaya antioksidan pengikat elektron bebas dari polutan. Dengan begitu, risiko kerusakan inti sel dan membran sel turun, sedangkan sistem kekebalan tubuh meningkat. Hingga saat ini yang paling laku suplemen preventif, misalnya teh rooibos penjaga tubuh dari serangan virus, melawan radikal bebas, dan merangsang imunitas serta kesehatan hati. Produk lain yang diminati berupa antipenuaan, kata Irnez Hidayat BSc MBA, Direktur PT Nutrend Internasional.

Menurut ahli gizi Prof Dr Ali Khomsan MS, makanan seimbang tetap cara terbaik menjaga tubuh sehat. Namun, ketika kondisi kota terpolusi, suplemen dibutuhkan. Hal serupa disampaikan Yenni Tan. Bahan makanan walau tak berpestisida, banyak juga yang berpengawet dan menggunakan zat pewarna kimia, kata Yenni Tan, manajer penelitian dan pengembangan PT Guardian Hero Supermarket Indonesia, pengelola apotek Guardian. Oleh karena itu agar kesehatan optimal, konsumsi suplemen menjadi pilihan.

Menjamurnya gerai-gerai suplemen kesehatan, indikasi dari maraknya penggunaan pangan tambahan itu. Sekadar menyebut contoh, Century, Guardian, Shop In, dan Health Store Kimia Farma tersebar di seluruh Indonesia. Itu belum termasuk perusahaan multi level marketing (MLM) yang juga gencar menawarkan suplemen. Tahun ini jumlah outlet kami meningkat 45 buah, kata Yenni. Padahal pada 1975, Guardian hanya sebuah toko makanan kesehatan. Kini apotek yang menyediakan beragam suplemen itu beranak-pinak. Pada 2005 tercatat ada 90 gerai; 2006 meningkat 135 cabang.

Lokal melonjak

Kimia Farma, produsen obat kimia raksasa, melirik suplemen herbal. BUMN di bawah Departemen Kesehatan itu membuka gerai Health Store pada Juni 2006. Tren sekarang, dalam menjaga kesehatan orang cenderung bersifat preventif daripada kuratif, kata Sofiarman Tarmizi, direktur Pemasaran PT Kimia Farma. Maksudnya, masyarakat lebih tertarik mencegah serangan penyakit ketimbang mengatasinya. Caranya, ya dengan konsumsi suplemen itu.

Pangsa pasar suplemen memang amat potensial lantaran jumlah penduduk mencapai 210-juta jiwa. Tingkat kesadaran hidup sehat pun kian tumbuh. Merekalah target pasar para produsen suplemen.

Menurut dr Niniek Soedijani, direktur Direktorat Penilaian Obat Tradisional, Suplemen Makanan, dan Kosmetik, Badan Pengawas Makanan dan Obat (POM), hingga Desember 2006 setidaknya 5.851 merek suplemen terdaftar di Badan POM. Rinciannya, 2.346 produk lokal, 3.491 produk impor, dan 14 produk lisensi.

Jumlah itu meningkat 30%, kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga itu. Pada 2003 tercatat 3.742 merek terdiri dari 1.087 produk lokal, 2.653 produk impor, dan dua produk lisensi. Mengapa suplemen produk lokal meningkat pesat? Bahan bakunya lebih mudah dimengerti konsumen, kata Irnez Hidayat.

Tendrop, suplemen pencegah hipertensi, misalnya, berbahan baku seledri, daun dewa, dan pegagan. Ketiga herbal itu berefek hipotensif-penurun tekanan darah-sehingga tanpa penjelasan pun konsumen sudah mengerti. Harga suplemen lokal juga lebih murah ketimbang yang impor. Tak heran, bila Tendrop yang diluncurkan pada Oktober 2006 itu terjual lebih dari 200 kemasan per bulan.

Produk mancanegara turut membanjiri pasar. Salah satu importir suplemen mancanegara adalah PT Vivamerindo Mitra Sejahtera yang mendatangkan suplemen kesehatan asal Amerika Serikat. Menurut Christina P Wulan, manajer operasional Vivamerindo, semua suplemen hasil riset dan uji klinis, yang melibatkan berbagai disiplin ilmu seperti kimia organik, biokimia, fitokimia, dan bioteknologi.

Satu produk minimal menghabiskan US$1-miliar sebelum diluncurkan, katanya. Harga yang ditawarkan pun relatif tinggi. Meski demikian, berbagai produk Vivamerindo tetap diminati pasar karena telah diuji klinis. Uji klinis saja belum cukup. Produsen mesti pintar menyiasati pasar seperti dengan cara penjualan langsung. Menurut Irnez, sistem MLM menekan biaya promosi dan lebih efektif.

Bukan gengsi

Ali Khomsan menuturkan, konsumen harus kritis mengukur kebutuhan suplemen. Kebutuhan vitamin C, misalnya, sebenarnya fluktuatif. Ketika tubuh banyak aktivitas perlu dosis lebih tinggi, tetapi bila aktivitas tidak tinggi, dosis rata-rata cukup 60 mg. Namun, orang sering terbelenggu kebutuhan yang diciptakan sendiri. Kalau ngga minum, merasa tidak afdol, kata doktor Ilmu Home Economics Education alumnus University of Iowa, Amerika Serikat, itu.

Fungsi suplemen kesehatan hanya menunjang kebutuhan gizi yang tak tercukupi dari makanan sehari-hari. Jika sudah sehat tak perlu mengundang risiko dan menghabiskan uang untuk suplemen. Kesehatan ditunjang optimal dari zat gizi makanan yang kita asup sehari-hari. Namun, jika makanan tidak mampu menopang, barulah suplemen yang menjadi makanan, kata dr Niniek Soedijani. Saran wanita kelahiran 14 Februari 1949 itu Mengkonsumsi suplemen jangan dengan alasan mengutamakan gengsi, terbawa mode, atau memenuhi faktor sugesti. (Vina Fitriani/Peliput: Andretta Helmina, Lani Marliani, & Kiki Rizkika)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img