Thursday, December 8, 2022

Mereka di Jalur yang Sama

Rekomendasi

Sebuah mesin untuk 3 komoditas? Itulah inovasi Sudirman dari Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna (BBP-TTG), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Mesin menggunakan motor penggerak berbahan bakar solar sehingga tak perlu lagi mengayuh pedal sepeda yang menyita energi.

Menurut Dr Aris Purwanto, dosen Departemen Teknik Pertanian IPB, saat ini banyak perontok padi tidak efektif dan efisien. Sebab, alat-alat itu membutuhkan tenaga besar, banyak pencemar, dan lebih banyak bulir padi terbuang. Dampaknya beras bermutu yang dihasilkan oleh petani cenderung minim.

Serbaguna

Mesin perontok serbaguna bikinan LIPI dilengkapi diesel berkapasitas 8 tenaga kuda berbahan bakar solar yang konsumsinya rendah. Modifikasi itu dilakukan agar mesin perontok dapat digunakan di daerah yang tak dialiri listrik atau di tengah sawah. Kecepatan putar motor penggerak diesel mencapai 2.500 rpm atau rotasi per menit. Motor dihubungkan dengan as drum pemutar vertikal melalui puli alias sabuk penghubung yang lebarnya 20 cm. Kecepatan putaran drum pun tereduksi menjadi 800 rpm.

Bahan dasar mesin berupa besi plat dan besi siku panjang. Panjang mesin 1,17 m, lebar 0,5 m, dan tinggi 1,31 m. Mesin terdiri atas 3 bagian utama: drum pemutar atau perontok di bagian teratas, bagian limbah yang pengeluarannya dipacu oleh kipas khusus, dan bagian hasil. Tangkai padi yang dimasukkan ke mesin tidak memiliki spesifikasi khusus. Oleh karena itu petani tidak perlu memotong tangkai hingga dasarnya. Cukup ditebas bagian paling dekat dengan bulirnya saja, ujar Sudirman, kepala program BBP-TTG.

Sisa batang padi berfaedah sebagai pupuk atau pakan ternak. Setelah tangkai padi masuk ke mesin, bagian drum akan berputar sehingga memaksa tangkai-tangkai padi masuk ke bagian dalam mesin. Drum pemutar berdiameter 50 cm terdiri atas beberapa jeruji besi yang membentuk silinder horizontal. Masing-masing jeruji memiliki sirip ke arah bagian dalam drum. Sirip setebal 2 cm itu mencegah bahan lolos sebelum perontokan sempurna. Perputaran itu menghasilkan 2 bahan di bagian kiri mesin, bulir dan tangkai padi.

Bulir padi turun ke bagian paling bawah atau bagian hasil. Sedangkan tangkai padi akan mengumpul di bagian kedua. Lalu kipas memberikan embusan berkecepatan tinggi sehingga tangkai padi terdorong ke mesin bagian kanan. Dengan mesin itu, petani hanya membutuhkan 1 tenaga kerja untuk merontokkan padi 4-5 ton hasil panen dari 1 ha lahan. Waktu yang dihabiskan hanya 1 hari. Mesin dapat merontokkan 800 kg padi/jam. Bandingkan bila ia menggunakan mesin berpedal, membutuhkan 5 hari kerja dan 5 tenaga kerja.

Tak istirahat

Mesin perontok BBP-TTG dapat dioperasikan terus-menerus selama 8 jam menghabiskan 5 liter solar. Setelah itu harus dimatikan dan satu jam kemudian dapat dipakai kembali. Walaupun dilengkapi pendingin, tetap saja motor penggerak diesel harus istirahat, ujar lulusan National University of Singapore. Kulitas mesin sangat tinggi sehingga tidak cepat rusak.

Selain padi, mesin itu juga digunakan untuk memipil jagung dan kedelai. Kapasitasnya masing-masing 600 kg/jam dan 400 kg/jam. Tongkol jagung kering tanpa kelobot dimasukkan ke mesin. Begitu keluar muncul bulir jagung dan bonggol di tempat lain. Pemipilan jagung sangat tergantung dari gesekan buah terhadap sirip pada drum pemutar. Kedelai dirontokkan dengan kapasitas lebih kecil karena pelepasan kulit ari membutuhkan waktu putaran yang sangat lama.

Selama ini investasi petani untuk mesin perontok sangat tinggi. Sebab, untuk setiap komoditas, berbeda mesinnya. Harga masing-masing mesin perontok untuk setiap komoditas mencapai Rp10-juta. Padahal mesin-mesin itu digunakan hanya pada musim panen. Jika tidak digunakan, mesin dikandangkan, kata Indarwin, kepala bagian pemasaran BBP-TTG. Itu menyebabkan mesin perontok cepat rusak dan berkarat. Sebaliknya, mesin serbaguna bikinan LIPI itu dapat dioperasikan berkesinambungan pada setiap musim panen padi, jagung, dan kedelai. Harga sebuah mesin Rp9,5-juta. Produktivitas petani jauh lebih tinggi dibandingkan bila menggunakan mesin perontok biasa. (Vina Fitriani)

 

Previous articleUlar Palsu
Next articleBatu Luruh Karena Laurat?
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img