Friday, December 2, 2022

Mereka Calon Idola

Rekomendasi

Senyum mengembang di wajah Solikhin setelah ia menanam varietas MB1 dan MB2.

 

Kedua varietas itu merupakan melon hasil pemuliaan tim peneliti semangka dan melon Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) Tropika di Solok, Sumatera Barat. Melon varietas MB1 merupakan jenis melon berjaring berdaging buah putih kehijauan. Sementara MB2 merupakan melon berjaring berdaging buah jingga.

Solikhin menanam MB1 di lahan seluas 510 m2 dengan populasi 1.000 tanaman. Dari jumlah tanam itu pria berumur 44 tahun itu memanen 1,7 ton melon atau rata-rata 1,7 kg per buah. Solikhin menjual melon MB1 kepada pengepul dengan harga Rp6.000 per kg. Harga itu lebih tinggi ketimbang melon berjaring biasa yang hanya Rp4.500 per kg.

Menurut Solikhin melon MB1 lebih disukai karena tekstur daging buah lebih renyah. Sementara melon daging putih kehijauan yang banyak di pasaran sebagian besar juicy alias berkadar air tinggi. Rasa MB1 juga lebih manis yakni mencapai 12-13o briks, melon berjaring biasa 11-12o briks. Potensi total soluble solid (TSS) alias kadar kemanisannya menyentuh angka 17o briks.

Melon Solok

Solikhin menanam MB2 di lahan 1.020 m2 dengan populasi 2.000 tanaman. Dari jumlah itu ia memanen 3,4 ton melon. Pria kelahiran Banyumas, Jawa Tengah, itu menjual melon MB2 dengan harga Rp9.000-Rp9.500 per kg, lebih tinggi daripada melon berdaging jingga biasa yang hanya Rp7.500 per kg. Melon MB2 disukai karena bertekstur lebih berair ketimbang melon jingga lain yang biasanya bertekstur renyah. Keistimewaan lain, daging buah tebal, 3,7 cm, dan manis hingga 13o briks. Potensi tingkat kemanisan MB2 mencapai 16,5o briks. Melon jingga lain ketebalan daging buah hanya 3,5 cm dan kadar gula 12o briks.

Total jenderal dari panen kali itu ia menuai pendapatan Rp40,8-juta. Bandingkan jika ia menanam melon berjaring daging putih kehijauan dan daging jingga biasa. Dengan asumsi produktivitas sama dan seluruh hasil panen terjual pendapatannya hanya Rp33,15-juta.

Solikhin menanam MB1 dan MB2 pada akhir 2011. Ketika itu ia mendapat 3.000 benih dari tim semangka melon Balitbu Tropika: 1.000 benih MB1 dan 2.000 benih MB2. Solikhin menanam benih itu total di lahan 2.000 m2 dengan jarak tanam 80 cm x 65 cm. “Pertumbuhan melon Balitbu bagus karena relatif toleran penyakit,” katanya.

Menurut Solikhin, kedua jenis melon itu lebih toleran serangan lalat buah. Itu karena pembentukan jaring pada kulit bersamaan dengan bertambahnya ukuran buah. Sedangkan Cucumis melo lain biasanya mengalami pertambahan ukuran terlebih dahulu, baru kemudian pembentukan jaring. Itu mengakibatkan melon rentan terserang penyakit.

Menurut Makful, SP, MSi, anggota tim peneliti yang melahirkan MB1 dan MB2, “Jaring tidak berkorelasi dengan ketahanan penyakit. Jaring lebih berperan pada penampilan dan daya simpan,” katanya. Kedua melon itu siap panen pada umur 65-70 hari. Idealnya melon berjaring hingga 85% permukaan kulit.

Tim peneliti yang terdiri atas Hendri STP, Makful SP MSi, dan Ir Sahlan MSc mempersiapkan MB1 dan MB2 sejak 2005. Mereka menggunakan melon induk dari hasil penelitian partisipatif dengan salah satu perusahaan benih asing. “Ketika itu ada galur yang bagus dan terus dilakukan penyilangan hingga lahirlah kedua varietas itu,” kata Makful. Tim berharap MB1 dan MB2 dapat mengisi pasar melon di Indonesia dan menjadi benih melon unggul dengan harga terjangkau di tingkat pekebun.

Sayang, pekebun yang ingin menanam MB1 dan MB2 masih harus bersabar. Maklum, kedua varietas itu masih dalam tahap persiapan untuk memperoleh predikat varietas unggul nasional. “Kemungkinan Balitbu akan melepas MB1 dan MB2 pada 2014. Sekarang masih dalam tahap uji multilokasi,” tutur Makful.

Aramis

Perusahaan benih di Purwakarta, Jawa Barat, PT East West Seed Indonesia, juga mengembangkan melon baru bernama aramis, berarti manis dalam bahasa Sunda. Tingkat kemanisan buah tanaman kerabat labu itu mencapai 12-14o briks. Menurut manajer produk PT East West Seed, Wakrimin, melon baru itu berasal dari tanaman induk varietas lokal. Bentuk buah aramais cenderung bulat. Aramis tergolong jenis melon berjaring dengan daging buah putih kekuningan. Keistimewaannya tektur daging buah lebih renyah karena berkadar air sedikit. Karena itu aramis lebih tahan simpan hingga 2 pekan setelah petik, melon lain rata-rata tahan 10 hari.

Bobot aramis tergolong jumbo, yakni rata-rata 1,8-3 kg. Umur panen 60-70 hari. Pada musim hujan, melon yang dilepas pada April 2012 itu tahan penyakit daun kresek. Daerah penanaman ideal di dataran rendah sampai dengan 300 m di atas permukaan laut. Potensi hasil mencapai 50-60 ton per ha. Lagi-lagi pekebun mesti bersabar jika ingin menanam aramis. “Saat ini aramis sedang tahap perbanyakan benih,” kata Wakrimin. Ia berharap aramis dapat menjadi solusi bagi petani yang mengeluhkan melon berproduktivitas rendah dan rentan terserang penyakit. (Riefza Vebriansyah)

Melon Parfum

Seandainya perusahaan parfum terkenal seperti Calvin Klein, Bvlgari, dan Kenzo hendak memproduksi parfum beraroma melon, mungkin bisa memesan bahan bakunya ke Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Laboratorium Genetika Fakultas Biologi dan Kebun Pendidikan Penelitian Pengembangan Pertanian (KP4) UGM sukses menghasilkan melon baru: gama melon parfum (GMP). Kata parfum disematkan karena buah kerabat paria itu memiliki aroma melon yang tajam sehingga cocok untuk bahan baku parfum. “GMP juga dapat dimanfaatkan sebagai perisa makanan alami menggantikan perisa sintetis,” ujar Dr Budi Setiadi Daryono MAgr Sc PhD, sang kreator melon  itu.

Yang dimanfaatkan untuk parfum adalah kulit buah. Selain beraroma kuat, kulit buah GMP unik karena bercorak seperti batik. Ukuran buah kecil, hanya berbobot 150-200 g. Rasanya daging buah pahit karena memang bukan untuk konsumsi. Budi menanam GMP pada Juli 2012. Ia dan tim menanam 720 bibit dalam 5 bedeng berukuran 30 m x 1,2 m dengan jarak tanam 50 cm x 50 cm. Lokasi penanaman di KP4 yang terletak di Dusun Tanjungtirto, Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta.

Budi memanen GMP 2 bulan setelah tanam. Dari 720 tanaman alumnus Tokyo University of Agriculture itu memanen 7.200 buah GMP atau rata-rata 10 buah per tanaman. Buah siap panen bila kulit sudah berwarna cokelat kekuningan dan beraroma harum. Panen dilakukan secara bertahap hingga sebulan. “Tanaman melon biasa 2 pekan, lalu tanaman mengering,” ucap Budi.

GMP lahir dari hasil persilangan melon berkode NO3 dan MR5. NO3 mewarisi rasa pahit, aroma wangi kuat, dan berukuran kecil. Sementara MR5 mewariskan sifat kulit berjaring dan rasa manis. Dengan temuan itu Budi berharap GMP dapat menjadi bahan baku parfum alami. “Selama ini Indonesia mengimpor bahan parfum sintetis dari Korea,” ucap pria kelahiran Tasikmalaya itu. Budi belum melepas GMP ke pasaran karena mesti menjalani uji penanaman multilokasi. Petani baru bisa menanam GMP pada 2014. (Riefza Vebriansyah)


Keterangan foto :

  1. MB1, daging buah bertekstur renyah
  2. Lazimnya daging buah melon jingga bertekstur renyah, tapi MB2 malah juicy
  3. Aramis berpotensi hasil 50-60 ton/ha
Previous articleManis Luar, Manis Dalam
Next articleJanji Kalifornia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terluka dan Tidak Bisa Terbang, Petugas Mengevakuasi Burung Rangkong

Trubus.id — Petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara, mengevakuasi burung rangkong yang ditemukan terluka di kawasan konservasi Suaka Margasatwa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img